APAKAH SALAH JANDA

APAKAH SALAH JANDA
91. Calon anak ibu


__ADS_3

Tangisnya Asifa terdengar hingga luar kamar, saat Diana akan ke kamar Asifa. Diana kaget mendengar tangis Asifa yang pilu, sesekali menjerit.


Cekrek


"Asifa..... Kamu kenap...., Oh lagi di urut ya?"tanya Diana, saat matanya melihat ada ibu Fatimah yang sedang mengurut kaki Asifa. Sambil cengengesan, lalu masuk dan menutup pintu kembali.


"Huhuhuhuhu sakit." Kata itu lah yang keluar dari mulut Asifa. Persis anak kecil yang sedang mengadu pada ibunya.


"Sabar ya sayang biar cepat sembuh, biar tidak pintar lagi."Ujar Diana, ikut sedih tidak tega lihat Asifa yang sangat kesakitan.


"Diana anak-anak di mana?"tanya bu Hafsah, karena tidak melihat cucunya dan anak Diana.


"Di kamar sebelah Tante."Jawab Diana, karena cuma mengendong yang bayi saja.


"Oeek oeek oeek"


"Eh anak ganteng ikut nangis ya, mau ajak lomba tente incees ya?"tanya Diana pada bayinya sambil tersenyum dan melirik Asifa.


"Huuuhu per gi kamu Di, huhuhu."Asifa kesal pada sahabat nya itu bisa-bisanya meledek orang yang lagi kesakitan.


Diana pun pergi karena tidak ingin Asifa tambah kesal padanya, karena tangis anaknya.


"Su-dah bu, dah tidak kuat, huhuhu."Keluh Asifa pada calon mertuanya.


Bukan berarti tapi malah di tarik sampai berbunyi, tentu hal itu membuat Asifa berteriak histeris.


Kretek


"AAAAKK mama sakit."Tapi setelah itu selesai bu Fatimah pun mengusap-usap kaki Asifa dengan lembut.


"Sudah sayang, coba di gerakkan kakinya."Perintah bu Fatimah.

__ADS_1


Asifa tidak menjawab namun mengikuti perintah calon mertuanya. Ternyata kakinya sudah tidak sesakit tadi saat belum di urut.


"Bagaimana sayang?"tanyanya sambil tersenyum pada calon menantunya itu.


"Sudah lebih baik bu, tidak sesakit tadi saat belum di urut."Jawab Asifa, dengan senyum manis di perlihatkan.


"Tadi nangis, sekarang sudah bisa senyum manis. Ibu jadi senang, coba nanti di kompres dengan air hangat atau es batu. Buat mengurangi bengkaknya, sekarang Asifa istirahat dulu ya biar enak ini kakinya."Ujar bu Fatimah.


"Terima kasih ya bu, sekali lagi maaf sudah ngerepotin ibu."Ucap Asifa.


"Sama-sama sayang tidak ada yang repot calon anak ibu ini." Bu Fatimah berdiri sambil memberikan kecupan manis di kening Asifa.


"Ibu keluar ya kamu istirahat dulu."Yang langsung berbalik badan dan berjalan keluar dari kamar Asifa.


"Mama juga keluar ya, tidak enak kalau mama di sini." Mengusap kepala putrinya dan mendaratkan ciuman di keningnya. Kemudian keluar dari kamar Asifa mengikuti calon besan menuju ruang tamu.


Ternyata bu Fatimah tidak langsung ke ruang tamu karena beliau tidak ada. Ya Bu Fatimah memilih ke kamar mandi, untuk membersihkan tangan dari minyak zaitun yang untuk mengurut Asifa. Setelah dari kamar mandi baru bergabung di ruang tamu. Mereka berbincang-bincang sambil menikmati teh dan cemilan. Kemudian pak Daryanto dan bu Fatimah pamitan pulang, karena sudah tidak ada yang di bahas lagi.


Di kampus universitas xxxx Yogyakarta. Sarah dan Ratna berbincang mengenai acara di rumah Asifa.


"Ratna, nanti kamu ikut ya," bujuk Sarah "soalnya aku tidak ada teman di acara yang di undang langsung Nona Asifa."Keluh Sarah.


"Aku tidak enak lah Sar, aku kan tidak di undang."Ratna merasa tidak enak dengan pemilik acara tersebut.


"Aku dari awal juga sudah bilang, kalau aku sudah izin dengan nya. Kalau aku mau teman, karena tidak ada teman di acara tersebut. Dan nona Asifa pun tidak masalah, bahkan adik ku Jaka saya mau ajak teman juga."Sarah menjelaskan, tentang izin nya pada Asifa beberapa waktu lalu.


"ya sudah deh kan kebutuhan ada Rais kan?" Ratna yang memang suka dengan Rais.


"Ya pasti lah dia ada, secara rumah Rais itu dekat dengan nona Asifa."Jawab Sarah.


Ya Rais adalah tetangga Asifa, bahkan saat pak Edi mengejar-ngejar Asifa pun tau. Rais sebenarnya tertarik akan parasnya Asifa, namun sang ibu tidak merestui. Selain terpaut jauh usianya, kekurangan Asifa lah yang menjadi kendala.

__ADS_1


"Nanti di sana juga akan ada pak Fahmi, si duren itu. Dosen killer kita, aku ingin sekali bisa ngobrol dengan beliau. Secara dia itu kerabat nya nona Asifa, bahkan semalam mereka juga kumpul di rumah nona Asifa. Mungkin membahas acara tersebut, kan memang sering pak Fahmi kerumahnya."Sarah berbicara dengan menopang dagu, membayangkan wajah tampan dosennya.


"Hei jangan menghayal kamu. Saingan mu Bu Yosi, janda cantik cetar membahana itu. Siapa coba yang tidak akan tertarik dengan dengannya. Bahkan para mahasiswa saja banyak yang berebut cari perhatian padanya. Tapi bu Yosi selama ada pak Fahmi, dia sering cari kesempatan untuk bisa dekat dengan beliau."Kata Ratna, yang memperhatikan kedekatan dosen-dosen mereka.


"Tidak masalah berusaha boleh, kan nanti pak Fahmi tinggal pilih. Mau yang bagaimana, karena banyak pilihan di depan matanya."Sahut Sarah dengan pedenya ia akan berusaha mendapatkan hati duda muda tampan itu.


"Ya asal jangan patah hati saja, kalau nanti tidak di pilih." Ejek Ratna, karena melihat Sarah yang kepedean.


"Itu artinya tidak jodoh, selagi masih singel. Kita berusaha aja dulu, toh jodoh itu harus di cari tidak mungkin datang sendiri."Sarah tidak yakin juga bisa mendapatkan hati Fahmi. Tapi ia akan berusaha saja dulu siapa tahu jodoh. Itu yang di harapkan ketika melihat Fahmi, tidak perduli dengan status nya itu duda.


...****************...


Siang ini rumah Asifa kedatangan pengusaha perhiasan. Yaitu pak Djohar yang datang dengan beberapa pengawal dan pengawal pribadi nya. Siapa lagi kalau bukan Lasmi, sang istrinya, yang selalu ketakutan jika suaminya menikah lagi. Apa lagi tergoda janda muda secantik Asifa.


"Assalamualaikum pak Herman dan Bu Hafsah."Tersenyum ramah dan mengulurkan tangannya.


"Wa'alaikumsalam," jawab pak Herman menyambut uluran tangan pak Djohar Herlambang kemudian menangkupkan kedua tangannya di dada untuk menghormati istrinya.


Yang terbilang sangat muda, mungkin usianya sekitar 29 tahun. Memang terlihat sangat cantik, seksi, tapi sedikit sombong.


"Mari masuk dan silahkan duduk."Ujar pak Herman, kemudian ia menoleh pada istrinya.


"Sayang tolong panggil putri kita ya, pasti dia juga sudah menunggu dari tadi."Pinta pak Herman pada istrinya.


"Iya mas, sebentar ya pak biar saya panggil yang bersangkutan." ujar bu Hafsah dan langsung menuju ke kamar putrinya.


Tidak lama Asifa nongol dengan susah paya iya menyeret koper besar. Pak Herman menoleh, melihat putrinya menarik koper dengan kaki pincang. Segera pak Herman beranjak dari duduknya dan membantu putrinya.


"Sayang harusnya kamu bilang ke papa jadi tidak harus begini."Langsung mengambil alih koper tersebut dari tangan putrinya.


*****Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2