
"Iya mas Alhamdulillah kini kita sudah jadi orang tua. Saya sudah jadi bunda, dan mas jadi ayah." Ucap Asifa dengan deru nafas yang masih ngos-ngosan. Karena telah berjuang untuk melahirkan buah hatinya yang pertama.
"Iya sayang Alhamdulillah, ini semua adalah keberkahan yang Allah berikan pada kita."Ucap Fahmi.
"Ini bu minum teh manis hangat dulu." Ucap salah satu suster, yang membantu siaga pada sang ibu. Karena ketiga suster punya bagian masing-masing, ada yang bagian membersihkan bayi. Satu lagi mendampingi dokter Tsaniyah, membantu Asifa melahirkan.
Asifa pun meminumnya beberapa teguk air teh masih tersebut. Setelah itu ia merasa mulas lagi, itu artinya bayi kedua hendak keluar.
"Dokter," panggil Asifa sambil meringis dan mencengkeram erat tangan Fahmi.
"Iya Bu bayi kedua sudah tidak sabar juga untuk bertemu bundanya." Ucap dokter Tsaniyah.
"Iya sayang, apa yang di katakan dokter benar. Semangat buat putri kita ya sayang." Fahmi mencium kening istrinya sebagai tanda semangat darinya.
Asifa hanya mengangguk sebagai jawaban atas ucapan suaminya. Kemudian Asifa bersiap untuk melahirkan anak keduanya. Yang ternyata seorang putri cantik, dengan wajah mengemaskan.
Asifa kini terlihat kelelahan setelah lahir anak kedua. Hal itu membuat Fahmi tambah khawatir dengan kondisi istrinya. Ia berharap sang istri baik-baik saja, karena masih ada anak satu lagi yang belum keluar.
__ADS_1
Lima menit kemudian Asifa merasakan mules kembali. Sekuat-kuatnya Asifa dengan sisa tenaga yang tersisa setelah melahirkan putra putrinya. Kini anak ketiga adalah Spears entah laki-laki atau perempuan yang keluar. Yang penting baginya jangan ganda nauzubillah.
Dengan perjuangan tenaga yang tersisa keluarlah seorang anak perempuan cantik nan imut. Hal itu membuat semua orang yang ada di ruangan tersenyum bahagia. Begitu juga dengan Asifa bahagia bisa melihat ketiga anaknya. Dan mengetahui jenis kelamin nya, Asifa tersenyum sesaat kemudian tidak sadarkan diri.
Fahmi terkejut saat tangan istrinya lemas tidak bertenaga. Dokter Tsaniyah pun ikut terkejut saat kaki pasien melemas. Dokter yang sedang membersihkan jalan lahir itu, mengangkat kepalanya dan menatap Asifa.
"Suster tolong pasang oksigen untuk ibu Asifa." Perintah dokter Tsaniyah Zulaikha.
"Sa-yang,,,,,," namun tak dapat berkata apa-apa lagi. Bibir terasa kaku mau berbicara. Sehingga seluruh tubuhnya pun melemas melihat istrinya tidak berdaya. Setelah melahirkan putra putrinya, hingga tidak sadar diri. Pada akhirnya Fahmi pun terjatuh tidak sadarkan diri.
"Suster Eni tolong minta bantuan pada perawatan laki-laki." Memberi perintah dengan tatapan matanya ke arah Fahmi. Yang tergeletak di lantai, tidak sadarkan diri.
Kedua orang tuanya Asifa dan Fahmi juga Andik tersenyum melihat pintu ruang bersalin terbuka. Namun sedetik kemudian hilang senyuman itu, ketika melihat suster itu berlari setelah menutup pintu. Beberapa menit kemudian suster tadi kembali dengan beberapa perawat laki-laki. Tidak lupa dengan mendongak branker menuju ruang bersalin.
Membuat semua yang menunggu di depan ruang bersalin tersebut tegang. "Suster ada apa ini putri saya baik-baik saja kan?" tanya pak Herman yang lebih cepat mengucap.
Sementara perawat laki-laki sudah masuk duluan. Karena harus segera menolong Fahmi yang tergeletak di lantai tidak sadarkan diri.
__ADS_1
"Maaf yang bapak maksud ibu Asifa?" tanya suster Eni, di angguki oleh semua orang di hadapannya. "Alhamdulillah bayi semua lahir sehat dan selamat. Namun ibunya sekarang tidak sadarkan diri, begitu juga dengan ayahnya saat ini tidak sadarkan diri. Setelah melihat bu Asifa tidak sadarkan diri, setelah lahirnya putrinya." Suster Eni menjelaskan pada pak Herman dan yang lainnya.
"Astaghfirullah,,, lalu putrinya satu atau dua sus?" tanya bu Fatimah.
"Iya sus, apa putranya yang dua?"timpal Bu Hafsah.
"Putrinya ya dua bu. Kalau begitu saya permisi dulu." Langsung balik kanan dan masuk ke dalam.
Di dalam ruangan bersalin, para perawat laki-laki sudah mengangkat Fahmi dan memasang infus di lengannya. Fahmi di bawa ke ruang rawat yang lain di tempat ruang rawat inap VVIP.
Sedangkan Asifa dan bayi nya pun sama di pindahkan ke ruang lainnya. Asifa ruang rawat VVIP bagian ibu bersalin bersama ketiga anaknya. Yang di ikuti kedua keluarga yang menunggu di depan ruangan. Dan kedua nenek itu langsung meminta bok bayi tersebut dan mendorong masing-masing. Dengan wajah penuh gembira kedua keluarga tersebut.
Setelah berada di ruang rawat inap VVIP Asifa, kini pak Herman dan Daryanto pamit untuk ke musholla. Sebab sudah menjelang subuh, maka mereka akan melaksanakan sholat subuh. Sedangkan bu Hafsah dan bu Fatimah juga Lian akan sholat di ruangan Asifa. Setelah dokter dan perawat pergi dari ruangan.
Sedangkan Andik dan Radit berada di ruang rapat Fahmi. Mereka tidak akan pergi ke musholla, dan akan melaksanakan sholat subuh di ruang tersebut secara bersamaan alias berjamaah. Supaya mereka bisa sambil menjaga Fahmi, takut kalau di tinggal. Fahmi sadar tidak ada orang, apa lagi melihat Asifa tidak ada di sampingnya. Mereka tahu betul bagaimana Fahmi yang bucin akut pada istrinya.
*****Bersambung....
__ADS_1
Segini dulu ya teman-teman, saya masih amburadul ini orangnya. Mohon di maklumi a karena lagi banyak sekali h
yang harus di fikirkan.🙏🙏🙏🙏🤗