
Fahmi hanya tersenyum tipis pada bu Hafsah, sebagai jawaban yang dikatakan Bu Hafsah.
Asifa kebelakang untuk mencuci gelas yang di gunakan dan melihat apakah di dapur ada yang bisa di oleh untuk sarapan namun tidak menemukan apa-apa.
Pak Herman keluar dari kamar mandi, yang sudah rapi siap berangkat ke musholla. Kebetulan suara adzan berkumandang, pak Herman dan Fahmi siap berangkat ke musholla.
"Papa nanti kalau ketemu tukang nasi uduk atau bubur beli ya aku lapar."Asifa berbisik sambil bergelayut di pundak pak Herman. Karena dia pendek dan imut, sehingga agak kesulitan jika sejajar dengan telinga papanya.
"Oh sana ambil dompet papa di atas meja rias."Membalas bisik putrinya.
"Woke pa"Segera lari ke kamar dengan wajah berbinar. Sudah seperti anak kecil yang minta permen pada papanya.
"Ini pa, cepat ke musholla nanti telat. Itu adzan subuh sudah selesai, jangan lupa pesanan ku."Asifa mendorong papanya untuk berangkat ke musholla.
"Iya sayang, papa pulang harus sudah wangi ya. Sekarang papa berangkat, ma papa berangkat ya." Ujar pak Herman.
Fahmi yang melihat tingkah Asifa, benar-benar gemes. "Pantesan pak Herman masih memperlakukan Zahra seperti anak kecil, karena Zahra memang sungguh menggemaskan."Berkata dalam hati, dengan senyum bahagia dalam hatinya.
Setelah selesai sholat subuh pak Herman dan Fahmi di tegur oleh pak RT setempat.
"Fahmi apa benar semalam kamu membawa anak gadis menginap di rumah mu?"tanya pak RT.
"Benar pak RT tapi tidak sendiri, ini kenalkan kerabat saya pak Herman."Fahmi mengenalkan pak Herman pada pak RT setempat.
"Tapi tadi Badrun tidak bilang jika ada laki-laki juga. Dia hanya bilang seorang gadis datang dengan membawa koper besar dan di bawa masuk sama kamu. Saya lewat tadi rumah mu masih tertutup, saya pikir pulangnya saja Mampir minta keterangan."Jelas pak RT.
"Bahkan yang mengantar ke rumah bang Komar sebagai driver nya pak RT."Kata Fahmi.
"Yang benar mana ini? Badrun bilang gadisnya naik ojek?"tanya pak RT.
"Maaf pak RT jika berita yang bapak terima simpang siur. Memang putri saya berangkat dari naik ojek. Dan saya sama istri berangkat dari toko namun jam yang sama dan tujuan sama. Mencari rumah pak Yanto, saya ada rencana pulang bareng ke Jogja. Ternyata malah pak Yanto pergi ke Surabaya karena putrinya melahirkan. Karena palang tanggung jika saya balik lagi karena nanti jam 8 akan berangkat ke Jogja."Pak Herman angkat bicara.
"Memang datang jam berapa pak kok tanggung?"tanya pak RT.
"Jam setengah dua belas pak."Jawab pak Herman.
"Oh begitu ya sudah nanti sebelum berangkat saya datang ke rumah mu ya."Kata pak RT, pada Fahmi.
__ADS_1
Tidak perlu repot-repot pak RT, nanti saya yang akan ke rumah sekalian mau minta surat pindah sama pak RT."Kata Fahmi, hal itu membuat pak RT penasaran ada apa gerangan.
"Oh baiklah kalau begitu saya permisi duluan assalamualaikum." Ucap pak RT, iya berniat menanyakan pada Fahmi pas di rumahnya saja.
"Baik pak wa'alaikumsalam"jawab pak Herman dan Fahmi.
"Maaf ya nak Fahmi kalau keberadaan kami, bikin heboh para tetangga."Pak Herman merasa tidak enak pada Fahmi, karena ke datangan ada yang menyampaikan pada RT setempat yang tidak benar.
"Jangan di ambil hati pak, Badrun itu memang tidak suka dengan saya dari awal di sini."Jawab Fahmi.
"Apa nanti tidak berdampak untuk keluarga mu nak terutama orang tua mu."tanya pak Herman.
"Insya Allah tidak pak, karena bapak dan ibu saya tidak akan kembali kesini dari Surabaya nanti langsung ke Jogja."Jawab Fahmi.
"Jadi nak Fahmi beneran mau pindah? lalu rumah di sini bagaimana? mau di kontrakan atau di jual?" Pak Herman jadi kepo.
"Insya Allah saya jual saja, nanti untuk beli di sana. Untuk sementara waktu saya mau ngekos dulu, sampai rumah terjual dan dapat rumah di sana pak. Dan kedua orang tua saya sementara ikut kakak saya di Surabaya."Jawab Fahmi panjang lebar.
"Mudah-mudahan cepat terjual ya nak."Kata pak Herman.
"Aamiin pak."Ucap Fahmi.
"OOO apa ini yang di bisikan sama Zahra?" tanya Fahmi.
"Iya dia lapar dari jam 4, maklum habis sakit. Baru tiga hari dia sembuh dan semalam itu bikin saya panik."Kata pak Herman.
"Oh, apa itu yang di maksud oleh mas Taufiq?" tanya Fahmi.
"Iya nak, ayo antar saya beli nasi uduknya di mana."Ajak pak Herman.
"Mari pak yang jual nasi uduk dekat rumah bang Komar." Langsung saja jalan, hanya satu menit sampai.
"Mpo Yati nasi uduk 4 bungkus ya, saya mau ke bang Komar dulu." Pesan Fahmi.
"Siap... mas pake jengkol kaga ni?"tanya mpo Yati.
"Bapak pada suka jengkol tidak?" tanya Fahmi.
__ADS_1
"Saya pakai, tapi untuk Zahra dan saya, untuk istri saya jangan dia tidak suka."Kata pak Herman.
"Pakai mpo tapi satu jangan di kasih jengkol ya." Pesan Fahmi langsung jalan ke bang Komar.
"Oke mas." Mpo Yati mengacungkan jempol.
Fahmi dan pak Herman sampai di rumah Komarudin, kebetulan mau berangkat untuk mengantar anaknya ke sekolah dengan mobilnya.
"Assalamualaikum bang"ucap Fahmi dan pak Herman.
"Wa'alaikumsalam, eh ada tamu jauh ni. Kebetulan nih mau anter anak-anak sekolah." Kata bang Komar.
"Begini saya kerjaan buat Abang."Kata Fahmi.
"Serius nih, apa tu?"tanya bang Komar.
"Tolong tawarin rumah saya bang, kan Abang driver tu bisa lewat penumpang atau dari grup driver bang." Ujar Fahmi.
"Oh, oke nanti untuk surat sudah tinggal balik nama? abang nanti saya WA deh sekarang Abang antar anak-anak nanti terlambat."Kata bang Komar.
"Siip bang, hati-hati di jalan, assalamualaikum"ucap Fahmi.
"Ya, wa'alaikumsalam," jawab bang Komar dan langsung masuk mobil, langsung berangkat.
Fahmi dan pak Herman balik ke warung mpo Yati.
"Sudah belum mpo? berapa semuanya?"tanya Fahmi.
"Sudah ini yang kaga pake jengkol karetnya dua ya. Semua jadi 32 ribu, apa di rumah ada tamu ya mas?"tanya mpo Yati.
"Iya mpo, nih uangnya kembaliannya buat mpo Yati saja."Ujar pak Herman mendahului Fahmi.
"Nak uangmu simpan saja untuk di jalan nanti." ketika mendapati Fahmi yang bengong.
"Wah... terima kasih pak. Apa bapak tamunya mas Fahmi?"tanya mpo Yati.
"Ya mpo." Jawab pak Herman.
__ADS_1
"Lah kapan tadi si Badrun bilang tamunya gadis lah ini laki-laki."Kata tetangga sebelah mpo Yati.
*****Bersambung.....