
Dari dalam yayasan keluar ibu panti, dan seorang perempuan cantik. Dan langsung tatapan matanya tertuju pada Asifa dan yang lainnya. Kemudian tatapan mata itu berhenti pada Candra. Yang tidak lain tangan kanan Andik, bukan pada Fahmi.
Fahmi sengaja membeli baju cupple, kalau ada acara apa pun. Maka Fahmi minta Asifa sang pujaan hatinya, memakai baju yang sama. Sehingga Asifa atau dirinya tidak akan di lirik orang lain.
Tapi dia juga tidak ingin kehilangan orang yang ia cintai untuk yang kedua kalinya. Tidak perduli dengan ejekan dari Taufiq, Andik dan tangan kanan nya. Kalau dirinya bucin akut, itu ia berdasarkan rasa trauma di masa lalu.
"Eh, ada tamu ya. Mari masuk pak, bu, monggo silahkan duduk." Ucap ibu ketua yayasan.
"Kania tolong buat kan minuman untuk tamu kita ya."Perintah ketua panti, yang bernama Wartini.
"Baik bunda." Kemudian ia berjalan menuju dapur, untuk menyiapkan apa yang di perintahkan ketua panti atau ibu panti.
Para pengawal membawa barang-barang masuk ke ruangan yang kosong. Yang sebelah ruangan tempat duduk para tamu, panti yang mana masih satu ruangan yaitu ruang tamu.
Barang tersebut terdiri dari Alat-alat tulis, lengkap dengan seragam sekolah dan sepatu tasnya. Sesuai dengan ukuran yang sudah di dapat datanya dari ibu panti. Perlengkapan sholat, laki-laki mau pun perempuan. Baju sehari-hari, ukuran sesuai data.
Kemudian bahan pangan, dari mulai beras 20 karung, ukuran 20, minyak 24 botol isi 2 liter, mie instan 12 kardus terdapat tiga rasa, telur 2 peti, gula pasir kemasan 1 kg 1 kardus, teh celup yang kotak satu kardus. Susu bayi 12 kardus ukuran yang besar. Susu balita 12 kardus ukuran besar. Susu anak di atas 5 tahun 12 kardus ukuran besar. Susu kaleng beberapa pack, ada dua rasa yaitu coklat dan putih. Ini semua di bawa menggunakan mobil bok dari toko langsung. Yang di kawal satu mobil pengawal.
Tidak lupa di mobil pribadi, yang di gunakan untuk membawa perlengkapan sholat dan sekolah seta hari-hari. Sudah ada snack, dan susu kotak sekali minum. untuk di bagikan pada anak-anak langsung kecuali bayi. Dan amplop, berisi uang saku untuk jajan anak-anak.
Sebelum itu Asifa menyerang bantuan tersebut pada ibu panti. Yang berbatas nama bu Gina Elisa Dinata. Dan menyerahkan paper bag berisi amplop coklat. Yang di dalamnya adalah uang tunai untuk yayasan panti asuhan yatim piatu. Guna untuk kebutuhan sehari-hari, dan biaya pendidikan. Amplop tersebut tidak kurang dari 200 jt.
__ADS_1
Dan Asifa tujuannya tidak hanya satu tempat hari ini. Asifa mendatangi pesantren juga yang memang sedang membutuhkan donatur. Untuk membangun pondok pesantren salaf dan pondok pesantren Yatim-piatu.
Bahkan Asifa memberikan amplop coklat yang ukurannya lebih kecil. Isinya tidak lebih dari 20 juta, dan mendaftar sebagai donatur tetap di panti, yayasan, mau pun pondok. Untuk itu dia juga berniat datang sebulan sekali, jika tidak ada halangan. kalau tidak nanti perwakilan atau transfer saja, ke rekening panti, yayasan dan pondok pesantren Yatim-piatu.
"Anak-anak yang semangat ya belajar nya. Jangan pernah menyerah, di saat malas ingat tante Asifa. Pasti kalian akan semangat, apa lagi mengingat saat main begini."Kata Asifa menasehati anak-anak.
"Iya tante," kompak lalu mereka main bersama nyanyi, bersholawat bersama. Terlihat Asifa tertawa lepas, bersama anak-anak ia bisa melupakan semua masalah.
Fahmi diam-diam mengabadikan momen tersebut, dengan ponsel miliknya. Ia tersenyum melihat hasil jepretan nya, karena Asifa terlihat manis saat tertawa lepas bersama anak-anak.
"Ya Allah, sungguh indahnya ciptaan mu, bahkan dek Zahra terlihat lebih cantik. Saat bersama anak-anak itu, dek Zahra terlihat bahagia. Sederhana sekali, jika ingin melihat nya bahagia. Di mana perempuan lain, bahagia dengan cara jalan-jalan ke mall dan tempat hiburan yang lain. Menghabiskan uang, hanya untuk kepentingan pribadi. Yang ingin memiliki ini dan itu, supaya bisa di pameran kan pada teman-temannya."
"Tapi dek Zahra malah menghabiskan uangnya bersama anak-anak panti. Kalau pun mencari hiburan, malah pergi ke suatu tempat. Sebuah taman yang hijau dan sepi dari keramaian. Sungguh aku sangat mendambakan sosok mu perempuan sederhana Dan sholehah."Fahmi berkata dalam hatinya.
"Asifa selalu begitu jika, sedang banyak pikiran. Maka dia akan minta di antar ke panti asuhan dari pada ke mall. Setelah itu ia akan minta ke taman, di sana dia hanya ingin menyendiri beberapa saat. Tidak akan mau jika diajak ke tempat hiburan seperti pantai yang banyak pengunjung. Tapi kalau di pantai itu sepi dia akan duduk di sana. Dia hanya akan main pasir layaknya anak kecil, dengan begitu bisa melihat dia bahagia. Sangat sederhana memang, tingkah polah Asifa itu hampir sama dengan Sifana."Cerita Andik pada Taufiq dan Fahmi.
Taufiq pun, baru-baru ini bersama Asifa, semenjak mereka sering bersama. Namun mengenai Asifa senang di pantai yang sepi.
"Kalau di Jakarta dulu sering ke pantai Ancol.
Pantai Ancol banyak pilihan wahana, dan pantai nya. Nah Asifa pasti anak memilih yang sepi, sehingga merenung di sana. Sebenarnya dia memiliki banyak impian namun semua itu terkubur. Ketika hidup bersama Ardi, yang memang tidak ingin Asifa kelelahan. Tapi dengan begitu Asifa jadi terkekang, makanya ketika lepas dari Ardi. Ada sedih dan senang nya, cuma Asifa butuh waktu untuk lupakan semua kenangan bersama Ardi. Di tambah lagi, tentang dirinya yang sulit memiliki keturunan. Hal itu yang membuat Asifa down, sehingga depresi."Lanjut Andik.
__ADS_1
"Apa kakak tau apa impian dek Zahra?"tanya Fahmi pada Andik.
"Untuk pastinya, saya tidak tahu. Kamu tanya kan saja nanti saat sudah bersama tepatnya sudah nikah. Agar lebih mudah dan yang menanyakan nya, kalau sekarang takut nya dia masih sensitif. Kamu tahu sendiri Asifa masih labil, dengan suasana ini."Jawab Andik.
"Iya kak, saya akan menanyakan nanti saja. Karena itu juga memang harus di tanyakan dari hati ke hati. Saya hanya ingin selalu melihat dek Zahra tersenyum bahagia seperti sekarang ini."Kata Fahmi jujur dari dalam hati yang paling dalam.
Kemudian Fahmi menghampiri Asifa dan mengajak nya untuk ke suatu tempat. Karena ia masih ingin melihat orang yang sangat di cintai nya tersenyum bahagia.
"Dek Zahra, sudah mau sore. Yuk kita menuju ke tempat yang lain."Ajak Fahmi pada Asifa.
Anak-anak menoleh pada Fahmi, mendengar panggilan Fahmi. Membuat mereka bingung, yang di antara nya tidak ada yang bernama Zahra.
Asifa melihat kebingungan anak-anak pun tersenyum. Kemudian ia menjawab ajakan Fahmi, sekaligus menjawab kebingungan mereka.
"Iya mas, sebentar ya Zahra pamit dulu."kata Asifa, di jawab dengan anggukan oleh Fahmi.
"Anak-anak tante pulang dulu ya. Insya Allah bulan depan tante ke sini lagi." Pamit Asifa dengan senyum manisnya, pada anak-anak.
"Iya tante,"kompak mereka.
"Tante Asifa, kenapa Om nya panggil nama Zahra?"tanya salah satu dari mereka.
__ADS_1
"Iya sayang, itu masih .....
*****Bersambung...