
"Oh ya kenalkan, saya Yosi chandraningtyas. Teman kerja pak Taufiq Hidayat dan Mohammad Fahmi Ramadhan di Universitas xxx Islam Yogyakarta." Kata Yosi dengan lantang dan menyebutkan nama lengkap setiap orang yang sebut.
"Oh begitu, senang bisa kenal orang yang cantik seperti anda. Oh ya nama Yosi itu bukan kah nama dari Jepang ya?"tanya Asifa.
"Benar nona, mami ada turunan Jepang, kalau papi tentu Indonesia. Berasal dari Jawa, mereka berjumpa bang saat kuliah."Cerita Yosi tentang keluarganya.
"Oh pantas ya nona cantik seperti orang Jepang, ternyata masi ada darah dara Jepang nya."Kata Asifa mereka terlihat akrab.
Asifa memang mudah akrab, begitu pula dengan Yosi. Yosi sebenarnya orang nya baik, namun ia orang yang pantang mundur. Untuk mendapatkan apa yang di inginkan, seperti ingin tahu tentang Fahmi dan Taufiq.
Dia rela mengikuti sampai ke rumah sakit, bahkan sempat bingung. Saat Taufiq bilang pasien fans nya. Ternyata Asifa orang yang lagi viral dalam sosmed dan televisi.
Sampai dia ternganga saat melihat dan mendengar perhatian Fahmi pada Asifa. Apa lagi dengan panggilan yang berbeda dengan yang lainnya
"Dek Zahra ini saya bawa makanan favorit mu, mau makan sekarang atau tidak?"tanya Fahmi, sambil mengulurkan makanan di tangannya.
"Wah terima kasih ya mas, ini baru mantan jadi lapar lagi. Padahal baru makan makanan rumah sakit."Ucap Asifa.
"Jadi mau makan sekarang?"Asifa mengangguk, sudah seperti terhipnotis dengan perhatian duren.
"Baiklah akan saya siapkan untuk mu dek." Dengan cekatan Fahmi menyiapkan makanan untuk Asifa. Makanan yang di siapkan oleh Fahmi, aromanya memenuhi ruangan.
Yosi langsung menutup hidung karena tidak tahan dengan baunya. Asifa melihat yang menutup hidung langsung sadar. Bahwa apa yang ingin dia makan mengganggu tamunya.
"Maaf ya mba Yosi, kalau makanan kesukaan ku mengganggu pernafasan mba."Kata Asifa dengan merasa bersalah.
"Hehehe, tidak sampai sesak di nona. Tapi memang saya tidak suka dengan aromanya. Demi kenyamanan nona yang akan makan, lebih baik saya pulang. Tapi kapan-kapan saya boleh kan bertemu lagi dengan nona Asifa?"tanya Yosi dengan ragu, takut di tolak oleh Asifa.
"Ya boleh, tapi konfirmasi dulu dengan kak Taufiq ya mba."Jawab Asifa.
"Baiklah nona saya permisi ya assalamualaikum,"Ucapnya dan langsung pergi dari ruangan Asifa.
Wa'alaikumsalam,"jawab semua orang yang di dalam ruangan. Menatap kepergian nya Yosi teman kerja Taufiq dan Fahmi.
Andik membuka pintu untuk Yosi, lalu mengikuti keluar.
"Nona Yosi,"panggil Andik.
"Ya,"Yosi menoleh ke Andik, dan langsung menunduk ketika melihat tatapan mata Andik yang mengerikan.
"Saya harap anda, bisa jadi rahasia nyonya muda kami. Dan tidak menyebar luas, di mana pun anda berada. Jika apa yang anda ketahui tentang nyonya muda kami. Anda akan tahu akibat nya, karena saya sendiri yang akan mencari anda."Andik memberi ancaman, agar Yosi tidak membuat berita terbaru tentang nyonya mudanya.
__ADS_1
"Ba baik tuan. Saya akan jaga rahasia, lagian saya juga nyaman kok nona Asifa."Kata Yosi dengan gagap.
"Baik, nyonya muda memang baik, tapi saya harap anda tidak memanfaatkan kebaikan nyonya muda. Silahkan nona,"kata Andik memberi jalan Yosi untuk pergi.
"Iya tuan," lalu balik badan, sambil melangkah "Ganteng sih, tapi mukanya serem." Gumamnya lirih.
"Saya dengar nona."Sahut Andik, karena mendengar makian Yosi.
"Ma maaf," ucap Yosi langsung berlari menuju lift. Karena takut di tangkap, oleh Andik yang akan berjalan ke arahnya.
"Memang muka saya serem ya Pur?"tanya Andik pada Purnomo.
"Memang mas, kalau tugas anda serem."Jawab Purnomo jujur sesuai yang ia lihat.
"Berarti kalau lagi lepas tugas ganteng dan manis."kata andik dengan pede, karena mendengar ucapan Purnomo.
Kembali ke ruangan Asifa.
Makanan siap untuk di makan, Asifa merasa terenyuh kan perhatian Fahmi. Bu Hafsah maju dan bertanya pada Asifa.
"Sayang apa mau mama suapin atau makan sendiri?"tanya bu Hafsah.
"Asifa coba makan sendiri dulu ma,"jawab Asifa dengan ragu, sebab tangannya masih sedikit sakit bekas infus.
"Nak Fahmi terima kasih sudah merepotkan."
Ucap pak Herman.
"Tidak ada yang repot pak, saya senang bisa ikut ke rumah sakit." Dengan malu-malu.
Gerak gerik Asifa tidak luput dari perhatian Fahmi, yang dari tadi terlihat kesulitan. Pak Herman dan bu Hafsah mengikuti arah pandang Fahmi. Pada akhirnya mereka tahu jika Asifa kesulitan.
"Sayang apa yang susah?"tanya bu Hafsah.
"Hehehe, ini ma, aku susah potong ayam goreng nya."Jawab Asifa.
"Sini mama bantu,"Kata bu Hafsah, lalu memotong ayam goreng milik Asifa. Sehingga Asifa mudah untuk makan, sebab tangannya yang masih sakit karena bekas infus.
Setelah makan bu Hafsah dan pak Herman, menyiapkan barang-barang Asifa. Karena sebentar lagi akan pulang, sesuai jadwal jam 14:00 ini.
Taufiq keluar dari ruangan Asifa, untuk memberitahu Andik. Jika Asifa akan segera pulang, agar Andik menyiapkan mobil untuk Asifa.
__ADS_1
"Baik tuan," lalu menoleh pada Purnomo "Pur tolong siapkan mobil untuk nyonya muda."Perintah Andik pada bawahannya.
"Baik tuan." Langsung saja jalan menuju parkiran. Karena harus menyiapkan mobil untuk ke lobby rumah sakit.
Sedangkan Andik sendiri berjalan menuju resepsionis untuk mengatakan bahwa nyonya mudanya.
Lalu seorang perawat membawa kunci roda mengikuti dokter berjalan menuju ruangan VVIP. Yang mana tempat Asifa di rawat, Andik membuka pintu untuk dokter.
"Assalamualaikum,"ucap dokter dan perawat secara bersamaan.
"Wa'alaikumsalam," jawab di dalam ruangan Asifa.
"Nona sudah semangat ya kalau mau pulang?"tanya dokter.
"Iya dok, saya sudah tidak betah di sini. Terasa bosan sekali di sini, pengen cepat sampai rumah."Jawab Asifa dengan wajah malu-malu.
"Alhamdulillah, itu artinya nona Asifa sudah sehat. Karena jika masih kurang semangat, berarti nona belum sehat. Saran saya nona jangan banyak pikiran, semoga cepat sembuh total ya nona."Ucap dokter cantik tersebut.
"Aamiin....,"jawab yang ada di dalam ruangan.
Lalu perawat memotong gelang nama pasien di lengan Asifa. Setelah itu Asifa turun dari branker, lalu duduk di kursi roda. Ada dua pengawal yang masuk, mereka yang akan membawa barang Asifa, pak Herman dan bu Hafsah.
Asifa di dorong menuju lobby oleh perawat dan Andik dan bawahnya berjalan lebih dulu.
Setelah sampai di lobby dua pengawal ikut motor Taufiq dan Fahmi.
Karena mobil Andik, Purnomo dan keluarga Hermansyah. Sementara Taufiq dan Fahmi, mereka lah yang di bonceng. Karena para mengawal yang meminta mereka yang menyetir motor.
Beberapa menit kemudian mereka sampai di depan rumah Asifa. Andik turun lebih dulu, dan membuat pintu untuk Asifa. Didik membuka pintu mobil untuk sebelah kanan. Yaitu untuk pak Herman, lalu di ikuti bu Hafsah.
"Andik terima kasih ya, atas kerja sama kalian. Terima kasih kamu sudah menjaga dan melindungi saya selama ini."Ucap Asifa.
"Sudah jadi tugas kami nyonya muda, justru kami sedih tidak bisa bersama nyonya muda lagi."Ucap Andik, dengan raut wajah sedihnya.
"Maaf ya, kalau hal ini membuat mu bersedih. Tapi kalian tidak di pecat kan sama ayah. Pasti nanti kalian akan di tugaskan untuk menjaga dan melindungi nyonya muda baru kalian. Karena saya sudah bukan nyonya muda Dinata lagi. Saya harap kalian memaklumi keputusan saya."Ucap Asifa.
"Kami memang tidak kehilangan kerjaan nyonya muda. Tapi kami kehilangan nyonya muda, karena bagi kami susah mendapatkan majikan seperti nyonya muda." Andik menyampaikan unek-unek nya.
"Baiklah nyonya muda, semoga mendapatkan kehidupan baru. Dan membawa kebahagiaan dan keberkahan untuk masa depan nyonya muda."Lanjut anda dan di angguki oleh yang lain.
"Aamiin..., terima kasih atas doanya."Ucap Asifa, yang lain pun ikut mengaminkan.
__ADS_1
*****Bersambung.....