
"Iya mas, sebagai orang tua saya ingin yang terbaik untuk putri kesayangan saya. Maaf mungkin jika akan menyinggung perasaan mas Arya."Ujar pak Herman.
"Maksudnya mas Herman apa ya?"tanya pak Arya.
Ardi melihat raut wajah mertuanya yang tampak dingin dan datar tanpa ekspresi. Padahal tadi baik-baik saja, waktu ada Fahmi, itu yang ada di pikirannya Ardi.
"Begini mas, ini mengenai hasil pemeriksaan medis tentang Asifa putri saya."Jawab pak Herman penuh penekanan saat mengatakan putri.
"Apa kata dokter mas, apa ini penyakitnya serius?" tanya pak Arya, ada kecemasan di wajahnya.
"Benar. Karena ini yang harus di jaga, jika mas Arya masih sayang dengan putri saya. Saya mohon dengan sangat, jangan perlakukan putri saya seperti dulu lagi. Di saat masih menjadi menantu mas Arya. Sebab ini akan membuat putri saya tertekan. Dan berdampak pada mentalnya, ini akan membuat putri saya menderita. Sebelum bertemu dengan mendiang mba Gina, dia sudah sembuh tapi belum total. Dan selama itu juga putri saya tidak minum obat penenang. Meski beberapa hari ini terlihat tenang, namun itu lebih berbahaya. Saya minta kalian, jangan lagi libatkan putri saya. Dalam masalah apa pun, dalam waktu dekat ini."Kata pak Herman panjang kali lebar menjelaskan pada sahabat sekaligus besannya.
Ya dalam perpisahan sebuah hubungan rumah tangga. Hanya ada mantan istri dan mantan suami. Tidak ada mantan mertua, mantan besan, mantan ipar apa lagi mantan anak.
Ardi dan pak Arya cukup kaget, mendengar ucapan pak Herman. Selaku ayah kandung Asifa, ini sangat marah dengan keadaan putrinya.
Memang kemarin Asifa terlihat tegar, bahkan biasa-biasa saja. Tidak tampak menyedihkan, atau ada masalah yang sedang di hadapi. Ternyata di balik itu semua, banyak beban yang harus ia tanggung sendiri.
__ADS_1
Terlebih Asifa yang selalu tertutup untuk masalah pribadi. Sehingga tidak mudah untuk mengetahui kondisi nya.
Selama di Jakarta Asifa bisa tidur mungkin bisa di hitung berapa jam. Normanya untuk istirahat yang cukup, itu minimal 5-6 jam. Maksimal 8 jam, namun jarang orang istirahat sampai 8 jika dalam keadaan sehat.
Sedangkan Asifa bisa tertidur, jika memang sudah lelah dengan pikirannya. Karena semua masalah akan selalu berputar-putar setiap Asifa menutup mata. Hal itu yang membuat Asifa sulit untuk tidur yang cukup. Asifa hanya bisa tidur 1-2 jam saja, jika sedang sendirian maka pikiran Asifa kemana-mana.
"Saya minta maaf mas, jika permintaan mendiang istri saya membuat Asifa makin tertekan. Saya juga minta maaf untuk perlakuan kami untuk Asifa kemarin. Tidak lain hanyalah untuk melindungi Asifa jika ada heites. Karena masih dalam suasana ramai pemburu berita, tentang masalah keluarga Dinata. Bukan tidak mungkin Asifa akan di serbu, dan cecar oleh banyak pertanyaan. Untuk kedepannya kami akan lepaskan Asifa. Saya memang bukan bermaksud untuk memperburuk keadaan Asifa. Karena saya memang sangat menyayangi Asifa seperti putri saya sendiri."Kata pak Arya dengan raut wajah sedihnya, karena merasa bersalah.
"Saya juga minta maaf pa, semua masalah di luar kendali saya. Jika pernikahan saya dan Salsa juga pemicunya. Sebenarnya saya memang sudah bahas tentang pernikahan dengan ayah. Ternyata di luar dugaan, pas saya masuk ruang mendiang ibu. Saya sangat kaget, melihat papa mama dan Asifa. Saya juga memerintahkan pengawal itu hanya untuk sampai ke Jogja. Tapi malah sampai sekarang, karena saya takut ada yang menyusup. Untuk mencecarnya dengan berbagai pertanyaan, dan akan berdampak lebih buruk lagi."Timpal Ardi.
Ardi dan pak Arya, berpikir sejenak. Beberapa menit kemudian pak Arya, memutuskan untuk masa depan Asifa.
"Baiklah kalau begitu, saya akan menjaga jarak dengan Asifa, tapi tidak dengan mu mas. Dengan demikian maka Asifa akan lebih baik. Jadi saya akan memberikan sesuatu untuk Asifa. Tolong jangan di tolak, tapi ini sebagai hadiah pernikahannya. Bahkan kalau bisa Asifa nikah dalam tiga bulan ini. Itu juga supaya ada yang mengisi hidupnya. Dan itu untuk move on dari kami, kalau tidak Asifa tidak lagi sibuk memikirkan masa lalunya."Kata pak Arya.
"Masalah jodoh saya tidak akan paksakan putri saya dalam waktu dekat. Terlebih Asifa ini bukan gadis lagi, dan memiliki kekurangan. Saya tidak ingin putri saya di pandang rendah oleh setiap mata memandang. Maka siapa pun yang mau menikah dengan putri saya harus yang tulus. Tidak hanya mencintainya di dunia saja, tapi mencintainya di dunia dan akhirat. Terima kasih atas sarannya, tapi selama satu bulan jauh dari kalian Asifa bisa hidup normal. Memang untuk memaafkan itu sangat mudah mas, tapi untuk melupakan itu yang susah. Dari kejadian ini dapat kita pahami dampak baik dan buruknya."Pak Herman tidak terima saran yang di berikan pak Arya.
Karena dulu ia menerima permintaan sahabatnya, untuk meminta Asifa menjadi menantunya. Awalnya bahagia itu terlihat tulus dari Asifa. Namun ternyata Asifa terkekang, bahagia luarnya saja. Menderita karena pernikahan, yang tak kasat mata.
__ADS_1
Siapa yang menyangka jika di balik senyum manisnya seorang Asifa. Tersimpan banyak lupa pikiran dan derita yang tak tampak oleh mata memandang. Tidak semua orang yang di cintai itu bahagia. Apa lagi segala maunya tidak boleh, setiap pergerakan selalu dalam pengawasan. Jadilah bahagia yang diperlihatkan itu semu, penuh dengan tipuan. Di tambah lagi lama untuk mendapatkan keturunan, semakin tertekan lah Asifa.
"Maafkan saya kalau selama ini sudah membuat Asifa, dan memantau semua kegiatannya. Untuk kedepannya saya dan Ardi tidak akan mengawal Asifa seperti dulu. Sesuai permintaan mas dan mendiang istri saya. Tapi saya akan silaturahmi saja jika kangen dengan Asifa. Semoga Asifa cepat sembuh pulih seperti semula. Kalau ada apa-apa mengenai Asifa dengan masalah yang kemarin. Tolong kabari saya mas nanti saya atasi secara diam-diam."Kata pak Arya.
Demi kesehatan Asifa, ia harus lepas Asifa walau berat di hati. Biar bagaimanapun Asifa putri angkatnya yang sangat ia sayangi bukan sekedar menantunya saja. Dalam hati juga tidak ingin terjadi apa-apa dengan Asifa.
Pak Arya memutuskan untuk pulang ke Jakarta hari ini juga. Supaya Asifa tenang, dan tidak tertekan lagi. Apa lagi sampai depresi seperti sebulan lalu. Dan bergantung dengan obat penenang, itu juga tidak baik untuk kesehatan jasmaninya.
"Baiklah kami akan membuka pintu rumah dengan lebar. Asal mas Arya, datang dengan kedamaian. Lagian memutuskan silaturahmi itu juga tidak baik. Dan niat saya bukan untuk memutuskan hubungan kita. Saya hanya membatasi, demi kenyamanan dan kebaikan putri saya."Ujar pak Herman.
"Baiklah kalau begitu saya pamit akan pulang, untuk pengawal akan tetap. Tapi tidak semata lagi, karena untuk menjaga situasi sampai Asifa putri kita pulang ke rumah."Ujar pak Arya
"Baiklah kalau begitu, terima kasih." Ucap pak Herman.
"Ayo Ardi Salsa kita pulang sebelum Asifa bangun." Sambil beranjak dari duduknya, lalu berjalan menuju pintu keluar.
*****Bersambung.....
__ADS_1