APAKAH SALAH JANDA

APAKAH SALAH JANDA
58.Pesan bu Gina


__ADS_3

"Assalamualaikum,"Asifa masuk rumah.


"Wa'alaikumsalam sayang,"jawab pak Herman yang duduk di sofa.


"Pa, aku ke dapur dulu ya mau simpan belanjaan."Ujar Asifa.


"Iya, setelah itu kamu kesini lagi ya, papa ingin bicara."Ujar pak Herman pada putrinya.


"Baik pa, sebentar ya."Asifa langsung berjalan ke dapur.


Asifa sudah sampai dapur langsung meletakkan di dekat wastafel. Mengeluarkan sayuran, tempe, ikan, kelapa parut, bumbu dapur,bawang, dan cabe.


Asifa mencuci ikan, setelah itu ia simpan di kulkas, tempe juga masuk kulkas. Selesai kemudian ke depan untuk menemui papanya. Dengan membaca air putih segelas, untuknya minum sambil berbicara dengan papanya.


Sampai di ruang tamu Asifa memilih duduk di sebelah papanya.


"Papa mau bicara apa?"tanya Asifa.


"Tadi apa yang kamu obrolkan dengan Erna?"tanya pak Herman.


"Biasalah pa, kalau ketemu sama dia tidak ada yang namanya obrolan. Yang ada perdebatan yang tidak ada ujungnya."Kata Asifa dengan santai.


"Tapi apa yang dia katakan pada mu? apa dia menyakitimu dengan mulut cabe nya itu?"tanya pak Herman.


"Iya, tapi aku tidak apa-apa pa."Kata Asifa dengan santai dan senyum manis.


"Yakin tidak apa-apa?" pak Herman menatap putrinya dengan intens. Dan Asifa hanya mengangguk, sebagai jawaban Asifa.


...****************...

__ADS_1


Hari demi hari telah berganti, kini Asifa dan kedua orang tuanya. Di minta hadir, di acara pernikahan Ardi atas permintaan pak Arya.


Yang sesungguhnya atas permintaan bu Gina. Karena kemarin bu Gina, sudah sadar dari masa kritisnya. Senang saat pak Arya akan menuruti permintaannya.


Kini Salsa tampak cantik dan anggun, dengan kebaya modern. Terlihat sederhana, namun elegan, serasi dengan apa yang di kenakan Ardi. Yang mereka memakai kebaya dan jas warna putih.


Asifa datang bersama kedua orang tuanya, langsung masuk ke ruangan VVIP. Di mana bu Gina di rawat, tidak dapat di pungkiri. Bahwa Ardi tidak dapat mengalihkan tatapannya pada Asifa, mantan istrinya.


Bu Gina dengan suara lemah, memang Asifa.


Meminta maaf atas dirinya, yang minta Asifa untuk hadiri pernikahan putranya.


"Sayang ibu meminta maaf, karena meminta kamu hadir di pernikahan Ardi. Maaf jika ini menambah luka di hatimu. Ibu hanya ingin berbagi rasa bahagia, dengan mu. Karena ibu sudah menganggap kamu putri ibu. Anggap ini permintaan ibu yang terakhir. Kali ini ibu sudah tidak aku mencari dan mengganggu waktu dan kehidupan mu."Kata panjang lebar, pada putri sekaligus menantunya itu.


"Saya sudah memaafkan semua atas kesalahan yang di sengaja atau tidak di sengaja. Ibu juga jaga bicara, jangan bicara sesuatu yang belum kita ketahui kedepannya." Asifa tidak ingin bu Gina berbicara melantun.


"Aamiin," jawab Asifa, kedua orang tuanya, pak Arya dan pak Surya.


Salsa dan Ardi hanya diam, karena mereka sama-sama di posisi serba salah. Ardi tidak bisa berkata apa-apa, saat berhadapan dengan mantan istrinya. Setelah mendengar ucapan Asifa beberapa hari lalu.


Sedangkan Salsa merasa Asifa seperti orang asing. Padahal dulu mereka sangat akrab, saat masih duduk di bangku SMP. Sekarang seperti ada kaca pemisah, bisa melihat tapi tak bisa bicara.


Salsa tidak dapat berbicara dengan Asifa, ketika melihat raut wajah Asifa yang datar tanpa ekspresi. Tapi Asifa bisa berbicara dengan lembut, pada bu Gina. Meskipun raut wajah datar tanpa ekspresi itu masih terlihat.


Setelah Bu Gina berbicara dengan Asifa putri dan menantu kesayangan. Kini bu Gina beralih pada Salsa, meminta mendekat dan berada di samping kirinya.


Salsa mendekat setelah menatap kedua orang tuanya dan juga calon suaminya.


"Salsa ibu minta maaf, jika permintaan ibu membuat mu terpaksa menerima dan perjodohan ini. Karena ibu ingin Ardi bisa meneruskan masa depannya. Supaya tidak larut dalam masa lalunya. Ibu harap apa pun yang akan terjadi di rumah tangga kalian nanti. Kalian tetap bersama, dengan Ardi dan mempertahankan rumah tangga kalian."kata bu Gina pada calon menantunya itu.

__ADS_1


"Insya Allah bu, saya akan belajar menerima dan menjalankan amanah dari ibu semampu saya."Kata Salsa pada calon mertuanya.


"Mas Arya, Ardi,"panggil bu Gina, pada suaminya dan putra semata wayangnya.


Pak Arya dan Ardi mendekat pada bu Gina, tepat di posisi kanan Asifa. Pak Arya di samping Asifa, Ardi berada di samping ayahnya. Ardi juga masih menjaga jarak dengan calon istrinya. Begitu juga dengan mantan istrinya, saat ini dia harus jaga jarak.


Melihat ruang sempit, Asifa mundur untuk memberikan ruang pak Arya.


"Mas saya minta maaf, jika selama ini sering membuat mu sakit hati dan kecewakan mu."Ucap bu Gina.


"Tidak sayang, kamu tidak pernah salah. Karena selama ini saya yang tidak pernah peka padamu. Tidak bisa menjaga dan dan melindungi mu dengan baik. Selalu sibuk dengan pekerjaan dan tidak bisa memperhatikan mu. Saya minta maaf, karena sudah menjadi suami dan ayah yang egois.


Maafkan saya...,"pak Arya langsung memeluk istrinya, yang tengah terbaring lemah. Dan mencium tangan, lalu kening juga kedua pipinya. Tidak perduli dengan tatapan mata yang ada di ruangan tersebut.


Karena di ruangan tersebut tidak hanya besan dan calon besan saja. Ada dokter, perawat, dan juga penghulu yang sudah datang dari tadi. Bersamaan dengan kedatangan Asifa dan keluarganya.


Setelah pak Arya tenang, dan melepaskan pelukannya, bu Gina berperan.


"Saya maafkan mas, saya bisa maklumi mas orang yang sibuk. Kesibukan mas untuk keluarga kita, jadi mas jangan pernah menyalahkan diri sendiri. Saya harap mas bisa lapang dada, menerima ketentuan yang maha kuasa. Saya tidak ingin pergi dengan tenang, dan tidak ada lagi yang menyalahkan siapa pun. Saya hanya ingin ada perdamaian dengan keluarga Hermansyah. Tetap sayangi Asifa sebagai putri kita, dan sayangi Salsa juga sebagai menantu kita." Kata bu Gina panjang lebar, dengan santai tanpa air mata.


"Insya Allah sayang, mas akan memenuhi permintaan mu semampu saya." Ujar pak Arya, sambil mengusap kepala bu Gina dan mencium keningnya kembali.


Ardi langsung bergeser, setelah ayahnya mundur dua langkah.


"Sayang ibu tahu ini berat untuk mu, tapi ibu yakin suatu saat nanti kamu akan bahagia. Karena kalian sama-sama pernah merasakan yang namanya gagal. Ibu harap kamu bisa belajar dari masa lalu mu. Tidak akan gegabah lagi untuk mengambil keputusan. Yang akan membuat diri mu menyesal, dalam hidup mu untuk yang kedua kalinya. Semoga kamu dan Salsa bisa saling melengkapi dan menutup kekurangan masing-masing. Ibu akan selalu berdoa, pernikahan ini samawah." Ucap bu Gina, pada putranya dan memberikan nasehat panjang lebar.


"Baik bu, saya akan berusaha untuk yang terbaik....


*****Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2