APAKAH SALAH JANDA

APAKAH SALAH JANDA
108.Calon suami Asifa


__ADS_3

"Baiklah tapi cukup sekali nanti di bagi kan ya?" tanya Asifa memberikan tawaran.


"Baiklah, tidak masalah iyakan ibu, mba?"salah dari mereka.


Semua kompak mengacungkan jempol nya, sebagai tanda setuju dan mengerti. Mereka sangat bersyukur, karena ternyata Asifa sangat baik dan tidak sombong.


Setelah selesai Asifa menyapa para karyawan, dari pelayan, kasir, sampa bagian produksi. Karyawan yang tadinya hanya tiga kini menjadi sepuluh.


Tanpa pak Herman dan Asifa tahu, 7 karyawan tersebut adalah anak buahnya Andik yang baru. Ya itu yang mengawasi keluarga Hermansyah, tanpa sepengetahuan keluarga Dinata. Maka sewaktu-waktu keluarga Dinata minta info tentang keluarga Hermansyah ia cepat dapatkan. Kecuali sebelum Andik mengetahui, keberadaan Asifa dan keluarganya.


"Assalamualaikum nona Asifa," sapa Danu dan Fajar, anak buah Andik.


"Wa'alaikumsalam, lagi banyak pesanan ya?" tanya Asifa, saat melihat banyak sekali bahan adonan dan adonan yang siap cetak.

__ADS_1


"Betul nona, Alhamdulillah seminggu ini meski kami baru bekerja di sini. Tapi kami tahu ini sangat banyak pesanan makin hari juga makin banyak. Bagian gudang pun mengeluh kita terbatas dengan tempat. Sehingga barang yang ada sering kekurangan nona. Pihak distribusi menyarankan agar pesan banyak sekalian agar kita tidak terlalu kualahan." Adu Fajar yang bagian pengawasan bahan dapur.


"Baik akan saya pikir kan kedepannya. Oh apa ada ide untuk buka cabang di mana?"tanya Asifa.


"Malioboro, sama di alun-alun Jogja nona."Jawab Fajar, memberikan masukan.


"Bisa juga untuk bahan produksi, pesan yang cukup jangan sampai ada yang kosong ya."Pesan Asifa.


"Ya, nanti kamu boleh kasih pengumuman di depan ya."Kata Asifa menyetujui permintaan Fajar.


"Kalau untuk itu tidak perlu nona, nanti saya tanya teman saya yang lulusan tata boga. Soalnya banyak teman saya yang masih nganggur ingin bekerja tapi belum dapat juga. Kalau nona setuju siang ini mereka bisa datang untuk interview." Kata Fajar.


"Baiklah, kamu bisa hubungi mereka. Semoga mereka belum dapat pekerjaan di tempat lain." Perintah Asifa.

__ADS_1


"Baik nona saya akan hubungi mereka saya permisi dulu."Pamit Fajar, yang di angguki oleh Asifa.


"Silahkan lanjutkan saya mau ke ruangan saya." Pamit Asifa.


"Baik Nona."Jawab beberapa karyawan.


Asifa berjalan berjalan masuk keruangan papanya, dan langsung menyampaikan maksud permintaan Fajar pada papanya. Kemudian mengenai buka cabang dan membutuhkan tempat. Dan tidak lupa menyampaikan usulan Fajar, di tempat yang strategis.


"Coba nanti kita bahas dengan kakak mu atau calon suami mu. Secara Fahmi kan sudah punya usaha yang maju dalam satu tahun dan membuka cabang dua bulan lalu. Pasti dia sudah ada orang yang bisa mencarikan tempat yang strategis sayang."Kata pak Herman.


"Ya pa, tapi apa tidak ngerepotin mas Fahmi nanti? tidak enak aja kalau kita terlalu melibatkan dia. Apa lagi mas Fahmi baru calon suami Asifa. Nanti yang ada dia akan merasa di manfaatkan lagi." Kata Asifa, merasa tidak enak dengan Fahmi. Karena selama tinggal di Jogja, Fahmi tidak pernah absen dari urusan keluarganya.


"Setidaknya kita bisa mencari tempat strategis dari orang terdekat sayang. Karena kita ini masih baru belum banyak yang kita kenal. Apa lagi cari tempat usaha begini tidak lah mudah. Insya Allah itu tidak akan merepotkan Fahmi, justru dengan begitu dia merasa di perlakukan. Dari pada kamu minta tolong yang lain tanpa minta pendapatnya." Ujar pak Herman, karena ia sudah mengganggap Fahmi putra sendiri.

__ADS_1


__ADS_2