
Perhatian;
Biar ceritanya nyambung baca dulu episode sebelumnya ya teman-teman. Bagi yang sudah membaca sebelum episode ini rilis.
Sebab episode sebelumnya, ada yang saya revisi. Karena faktor kelelahan, ada kesalahan dan author tertidur saat nulis.
Terima kasih sudah sudi mampir di karya remahan author.
Salam manis teruntuk author dan pembaca setia. 🤗🥰😍
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Pak Herman pun mengusap kepala Asifa yang masih tertutup kerudung itu. Ia tahu putrinya butuh support dari orang terdekat dan keluarga. Apa lagi saat ini putrinya sedang down, benar-benar butuh dukungan keluarga, sahabat, dan kerabat.
...****************...
Siang ini Fahmi mendapatkan telepon dari bapaknya. Memberikan kabar bahwa sudah siap untuk berangkat menuju bandara internasional Juanda Surabaya.
Penerbangan jam 14:45 menit, perjalanan menuju bandara memang cukup jauh. Tadinya kedua orang tuanya Fahmi, akan naik bus untuk pergi ke Jogja. Namun menantunya melarang dan sudah menyiapkan tiket pesawat.
"Assalamualaikum,"ucap Yosi yang sudah berada di meja kerjanya. Yang memang bersebelahan dengan meja kerja Fahmi.
"Wa'alaikumsalam,"Fahmi celingukan melihat sekitar tidak ada orang yang di dekatnya selain Yosi. Namun tidak hanya berdua di dalam ruangan tersebut. Fahmi bernafas lega, sebab ia tidak ingin terjebak bersama Yosi di dalam ruangan itu.
"Pak Fahmi saya boleh tanya sesuatu."Kata Yosi dengan suara sangat pelan, namun bukan berbisik.
"Boleh, silahkan tentang apa bu Yosi?"Fahmi akan jawab jika bisa, dan masih seputar kewajaran.
"Bapak ada hubungan apa dengan nona Asifa?" tanya Yosi.
"Apa ibu tidak paham, kemarin dengan interaksi antara saya dan Zahra?"tanya balik Fahmi, pada Yosi. Dia tidak suka dengan pertanyaan Yosi. Namun bukan Fahmi tidak paham maksud Yosi.
"Yang saya lihat bapak cukup dekat dan ramah dengan nona Asifa. Tapi saya juga ingin tahu, ada hubungan apa antara bapak dan nona Asifa?"tanya Yosi.
__ADS_1
Kekeh ingin tahu ada hubungan apa antara Fahmi dan Asifa. Jika di katakan saudara dan kerabat, akan tetapi berbeda dengan tatapannya terhadap Asifa.
"Apakah jawaban itu penting untuk ibu?"Dengan nada ketus.
"Iya pak, agar saya tidak penasaran. Dan tidak salah dalam melangkah. Saya rasa bapak tahu apa maksud saya."Jawab Yosi.
"Baik jika jawaban saya dapat memastikan, bahwa ibu tidak akan membuat masalah terhadap Zahra. Saya rasa ibu tidak gegabah dalam mengambil sikap. Saya kerabat nya pak Taufiq, dan Insya Allah calon masa depan Zahra. Cukup jelas kan bu, dan tidak perlu panjang lebar saya jelaskan."Penjelasan Fahmi, langsung pada inti dan tujuannya.
Yosi terhenyak atas jawabannya Fahmi, dan terjawab sudah rasa penasaran. Sehingga ia akan mengubur dalam-dalam rasa cinta terhadap Fahmi.
Sebagai seorang wanita dan janda ia tahu bagaimana rasanya. Terlebih dirinya merasa nyaman saat bersama dengan Asifa. Entah itu karena mereka memiliki nasib sama atau bagaimana.
Di tambah lagi perbedaan dirinya dan Asifa cukup jauh. Ia merasa nyaman, akan sambutan hangat Asifa lah. Sebelum belum pernah ia bertemu dengan seorang yang tulus.
"Baik pak, saya sudah jelas. Tapi saya minta izin, bapak tidak melarang saya untuk bertemu nona Asifa. Saya merasa nyaman dengan nona Asifa, entah kenapa. Mungkin karena ketulusan nona sendiri lah yang membuat saya nyaman."Kata Yosi.
"Nyaman yang seperti apa bu? tidak mungkin ibu pindah haluan jadi suka sesama kan?" Fahmi langsung pada inti yang ia takutkan.
"Seperti teman atau lebih tepatnya sahabat pak. Karena saya masih normal pak, tapi saya tidak mau merebut milik orang. Dan karena saya normal maka dari itu juga saya tidak mau di cap pelakor."Jawab Yosi dengan lantang dan tegas.
"Ya pak, maaf juga, kalau mungkin selama ini saya terlalu agresif. Jadi wajar jika bapak memiliki pandangan negatif tentang saya. Namanya juga manusia tidak ada yang sempurna, harap di maklumi."Ucap Yosi.
Fahmi dapat melihat sisi yang berbeda dari Yosi ini. Memang sempat berpikir jika Yosi ini perempuan tidak baik. Tapi masih bisa berpikir jernih untuk baik buruknya pandangan orang.
"Ya bu, sama-sama."Kata Fahmi.
"Assalamualaikum,"ucap Taufiq dan yang lainnya, pada masuk ruang kerja.
"Wa'alaikumsalam,"jawab Fahmi, Yosi dan senior ya di pojok.
"Pak Fahmi, saya mau menyampaikan pesan dari papa mertua."Ucap Taufiq yang Didi di depan Fahmi.
"Pesan apa pak?" tanya Fahmi ada rasa tidak tenang kalau menyangkut keluarga pak Herman.
__ADS_1
"Eem, hari minggu kita tidak jadi pergi ke candi Prambanan atau Borobudur. Tapi mengadakan barbeque di saja."Kata Taufiq.
"Oh tidak apa-apa, tapi kenapa di batalkan?"tanya Fahmi masih ada yang janggal baginya.
"Soalnya adik ipar tidak mungkin pergi dengan kaki yang masih sakit."Jawab Taufiq.
"Loh bukannya kemarin Zahra baik-baik saja. Apa yang menyebabkan kaki Zahra sakit?"tanya Fahmi dengan raut wajah cemas.
"Kemarin bakda ashar Zahra dan Amir, jatuh bersamaan dari kursi meja makan. Sehingga Zahra dan Amir terkilir, namun berbeda. Amir terkilir tangan kiri nya, Zahra kaki kanannya terluka dan terkilir. Bahkan dia tidak mau di urut karena terluka. Jadi hanya di berikan salep pereda nyeri, dan obat luka. Mungkin nanti jika sudah baikan luka nya, baru di urut. Coba ada ibu mu kami tidak perlu cari tukang urut lain untuk Zahra."Jawab Taufiq panjang lebar.
"Oh kasihan Zahra ada saja ujian nya. Kalau nanti ibu dengar ini pasti langsung minta di antar kerumah pak Herman."Kata Fahmi.
"Apa ibu mu sudah di sini pak?"tanya Taufiq, saat mendengar ucapan Fahmi.
"Insya Allah pak barusan telepon mereka sedang menuju bandara internasional Juanda Surabaya. Kalau tidak ada halangan jam 4 sore sudah sampai rumah pak."Jawab Fahmi.
"Wah serius to. Berarti ini bapak langsung pulang dong hari ini?" tanya Taufiq.
"Tidak pak, saya juga kan masih ada jadwal satu lagi, setengah jam lagi "Jawab Fahmi.
Yosi yang dari tadi mendengar obrolan mereka berdua, langsung bersuara.
"Pak Taufiq saya boleh ikut ya ke rumah pak Herman. Saya mau jenguk nona Asifa dan Amir. Kira-kira Amir umur berapa ya pak, apa dia anak bapak?"tanya Yosi.
Taufiq berpikir sejenak, sebelum memberikan jawaban. Sebab tidak ingin gegabah dengan Yosi. Namun melihat interaksi antara Asifa dan Yosi kemarin. Terlihat sangat akrab, dan Asifa juga bisa tersenyum manis lagi. Dengan tulus tidak ada keterpaksaan, akhirnya Taufiq mengiyakan.
"Baiklah bu Yosi, tapi akan lebih baik jangan bareng saya. Karena saya juga harus menjaga hati istri saya. Apa lagi jika nanti kita bersamaan, bukan tidak mungkin ada ke salah pahaman."Jawab Taufiq.
"Kan saya naik mobil pak tidak satu motor sama bapak. Tapi demi kenyamanan dan kebaikan rumah tangga bapak. Saya menghargai maksud bapak, dan tolong berikan alamatnya ya. Terima kasih sudah mau mengizinkan saya untuk menjenguk nona Asifa."Ucap Yosi.
"Sama-sama bu. Baiklah saya akan tulis alamat papa mertua saya."Kata Taufiq.
Kemudian Taufiq mengambil kertas kosong dan menulis alamat rumah pak Herman. Lalu memberikan pada Yosi, ini ia lakukan untuk kebaikan bersama. Ia senang karena Yosi bisa menghargai niatnya dengan baik.
__ADS_1
*****Bersambung.....