
Asifa sudah jenuh berada di kamar dari pagi, tidak ngapa-ngapain. Dari menonton televisi, yang di tonton sinetron pindah ke drama Thailand kesukaan Asifa.
Sekarang sudah menjelang sore hari Aisyah dan anak-anaknya datang. Baru Asifa ada hiburan harusnya, ingin rasanya keluar dari rumah. Tapi tidak di boleh kan oleh kedua orang tuanya. Demi kesehatan dan keselamatan Asifa harus istirahat, supaya cepat sembuh kakinya. Karena jika banyak bergerak akan menambah bengkak.
"Assalamualaikum princess,"ucap Aisyah saat masuk ke dalam kamarnya Asifa.
"Wa'alaikumsalam kak,"jawab Asifa dengan wajah cemberut nya.
"Ih serem banget sih dek, nyesel aku panggil princess. Tidak tahu nya yang di panggil princess lagi berwajah cemberut begitu."kata Aisyah sambil tersenyum menggoda.
"Karena aku bosan di kamar terus, mana sendiri lagi. Coba Atifah di sini dari pagi kan aku ada teman di kamar ini." Keluh Asifa.
"Oooh kasihan sekali adikku tercinta dan tersayang ini lagi merajuk rupanya. Maaf ya sayang, tadi kakak ajak Atifah takut menyusahkan mu. Atifah kan belum mandiri, jika sewaktu-waktu dia BAB repot kan? makanya kakak ajak pulang."Kata Aisyah yang membujuk adiknya agar tidak cemberut lagi.
"Tapi aku bosen tidak ada bedanya tinggal di sangkar emas kak."Kata Asifa dengan wajah sedihnya.
"Loh bukannya selama ini kamu sering telefonan sama sahabat mu Diana itu?"tanya Aisyah sambil merangkul pundak adiknya dan mengusap nya lembut.
"Asifa sudah lama tidak menghubungi dia, sejak aku ganti nomor ponsel kak. Tapi nanti aku coba deh buat hubungi dia lagi. Kenapa aku tidak kepikiran untuk menelepon Arsila ya tadi. Aku lupa sudah janji akan ketemu di toko kue, dengan nya kak." kata Asifa sambil menepuk keningnya sendiri.
"Itu teman mu yang baru ya dek baru denger kakak?"tanya Aisyah, karena baru denger nama Arsila di sebut.
"Dia sama dengan Salsa kak, dulu aku sekelas waktu SMP. Namun yang selalu bersama ku cuma Diana. Dan aku waktu berangkat ke Jakarta kemarin bertemu kakak nya di bandara. Akhirnya aku minta nomor Arsila, dia juga tinggal di sini. Tidak jauh dari perumahan kita, masih satu kecamatan malah."Jawab Asifa, menceritakan tentang Arsila pada Aisyah.
"Umi.... Ifah boleh main ya sama mbak Saena?"tanya Atifah, minta izin pada uminya.
"Oh ya, boleh tapi sebentar tunggu umi di ruang tamu ya." Atifah mengangguk sebagai jawaban atas perintah uminya.
__ADS_1
"Ya sudah kakak temani Atifah main di depan dulu ya."Pamit Aisyah, pada adiknya yang sudah tidak cemberut lagi.
Asifa cuma mengangguk, sebagai jawaban lalu ia meraih ponselnya dan menghubungi nomor Diana. Sudah tiga kali tapi tetap saja tidak aktif juga. Hal itu membuat Asifa tambah bete karena belum lepas dari nama bosan.
Lalu menghubungi Arsila, memberi kabar bahwa dirinya sudah berada di Jogja. Dan sama saja sudah tiga tidak di jawab oleh Arsila.
Karena kesal akhirnya dia memutuskan untuk pergi meninggalkan kamarnya. Asifa berjalan dengan terpincang-pincang keluar dari kamar. Dengan membawa ponsel nya takut ada balasan dari Arsila.
...****************...
Di bandara internasional AdiSucipto Yogyakarta, Fahmi sudah sampai dan menunggu kedatangan ibu dan bapaknya.
Setelah beberapa menit kemudian pak Daryanto dan bu Fatimah. Keluar beriringan, dengan banyak orang yang sama tujuan nya.
"Ibu, bapak,"Fahmi melambaikan tangan.
"Piye kabarmu nak... Ibu kangen banget sama kamu."Saat Fahmi menyalami dan mencium tangan ibunya. Bu Fatimah mengelus kepala putranya dan memeluk penuh kasih sayang dan rindu. Begitu juga dengan pak Daryanto, melakukan hal yang sama dengan istrinya. Karena sangat rindu dengan putranya, yang sudah hampir dua bulan.
"Kira-kira rumah mu jauh apa satu komplek dengan ustadz Taufiq Hidayat nak?" tanya bu Fatimah.
"Tidak jauh bu kami satu perumahan dengan mas Taufiq dan pak Herman bu. Bahkan aku selalu di ajak pergi jalan-jalan sama pak Herman langsung. Tapi jalan-jalannya di pending bu, di ganti bakar-bakaran di depan rumahnya dengan para tetangga sekitar nanti hari sabtu." Jawab Fahmi.
"Oh ya. Terus apa alasan nya di pending apa nak Asifa belum sehat? sehingga di pending?" Yang ingin tahu kabar Asifa dengan keluarganya.
"Sebenarnya Zahra sudah sembuh bu, tapi memang mungkin Allah sayang banget dengannya. Maka dari itu di berikan ujian lagi, kemarin sore jatuh bareng dengan Amir. Sehingga kakinya terkilir dan luka, dan Amir tangan kiri juga terkilir."Jawab Fahmi.
"Semoga cepat sembuh ya nak Zahra."Ucap bu Fatimah.
__ADS_1
"Mas maaf, apa yang mas maksud tadi pak Hermansyah dan istrinya bu Hafsah bukan?"tanya perempuan itu.
Sejak tadi hanya jadi pendengar saja, ia menunggu obrolan mereka selesai. Maka ia akan bertanya, ke benarnya apakah orang yang sedang ia cari.
"Benar mbak apa kenal dengan pak Herman atau kerabat nya?"tanya Fahmi, dan memperhatikan.
"Loh mbak ini yang tadi dari Surabaya juga kan? yang dudu di bangku sebrang kami?"tanya bu Fatimah.
"Iya bu benar. Saya sahabat nya Asifa, putrinya pak Herman. Saya kehilangan kabarnya, semenjak mulai beredar gosip perceraian Asifa dengan Ardi. Perkenalkan saya Diana Falisha bu, panggil Diana." mengulurkan tangannya pada bu Fatimah dan menangkupkan keduanya di depan dadanya.
"Oh ya salam kenal juga bu Fatimah, dan ini suami ibu Daryanto. Dan ini putra bungsu ibu Fahmi, murid sekaligus sahabatnya ustadz Taufiq." Ucap bu Fatimah sambil menerima uluran tangan Diana.
"Maaf apa mbak Diana sudah pesan taksi? kalau belum bareng saja."Fahmi menawarkan supaya bareng apa lagi Diana membawa bayi dan balita usianya tiga tahun setengah.
"Belum mas, apa tidak repot jika nanti saya ikut?"Diana balik tanya bukan langsung bilang iya.
"Insya Allah tidak nanti biar sekalian saya mau jenguk Zahra. Lagian cuma beda blok saja, saya sering jalan jika di undang mas Taufik."Jawab Fahmi.
"Baiklah tapi jangan kabar mas Taufiq atau pak Herman ya."Pinta Diana.
"Oke lah saya tahu maksud mbak. Akan buat Spears untuk Zahra kan? Saya yakin pasti Zahra akan bahagia mbak bisa menemukannya." Ujar Fahmi, bahkan bisa di lihat jika Fahmi juga ikut bahagia.
Akhirnya mereka naik mobil taksi yang sudah di pesan oleh Fahmi. Pak Daryanto duduk di depan, bu Fatimah dan Diana beserta anak-anaknya di belakang.
Beberapa menit kemudian mereka telah sampai di depan rumahnya Asifa. Bahkan mereka bisa melihat Asifa, sedang berpelukan dengan seorang perempuan berhijab segiempat. Setelah turun Diana langsung memanggil sahabatnya yang sebulan lebih hilang kontak.
"ASIFA.....
__ADS_1
*****Bersambung.....