APAKAH SALAH JANDA

APAKAH SALAH JANDA
50.Dokter Miranti


__ADS_3

"Ini nak, ibu mau tanya tentang keinginan mu, untuk meminang nak Asifa. Apakah kamu sungguh-sungguh ingin dirinya menjadi pendamping mu. Sementara kabar yang beredar tentang Asifa, bahwa dia itu mandul.


Kamu juga kan masih muda, apakah kamu tidak ingin memiliki keturunan?"tanya bu Fatimah yang merasa khawatir, suatu hari nanti anaknya menyesal.


"Insya Allah Fahmi yakin bu. Kalau masalah berita itu salah bu. Karena menurut cerita mas Taufiq, bukan mandul tapi sulit untuk mendapatkan keturunan. Lagian Fahmi juga belum tentu sempurna bu."Jawab Fahmi.


"Apa yang membuat mu berpikir, jika dirimu juga memiliki kekurangan nak?"tanya bu Fatimah.


"Coba ibu ingat-ingat dulu Fahmi menikahi Lasmi, selama 7 bulan. Belum juga dia hamil dan dia malah selingkuh di belakang ku. Dan baru menikah dua bulan dengan suaminya sekarang, dia sudah hamil. Makanya Fahmi berpikir positif saja. Dan untuk Zahra, Fahmi akan menerima apa adanya bu. Jika suatu hari nanti saya dan Zahra memiliki keturunan. Itu sebuah mukjizat yang Allah berikan, jika tidak, maka tidak masalah. Itu artinya kami ini di berikan, kesempatan untuk membantu membesarkan anak orang, yang ada di panti bu."Jawab Fahmi panjang lebar.


"Ya sudah jika itu keputusan mu, ibu akan merestui pernikahan mu dengan Asifa. Tapi apa Asifa sudah tahu, bahwa kamu memiliki perasaan padanya?"tanya bu Fatimah.


"Kalau dia tidak tahu bu, tapi ku rasa pak Herman dan mas Taufiq tahu. Secara Fahmi pernah tanya tentang Zahra padanya. Bahkan tadi pagi, saya mengutarakan keinginan Fahmi pada mas Taufiq. Makanya tadi sore kedatangan keluarga Dinata, mas Taufiq meminta saya datang. Ikut makan malam dan memberikan perhatian pada Zahra di depan keluarga Dinata."Cerita Fahmi pada ibunya.


"Oh, apa pak Herman juga terbuka dengan mu?"tanya bu Fatimah yang penasaran terhadap keluarga Hermansyah.


"Pak Herman orangnya baik bu, bahkan dari masih di Jakarta pak Herman sudah terbuka. Terlebih sekarang, pada dasarnya pak Herman sama bu dengan kita. Yang di lihat bukan punya apanya, tapi bagaimana sikap dan perilaku nya."Jawab Fahmi.


"Bu Fahmi ngantuk besok lagi ya kita ngobrol nya, kalau ibu sudah datang ke sini. Akan lebih mudah untuk kita ngobrol, ibu juga harus istirahat. Ini sudah jam 12 malam, sudah dulu ya."Ujar Fahmi.


"Baiklah nak, kamu istirahat ya, pasti lelah. Assalamualaikum,"ucap bu Fatimah.


"Ya bu, wa'alaikumsalam,"jawab Fahmi langsung mematikan ponselnya. Kemudian ponsel di letakkan di atas meja, langsung berbaring kan tubuhnya.


"Aduh tidak sabar rasanya, menunggu dek Zahra selesai masa Iddah nya. Semoga Allah mudahkan urusan ku, untuk menghalalkan mu Asifa Az Zahra."Gumamnya kemudian ia membaca dua dan tidur.


...****************...

__ADS_1


Di rumah sakit.


Setelah kepergiannya Asifa, Fahmi dan Taufiq. Haris dan Ardi masih duduk di kursi tunggu, menunggu hasil pemeriksaan obat yang di minum bu Gina.


Tidak ada yang berbicara satu sama lain, karena larut dalam pikirannya masing-masing.


Tak lama dokter Stevani datang, dan menjelaskan pada Ardi dan Haris.


"Begitu tuan, apakah anda tahu bahwa dokter Miranti itu. Dokter spesialis kanker, dan barusan saya menghubungi langsung dokter yang bersangkutan. Dan saya katakan bahwa saya sedang menangani pasien nya. Beliau mengakui bahwa pasien mengidap kanker otak stadium 4. Bahkan pasien sudah tidak ada harapan lagi untuk sembuh. Beliau hanya menunggu waktu saja, dan ingin bertemu dengan Asifa menantunya. Dan saya di minta untuk membawa pasien pindah ke Jakarta sekarang. Apakah anda....." langsung di potong Ardi.


"Baik dokter saya setuju, karena itu juga yang akan saya ajukan pada dokter. Karena ayah to juga sudah menunggu di rumah sakit xxx Jakarta."Ujar Ardi.


"Baik tuan saya akan siapkan semua, dan saya yang akan mengawal pasien sampai di Jakarta. Saya permisi dulu tuan," nya dan Han di angguki oleh Ardi.


Setengah jam kemudian mereka sudah siap untuk berangkat ke Jakarta. Tepat jam setengah dua belas, mereka berangkat.


Selama di perjalanan mobil pengawal di depan satu dan mobil polisi satu. Mobil pengawal yang membawa Haris di belakang ambulans.


Ya untuk memudahkan perjalanan, Haris meminta pihak kepolisian untuk mengawal mereka. Dua mobil polisi satu di depan dan satu di belakang.


...****************...


Pagi hari pak Arya dan dokter Miranti sudah menunggu kedatangan bu Gina.


Tepat pukul 8:30 bu Gina sampai di rumah sakit xxx Jakarta.


Pak Arya sedikit bingung akan ke hadiran pak Gunawarman dan putrinya mendampingi dokter Miranti. Namun ia tak mau tahu dengan urusan orang, karena dirinya sedang menunggu perempuan yang sangat ia cintai.

__ADS_1


Hal yang membuatnya penasaran kini terjawab, dan ternyata dokter Miranti ada dokter yang menangani istrinya.


Ardi yang melihat ayah dalam kebingungan, ia pun langsung berhambur dalam pelukan ayah. Menangis bahkan sangat pilu, ia tak perduli dengan pandangan orang terhadap dirinya.


Pak Arya menatap Haris yang berdiri tak jauh darinya. Haris juga tampak sedih, dan lelah nya. Bahkan tidak ada yang tidur Haris dan Ardi pengawal secara bergantian mereka tidur.


"Sabar dan kuatkan diri nak Ardi, jangan perlihatkan kelemahan mu di depan ibu mu." Ucap pak Gunawarman, sambil mengusap punggung belakang Ardi.


Lalu Ardi mengangkat kepalanya dan menoleh pada orang yang berbicara padanya. Dan mencerna setiap ucapan pak Gunawarman, bahwa dirinya harus kuat.


"Yah ibu sakit kanker otak stadium 4, tapi ibu menyembunyikan itu dari kita yah."Kata Ardi.


Pak Arya langsung merosot ke lantai, ia tidak menyangka jika perempuan yang sangat ia cintai. Mengalami penyakit ini, bahkan menghadapi nya sen diri. Kini dirinya merasa gagal menjadi suami yang baik.


Bahkan apa yang di lakukan istrinya kemarin, membuat dirinya membentaknya. Bahkan ketika melihat istrinya menangis pilu di sofa, memang dada dan kepala. Dirinya tidak menghiraukan bahkan malah ia tinggal ke rumah sakit.


Keinginannya hanya ingin bertemu putrinya, yaitu Asifa. Sampai melakukan segala cara untuk bertemu dengan putrinya.


Walau bukan putrinya kandung, tapi dia begitu menyayangi Asifa melebihi anak kandungnya.


Kini dia teringat kembali ucapan istrinya satu bulan lalu. Ketika pulang dari rumah pak Herman sahabat sekaligus besannya.


"Pak Arya, ini atas permintaan istri anda, sehingga istri saya juga harus menutupinya. Bahkan istrinya meminta jika ini terjadi maka meminta kita kumpul. Tapi untuk apa saya juga belum tahu, karena istri saya baru tadi menyampaikan perihal ini."Ujar pak Gunawarman.


Ardi yang mendengar ucapan pak Gunawarman pun, menatap sekitar dan berhenti pada sosok perempuan cantik.


Iya mengingat siapa perempuan yang di hadapan ini. Ardi lupa jika perempuan itu adalah Salsabila Gunawarman. Teman SMP Asifa, yang sering bersendagurau dengan Asifa dan Diana Pratiwi.

__ADS_1


*****Bersambung....


__ADS_2