
Kini semua sudah turun dari mobil, para pengawal pun menurun barang-barang.
Setelah selesai maka mereka pamit pada keluarga Hermansyah.
"Assalamualaikum," ucap pak Herman,bu Hafsah, Asifa dan para pengawal yang membawa barang.
"Wa'alaikumsalam,"jawab semua yang di dalam.
"Masuk kita langsung ke meja makan, pasti Asifa sudah lapar." Ajak Aisyah pada Asifa dak kedua orang tuanya.
Asifa hanya tersenyum sambil menyambut uluran tangan kakaknya dan menangkupkan tangan di depan dadanya. ketika di depan Taufiq dan Fahmi.
Ya Fahmi ada di rumah Asifa sejak bada isya. Yang awalnya ingin ke rumah Taufiq, namun Taufiq mengatakan bahwa dirinya sedang menyiapkan kepulangan mertuanya. Akhirnya dia ikut menyiapkan kepulangan pak Herman dan Asifa.
Fahmi menatap senyum Asifa yang terpaksa dan raut wajahnya yang cantik itu terlihat sangat pucat.
"Tuan besar, nyonya besar dan nyonya muda. Saya pamit barang semua sudah ada di dalam rumah."Ucap salah satu dari 4 pengawal tersebut.
Asifa menoleh dan menatap wajah yang sedang berbicara.
"Iya. Terima kasih atas bantuannya ya Andik, maaf saya sudah merepotkan kalian."Ucap Asifa dengan suara lemah.
"Sudah menjadi tugas saya nyonya muda. Saya permisi as... Nyonya..."Belum sempat selesai bicara nyonya muda sudah tidak sadarkan diri.
Dengan sigap Fahmi menangkap tubuh Asifa yang terhuyung ke belakang. Karena Aisyah dan Taufiq sudah mulai berjalan ruangan makan.
Pak Herman dan dan bu Hafsah ada agak jauh dari Asifa. Karena Asifa sudah menjawab para pengawal itu, menurutnya sudah cukup. Sebab mereka hendak pergi meninggalkan rumah setelah berpamitan dengannya dan Asifa.
Tanpa di duga kondisi putrinya sedang di titik yang lemah. Dengan teriakkan para pengawal membuat pak Herman dan bu Hafsah badan. Betapa terkejutnya Asifa sudah dalam dekapan Fahmi, dalam keadaan tak sadarkan diri.
"Dek Zahra, dek, pak seperti harus ke rumah sakit dek Zahra sangat pucat."Fahmi berbicara dengan panik, namun tidak bisa menyentuh kulitnya. Karena ia sadar bahwa dirinya bukanlah mahramnya.
__ADS_1
Pak Herman menyentuh kening Asifa dengan wajah merah padam. Karena marah, kesal, dan menyesal, sebab tidak menjaga putrinya dengan baik.
"Tuan besar, bisa kita bawa nyonya muda ke rumah sakit sekarang. Sebelum kita terlambat penanganan nyonya muda. Saya juga takut akan ke marahan tuan besar Arya. Mari segera kerumah sakit."Ucap Andik khawatir dirinya yang akan di salahkan.
"Pak izin kan saya mengangkat dek Zahra ke mobil. Bapak tunggu di dalam mobil, untuk pangku dek Zahra."Izin Fahmi pada pak Herman, karena bingung harus bagaimana. Akhirnya hanya mengangguk dan langsung jalan ke mobil.
Dengan sigap para pengawal membuka pintu. Andik langsung di bagian pengemudi bu Hafsah ikut tapi di cegah oleh Taufiq. untuk naik mobil yang satu dengan membawa makanan dan baju ganti Asifa. Nanti bersama para pengawal yang lain.
Dengan cepat Andik membawa Asifa ke rumah sakit yang hanya di tempuh sekitar 15 menit.
"Suster tolong cepat bantu nyonya muda saya."Teriak Andik ketika sampai di depan UGD, langsung dapat respon dengan cepat dari perawat yang sedang siaga di ruang UGD.
"Maaf tuan tunggu di sini."Ujar perawat tersebut.
Saat menunggu ponsel Andik ber, di lihatnya siapa yang menelepon.
"Halo, assalamualaikum tuan besar."ucap Andik saat tahu siapa yang menelepon.
"Bagaimana keadaan putri saya, apa sudah sampai rumah?" tanya pak Arya dari seberang sana.
"Apa? bagaimana sekarang, di rumah sakit mana Asifa di rawat?"tanya pak Arya.
"Di tempat nyonya besar di rawat, untuk keadaannya saya belum tahu karena baru masuk di ruang UGD tuan."Jawab Andik.
"Baik, kamu jagain keadaan rumah sakit. Saya harap kamu bisa ganti siff dengan yang lain besok pagi. Kamu atur juga siapa yang akan jemput saya besok pagi." Perintah pak Arya.
"Baik tuan besar."Menerima perintah tuan besarnya.
Pak Herman sudah datang setelah mengisi adminstrasi. Dia duduk di sebelah Fahmi, dan bisa melihat wajah pemuda itu penuh kecemasan.
"Nak Fahmi, terima kasih atas bantuannya. Sehingga Asifa tidak sampai jatuh di lantai."Ucap pak Herman.
__ADS_1
"Saya hanya reflek ketika melihat dek Zahra terhuyung. Maaf saya jadi menyentuh putri bapak."Merasa tidak enak dan berdosa, karena bukan mahramnya.
"Iya saya faham, itu karena darurat. Jika tidak itu juga tidak mungkin akan kamu lakukan."Kata pak Herman, lalu dia menoleh pada sang pengawal.
"Pasti tadi sudah lapor sama tuannya, aduh memang sudah berurusan dengan orang kaya. Semoga Asifa tidak serius dengan sakit yang sekarang." Pak Herman berbicara dalam hati. Dan tidak ingin terjadi apa-apa pada putrinya.
Tak lama dokter keluar dari ruang UGD untuk menyelesaikan keadaan Asifa.
"Dokter bagaimana keadaan putri saya?"tanya pak Herman.
"Nona Asifa, kelelahan dan banyak pikiran. Sehingga membuat dirinya sangat tertekan, apa lagi beberapa hari ini banyak masalah yang harus nona hadapi. Di tambah telat makan dan kurang minum membuatnya dehidrasi tuan."Melihat ada beberapa pengawal membuat dokter itu yakin. Bahwa pasien Asifa yang sedang menjadi trending topik di sosial media.
"Iya, lalu bagaimana sekarang apa putri saya sudah siuman?"tanya pak Herman.
"Sekarang belum siuman, mungkin karena kurang istirahat juga jadi berdampak dengan imun tubuh melemah. Saya akan pindah ke ruang VVIP untuk nona Asifa. Saya permisi untuk memindahkan ruangan nona Asifa." Jawab dokter tersebut.
"Baiklah terima kasih." Ucap pak Herman.
"Sama-sama tuan."Dokter tersebut langsung pergi kembali ke ruang UGD.
Ya bertepatan dengan dokter keluar dari ruang UGD tadi. Bu Hafsah, Taufiq dan para pengawal sampai. Sehingga dokter dapat menyimpulkan pasien adalah Asifa. Walau pun belum mengetahui siapa pasien tersebut. Karena mengenali Asifa yang sudah viral, karena kasus perceraian dengan seorang pengusaha.
Sudah satu jam Asifa berada di ruang VVIP, namun belum juga sadar.
"Papa dan mama pulang saja, karena saya tidak ingin papa dan mama sakit juga. Lebih baik papa dan mama pulang, biar di sini saya dan Fahmi yang akan menunggu."Ujar Taufiq pada mertuanya.
"Papa dan mama memang capek sekali, tapi apa tidak merepotkan nak Fahmi?"tanya pak Herman, meskipun tahu akan jawabnya.
"Tidak pak, kebetulan besok saya lagi tida ada jadwal ngajar. Bapak dan ibu silahkan pulang, besok gantian. Jika bapak dan ibu sudah fit kembali, jangan sampai bapak dan ibu sakit. Nanti akan menambah beban pikiran dek Zahra, dan akan membuatnya lebih parah."Jawab Fahmi panjang lebar, dan mengantisipasi dampak kesehatan Asifa dan keluarganya.
"Benar yang dikatakan oleh Fahmi pa, ma. Asifa akan semakin tertekan, akan merasa bersalah karena sudah menjadi penyebab papa dan mama sakit."Timpal Taufiq pada mertuanya.
__ADS_1
"Baiklah kalau begitu, papa dan mama pulang. Titip adik mu ya Fiq, tolong kabarin papa kalau ada apa-apa."Akhirnya pak Herman mau pulang untuk istirahat. Supaya besok terlihat segar, saat bertemu dengan putrinya.
*****Bersambung....