
"Apa kamu tidak salah sayang? ini makanan belum di makan, tapi kamu sudah siapkan makanan lagi?"tanya bu Hafsah.
"Tidak ma, aku cuma waspada saja. Takut nanti di rumah ada persediaan makan. Walau itu rumah papa, tapi sekarang sudah di tempati Lira. Jadi membuat pergerakan kita penuh kecanggungan ma."Kata Asifa pada mamanya.
"Iya papa sependapat dengan Asifa sayang. Bagaimana pun kita tidak boleh gerasak-gerusuk tidak enak dengan Rendi. Apa lagi kita datang tanpa memberi kabar lebih dahulu. Jangan lupa bawakan daging rendang juga ya, untuk Lira."Timpal pak Herman.
"Iya juga ya, mama lupa." Kata bu Hafsah.
Tak lama makanan ya di pesan pun tiba. Mereka lanjut dengan makan, hening tidak ada yang bersuara.
Setelah makan mereka langsung pulang tidak lagi mampir ke mana-mana. Sebab hari ini sudah sangat lelah, jadi mereka memutuskan pulang dan beristirahat.
...****************...
"Sayang katanya ada om Herman ke sini, kok sepi?" tanya Rendi.
"Lagi ke rumah sakit, menjenguk tuan besar Surya Dinata, mas."Jawab Lira.
"Apa mas sudah makan?"tanya Lira.
"Belum sayang, sudah lapar mas pengen makan baru nanti mandi."Kata Rendi.
"Baiklah ayo mas, sudah siap dan masih hangat.
Saat mereka baru selesai makan, ada yang ketuk pintu.
Tok tok tok
"Biar mas yang buka kamu lanjut beberes meja makan."Ujar Rendi.
"Iya mas."Sahut Lira.
Rendi berjalan menuju ruang tamu dan membuka pintu utama.
Tok tok tok
"Assalamualaikum,"ucap tamu tersebut.
"Wa'alaikumsalam," Jawab Rendi, sambil membuka pintu.
__ADS_1
"Eh om Herman, tante, kak Asifa. Mari masuk Kiran siapa tadi, maaf soalnya tadi lagi makan. Apa sudah pada makan? kalau belum ayo makan biar di siapkan Lira?"tanya Rendi.
"Kami sudah makan, ini juga bawa makanan takut kakak mu ini lapar lagi. Harap maklum ya, karena kakak mu ini lagi masa pertumbuhan."Jawab pak Herman sambil tersenyum menggoda putrinya.
"Papa pikir aku ini balita, di bilang masa pertumbuhan."Kata Asifa dengan cemberut.
"Hahahaha tapi papa rasa cocok kata-kata itu sayang. Karena kamu itu lapar terus dan sekarang lihat kamu itu jadi sedikit gemuk."Ejek pak Herman pada putri bungsunya.
"Ih papa, lagian kalau pun aku gemuk juga tidak masalah. Toh aku sudah tidak perduli lagi, bagi ku sudah tidak penting lagi."Kata Asifa dengan santai, sambil berjalan menuju ruang makan.
"Kakak. Nanti kalau kakak jadi gemuk banget tidak ada bentuk lagi gimana?"tanya Lira dengan menakut-nakuti sepupunya.
Ternyata tidak mempan pada janda muda satu ini. Dia sudah tidak perduli akan bagaimana nanti bentuk tubuhnya.
"Tidak masalah, kan kakak yang jalani, kenapa kamu yang sibuk. Yang harus waspada itu kamu, karena setelah punya anak biasanya gemuk. Kalau kamu tidak bisa jaga badan, pasti Rendi akan melirik yang lain."Setelah membela diri, Asifa berlalu ke kamar nya.
Lira mencerna ucapan Asifa, dengan memikirkan apa yang di ucapkan sepupunya. Sewaatelah paham, Asifa menoleh pada sepupunya, namun orangnya sudah tidak ada.
"Ih kak Asifa nyebelin."Ucap Lira yang sudah manyun. Lalu menoleh pada suaminya, yang sedang menggigit bibir menahan tawa.
"Sudah jangan manyun terus, apa yang di katakan kak Asifa tidak benar sayang. Mas akan tetap mencintai mu sepenuh hati, meski kamu gemuk sekalipun. Jadi jangan khawatir ya, sekarang jangan marah ya. Nanti debat kasihan kalau bundanya marah-marah, perkembangan nya terganggu." Rendi menenangkan istrinya.
"Iya tante, maaf ya kalau Lira sedang kesal sama kak Asifa tan."Kata Lira.
"Iya Lira sayang, tante dan om mau istirahat. Kalian juga harus istirahat, apa lagi Rendi baru pulang. Permisi tente dan om duluan ya." Ujar bu Hafsah.
"Iya tante, om."Jawab Rendi dan Lira.
...****************...
Di kamar Asifa, merebahkan diri. Namun bangun lagi, karena ingin menelfon sahabatnya Arsila.
"Halo assalamualaikum," ucap Arsila dari sebrang."
"Wa'alaikumsalam, apa ini benar dengan Arsila?"tanya Asifa.
"Benar ini siapa ya?"tanya balik dari Arsila.
"Asifa Az Zahra."Jawab Asifa.
__ADS_1
"Masya Allah ini beneran kamu Asifa? kamu dapat nomor ku dari mana?"tanya Arsila.
"Dari kak Zakwan tadi siang, hehehe."Jawab Asifa.
"Hah? serius, kalian ke temu di mana?"tanya Arsila.
"Aku ke temu sama kakak mu di bandara internasional Adisucipto Yogyakarta. Dan ternyata kami satu pesawat juga dan duduknya pun sebelahan." Jawab Asifa.
"Hah serius, tapi kalian tidak aja janjian di luar itu kan. Maaf ya bukan apa-apa, status mu itu banyak orang yang tahu. Aku hanya takut kamu di hujat orang, yang tidak-tidak."Ujar Arsila.
"Tenang aku juga tahu batasan kok, aku juga gak mau itu terjadi. Bahkan kami keluar juga tidak bersama. Karena aku tidak ingin istri kakak mu salah paham, walau pun kami tidak melakukan apa-apa."kata Asifa.
"Terima kasih ya Asifa, kamu memang is the best. Eh, kamu ke temu kakak di Jogja? apa kamu selama ini ada di Jogja?"tanya Arsila.
"Iya aku di Jogja, kakak mu bilang kita tidak jauh kok. Nanti setelah aku pulang ke Jogja, kita ketemuan ya bagai mana jika kamu datang ke toko kue AZ ZAHRA."Kata Asifa.
"Apa itu toko kue milik mu?"tanya Arsila.
"aku cuma numpang nama saja, itu toko punya mama ku."Jawab Asifa.
"Kamu ini bisa saja. Itu namanya sama saja, kamu juga menikmati hasilnya. Oke nanti akan ku usaha kan datang ke sana."Kata Arsila.
"Terserah lah apa pun itu. Baiklah nanti ku tunggu kamu, Sekarang aku ingin istirahat ya. Capek aku juga baru pulang dari rumah sakit, menjenguk keluarga Dinata."Kata Asifa.
"Oke, sehat selalu ya Asifa, salam buat mama dan papa mu." Ucap Arsila
"Ya Arsila, nanti ku sampaikan. Assalamualaikum," ucap Asifa.
"Wa'alaikumsalam,"Jawab Arsila.
Setelah itu Asifa menutup telfonnya, dan meletakkan ponsel di atas meja.
"Hari ini lelah, akhirnya aku ada teman di Jogja. Tadi kok lupa ya tanya Arsila, dia punya anak berapa sekarang."Asifa bermonolog sendiri.
"Dan kenapa tadi tidak video call saja ya. kenapa kamu baru kepikiran sih Asifa, ini akibat galau. Aku jadi pelupa dan juga bodoh. Dah hari ini harus ketemu Salsa, tapi ternyata dia calon istri mas Ardi. Tapi mereka cocok, sama-sama kaya tidak doyan jengkol. Pasti tidak ada yang terpaksa menerima pasangan. Semoga engkau berikan kebahagiaan pada mas Ardi dan Salsa ya Allah. Aamiin,"Ucap Asifa.
Setelah ngoceh panjang lebar Asifa memilih tidur, karena memang sudah sangat lelah.
*****Bersambung
__ADS_1