
Hari berganti hari minggu berganti minggu kini telah berganti bulan. Asifa sudah biasa setiap malam tidak bisa tidur jika malam hari. Namun malam ini tidak bisa tidur karena merasa pinggang nya terasa kaku. Bahkan terasa sakit, semakin malam ia semakin rasakan sakit. Di pikiran Asifa hari ini mungkin akan melahirkan buah hatinya.
Menurut perkiraan dokter spesialis kandungan, HPL kurang 5 hari lagi. Namun malam ini Asifa merasakan mulas, karena masih bisa menahan dan masih jarang. Sebelumnya doktor menyarankan untuk operasi Caesar jika sudah memasuki minggu ke 38. Namun Asifa Keke pada pendiriannya, untuk melahirkan secara normal.
Bagi Asifa belum lah sempurna menjadi ibu, jika di operasi Caesar. Sebab tidak merasakan perjuangan nya saat detik-detik melahirkan putra putrinya. Tidak ada yang dapat membujuk Asifa untuk melahirkan secara Caesar.
Fahmi memperhatikan sang istri dalam satu jam terakhir ini. Sudah beberapa kali mimik wajahnya berubah-rubah, sebentar tenang kemudian tegang terus berulang beberapa menit sekali. Fahmi melihat jam dinding setiap istrinya bermimik wajah tegang. Semakin ke sini waktu nya semakin cepat akan ia rasakan.
Tanpa bertanya Faham beranjak ke kamar mandi, mencuci muka supaya segar. Setelah itu ia mengambil baju ganti untuk nya dan untuk istri. Setelah itu ia pun berganti baju di depan istrinya sambil melihat sang istri yang sedang merintis kesakitan.
"Mas," karena sudah tidak tahan dengan rasa sakit tersebut, ia baru memanggil istrinya.
"Iya sayang, kita bersiap untuk pergi ke rumah sakit ya. Sini mas bantu, biar lebih mudah dan cepat untuk kita pergi ya. Ujar Fahmi dengan lembutnya, sambil membuka baju tidur yang di kenakan Asifa. Dan di ganti dengan baju gamis, lalu pasang kerudung instan yang jumbo. Terakhir kaos kaki Asifa yang tidak bisa Asifa kenakan sendiri.
Asifa tidak berkata apa-apa lagi, namun perasaan ada rasa senang. Karena memiliki suami yang sigap menangkap situasi yang sedang ia butuhkan. Sungguh ia kagum dengan kelebihan suaminya, yang peka di saat ia membutuhkan. Tanpa harus di beri tahu pun sudah siap siaga dan telaten membantu nya.
Setelah selesai ia pergi menuju ke kamar putra putrinya, mengambil perlengkapan bayi dan ibu. Sebelum menuntun istrinya keluar kamar, ia lebih dahulu membawa tas tersebut ke mobil. Lalu ia sambil berjalan menjemput istrinya di kamar, Fahmi menghubungi dokter spesialis kandungan. Yaitu dokter Tsaniyah Zulaikha yang selama ini menangani Asifa, dari awal pernikahan hingga saat ini menjelang persalinan.
"Ayo sayang, pelan-pelan kalau lagi sakit berhenti ya." Ujarnya Fahmi, membantu Asifa berdiri dari tempat tidur.
Dengan perlahan Asifa dan Fahmi berjalan keluar dari kamar dan menuju ke mobil. Baru saja keluar pintu kamar, Asifa berhenti karena merasa sakit di perutnya.
__ADS_1
Fahmi tanpa berkata apa-apa ia membiarkan sang istri mencengkeram kuat lengan nya. Dan Fahmi mengusap perut istrinya dengan tangan kanannya. Untuk merilekskan istrinya, yang sedang tegang menghadapi kelahiran buah hatinya.
Setelah rasa sakit itu hilang Asifa melangkah lagi menuju ke mobil. Namun lagi-lagi Asifa merasakan sakit kembali. Hal itu sampai tiga kali dalam durasi 3 menit sekali. Setelah masuk ke dalam mobil, Asifa berpegangan dengan pintu dan tangan Fahmi saat sakit itu melanda.
"Sabar ya sayang kita akan segera sampai di rumah sakit." Ucap Fahmi saat istrinya sudah tidak sakit.
"Iya mas, tapi aku sudah tidak kuat mas. ini sakit sekali, aku ingin segera sampai dan melahirkan."Keluhan Asifa sambil mengusap perut nya itu.
"Iya sayang sebentar lagi akan sampai, mas menyesuaikan dengan kondisi mu. Jika sedang mules mas akan pelan sebab mas juga tidak bisa konsentrasi. Kalau tidak malam hari begini, mas akan minta Radit yang nyupir." Kata Fahmi.
"Iya mas," hanya itu yang kembali lagi.
"Ini masih pembukaan lima ya ibu Asifa. Ibu apa anda yakin untuk melahirkan secara normal?" sang perawat meyakinkan bahwa Asifa bisa berubah pikiran. Dan bisa di urus jika ingin operasi Caesar.
"Saya tidak mau operasi sus, saya ingin melahirkan secara normal." Jawab Asifa dengan tegas.
"Baiklah, jika itu sudah menjadi keputusan ibu. Mari semangat berjuang untuk si kembar, saya pasang infus dulu di tangan nyonya."Ujar suster yang sudah menyiapkan segala sesuatunya yang di butuhkan Asifa.
Suster yang merawat Asifa adalah 3 orang perawat, ada yang menyiapkan perlengkapan bayi. Ada juga yang menyiapkan perlengkapan untuk persalinan, sambil nunggu kedatangan dokter spesialis kandungan.
Satu jam sudah berlalu kini dokter yang di tunggu juga sudah tiba. Saat ini Asifa sudah pembukaan sepuluh dan bersiap untuk melahirkan putra putrinya. Fahmi tidak meninggalkan istrinya sedikit pun sejak ia sampai rumah sakit. Walau perasaan yang campur aduk ia rasakan, ada senang, ada juga rasa khawatirnya. Senang karena putra putrinya akan lahir ke dunia. Khawatir dengan kondisi sang istri yang berjuang antara hidup dan mati. Demi ketiga buah hatinya, juga semua kemauannya ingin melahirkan dengan cara normal.
__ADS_1
Kedua keluarga yaitu pak Herman dan pak Daryanto sudah berada di luar ruangan bersalin. Mereka sudah di hubungi oleh Fahmi sejam yang lalu. Memberitahu bahwa Asifa akan melahirkan, dan sudah berada di rumah sakit.
Dokter memberikan instruksi untuk mengikuti arahannya. Asifa juga sudah tidak sabar ingin segera melahirkan, walau pun ia merasakan rasa sakit yang luar biasa. Namun tidak menyurutkan semangatnya untuk melahirkan buah hatinya.
" Ibu Asifa ikuti saya, ayo bu tarik nafas ngeden bu." Ujar dokter Tsaniyah.
"Aaahk,,,,"dengan mencengkeram erat tangan Fahmi (anggep aja suara Asifa ngeden ya, author tidak tahu caranya)😄😄😄😄
Fahmi dengan perasaan yang berdebar-debar, di saat ini yang sedang menunggu buah hatinya lahir. Ia tidak perduli dengan rasa perih, di sebabkan oleh Asifa istrinya.
"Lagi bu, kepalanya sudah terlihat. Ayo bu lagi semangat bu tarik nafas ngeden." Dokter Tsaniyah menyemangati Asifa untuk melahirkan anak pertama nya.
Asifa dengan semangat melakukan apa yang di katakan oleh dokter Tsaniyah. Hingga keluarlah anak pertamanya, yang ber junis kelamin laki-laki.
"Oowe oowe oowe." Suara merdu dari seorang bayi mungil, dengan jenis kelamin laki-laki itu.
"Alhamdulillah,,, Masya Allah,,. Terima kasih sayang, kini kita sudah jadi orang tua. Semangat ya bunda masih ada dua lagi, putri kita juga yang akan menjadi kejutan." Ucap syukur Fahmi dan terima kasih pada istrinya. Yang tengah berjuang untuk melahirkan secara normal buah hatinya. Fahmi juga tanpa malu mencium kening dan pipinya Asifa.
"Iya mas Alhamdulillah kini kita sudah jadi orang tua. Saya sudah jadi bunda, dan mas jadi ayah." Ucap Asifa dengan deru nafas yang masih ngos-ngosan. Karena telah berjuang untuk melahirkan buah hatinya yang pertama.
*****Bersambung.....
__ADS_1