APAKAH SALAH JANDA

APAKAH SALAH JANDA
49.Ibu sedang kritis


__ADS_3

Setelah kepergian Antonio dan Irgi, Asifa segera masuk ke rumah.


Di dalam rumah, pak Herman dan bu Hafsah masih menunggu kepulangan anak dan menantunya.


Mendengar ada mobil berhenti di depan rumahnya, segera mengintip dari celah jendela. Dan ternyata itu orang yang sedang ia tunggu, yaitu anak dan menantunya.


Asifa yang sudah mengangkat tangannya, untuk mengetuk pintu pun jadi menggantung. Karena pintu sudah di buka lebih dulu oleh papanya.


"Assalamualaikum pa, papa tahu aja kita sudah pulang."Ucap Asifa, dengan senyum manisnya.


"Wa'alaikumsalam, tentu papa sudah nunggu kalian dari tadi. Ayo masuk ini sudah malam,"ajak pak Herman.


"Maaf pak, karena sudah malam begini saya langsung pulang saja. Assalamualaikum," pamit Fahmi, langsung pulang kerumahnya setelah mendengar jawaban salam.


"Wa'alaikumsalam,"jawab pak Herman, Taufiq, Asifa.


Kemudian mereka masuk ke dalam, dan Taufiq pamit langsung ke kamarnya. Ya kamar yang sering dia tempati bersama Aisyah.


Sewaktu di rumah sakit Aisyah kirim pesan padanya, bahwa hari ini mereka menginap di rumah Asifa.


Begitu sampai di kamar, melihat istri dan putrinya sudah tidur pulas. Taufiq pun langsung ke kamar mandi, untuk membersihkan diri. Setelah selesai ia pun langsung merebahkan diri, di samping Aisyah dan menyusul ke alam mimpi.


Sedangkan di ruang keluarga, Asifa dan kedua orang tuanya masih membahas keluarga Dinata. Dan rencananya akan menjenguk pak Surya dan bu Gina besok.


"Tadi gimana keadaan ibu sayang?"tanya bu Hafsah pada Asifa.


Raut wajah Asifa berubah seketika, sedikit tentunya. Biar bagaimanapun bu Gina adalah orang tua kedua Asifa.


Yang sama-sama menyayanginya dari masih bayi, menyekolahkan di sekolah elit. Bukan hanya dia seorang saja, yang mendapat pendidikan yang bagus.


Aisyah pun bisa sekolah di sekolah yang bagus, dan mondok serta kuliah. Semua biaya keluarga Dinata lah keluar kan.


Asifa memang kecewa dengan keluarga Dinata, tapi tidak akan lupa dengan apa yang telah mereka berikan padanya dan Aisyah.

__ADS_1


Ya Asifa, Aisyah, Haris dan Ardi. Mereka selalu bersama meski jarak Asifa 5 tahun dari Ardi dan Haris. Ketika SMP Aisyah minta sekolah sekaligus mondok di salah satu pondok pesantren di Surabaya. Sampai kuliah pun di pondok pesantren Surabaya tersebut.


Sedangkan Ardi dan Haris setelah SMA, mereka kuliah di luar negeri. Pada saat itu Asifa merasa sedih karena seorang diri di sekolah tersebut.


Akhirnya minta pindah ke pondok pesantren tempat Aisyah mondok. Setelah lulus SMAN Asifa kuliah di Jakarta. Dan tinggal bersama kedua orang tuanya.


Sampai semester 4, bu melamarnya untuk menjadi istri Ardi. Dirinya menerima lamaran tersebut, karena selain hutang budi. Asifa juga jatuh cinta pada Ardi, pada saat bu Gina mengajaknya ke bandara. Ya Asifa ke bandara Soekarno Hatta, untuk menjemput Ardi yang kembali dari luar negeri.


"Sayang kamu kok malah bengong, dan sedih kenapa?"tanya pak Herman, seraya merangkul pundak putrinya lalu memeluknya.


"Asifa sedih pa, biar bagaimanapun keluarga Dinata begitu berjasa bagi Asifa. Sekarang keadaan ibu sedang kritis pa, hal itu membuat Asifa syok. Apa mungkin ibu menyembunyikan penyakit selama tanpa ada yang tahu. Bahkan tadi waktu bertamu dengan Asifa, ibu bilang ini pertemuan terakhir."Pecah lah tangis Asifa di dalam dekapan papanya.


Pak Herman membiarkan Asifa menangis di dalam dekapan nya, sampai Asifa tenang.


"Mungkin saja begitu, tapi kita belum tahu kebenaran nya sayang. Papa dan mama juga kaget jika sekarang sahabat sekaligus besan. Kini terbaring lemah di rumah sakit, selama ini mama dan papa tau betul ibu mu. Dia orang yang kuat, tegar dan sabar tiba-tiba drop seperti ini."Ujar pak Herman, setelah Asifa sudah tenang.


"Benar yang di katakan papa sayang, gimana kalau besok kita ke rumah sakit buat jenguk ibu."Usul bu Hafsah.


"Tapi kita harus ke Jakarta ma, karena malam ini juga mas Ardi akan membawa langsung ke Jakarta."Ujar Asifa.


"Kalau itu mama setuju pa,"bu Hafsah sependapat dengan suaminya.


"Baiklah pa, Asifa ikut saja."Asifa pasrah dengan usulan papanya.


"Sekarang kita istirahat karena sudah larut malam, besok kita malah kesiangan subuh nya."Ujar pak Herman.


"Kalau Asifa sih santai pa, kan masih libur."Ucap enteng dan nyengir.


"Ya deh yang masih libur, dah yuk kita tidur mama sudah ngantuk banget."Kata bu Hafsah, langsung beranjak dari duduknya berjalan ke kamarnya.


"Sudah ayo tidur, jangan terlalu di pikirkan ya. Ingat hidup mu masih luas ke depan, dan jodoh rezeki kematian itu sudah di tentukan oleh sang pencipta. Jadi papa harap kamu harus menerima dan menjalani dengan ikhlas."Nasehat pak Herman untuk putrinya.


"Baik pa, Asifa akan jalani hidup Asifa yang baru. Selamat malam papa ku sayang."Ujar Asifa saat di depan pintu kamarnya.

__ADS_1


"Selamat malam princess papa'"yang kemudian mendaratkan ciuman di kening putrinya.


Setelah itu pak Herman juga masuk ke kamarnya, karena sudah larut malam.


Asifa masuk kamar dan langsung membersihkan diri, walau pun tidak mandi tapi harus cuci muka, sikat gigi dan berganti pakaian yang bersih. Karena habis dari rumah sakit, harus bersih agar tidak ada virus yang menempel padanya.


...****************...


Fahmi kini sudah sampai rumah, langsung membersihkan diri. Setelah itu ia merebahkan diri di atas tempat tidur.


Memeriksa ponselnya, karena tadi di rumah sakit ia sailen. Sehingga tidak dapat mendengar suara ponsel sama sekali.


Ketika di buka, ada beberapa kali telpon dari bapak dan ibunya. Bahkan kakak ikut menelpon dirinya, berkali.


Karena merasa bersalah sudah mengabaikan telpon dari kedua orang tuanya. Fahmi pun langsung menghubungi nomor ponsel ibunya.


"Halo assalamualaikum bu."Ucap Fahmi, dengan lembut dan santun.


"Wa'alaikumsalam nak, ya Allah kamu kemana saja sih, bikin Khawatir saja."Jawab ibunya yang langsung ngoceh.


"Maaf bu saya tadi ikut mas Taufiq ke rumah sakit. Jadi ponsel saya sailen, makanya tidak tahu jika ibu, bapak, dan mbak Anis telpon."Jelas Fahmi, pada ibunya.


"Memang siapa yang sakit, sampai kamu ikut kerumah sakit?"tanya bu Fatimah.


"Kalau yang sakti, besan bu, tadi pingsan di rumah pak Herman. Dan kebetulan saya di undang mas Taufiq buat makan malam bersama. Pas kejadian itu, mas Taufiq ajak saya buat kawal dek Zahra." Jawab Fahmi.


"Maksudmu keluarga Dinata itu?"bu Fatimah memastikan.


"Iya bu, dan sekarang bu Gina sedang kritis. Itu membuat keluarga nya dan dek Zahra syok." Jawab Fahmi.


"Nah ibu nelpon saya kenapa to, kayak nya penting banget?"tanya Fahmi, bingung dengan keluarga sampai semua nelpon dirinya.


"Itu nak, ibu mau....."

__ADS_1


*****Bersambung....


__ADS_2