
"Oke terima kasih, kamu masih minta pendapat sama ayah. Kalau kamu tidak keberatan, ayah hanya ingin menyarankan untuk penjualan nya nanti ke teman ayah. Dia nanti bisa datang ke rumah hari ini atau besok. Itu tergantung permintaan mu sayang. Bukan apa-apa, supaya aman nanti transaksi di rumah Asifa saja biar aman. Untuk uangnya sebagian besar transfer saja. Dan nanti sebagian tunai, kalau untuk acara barbeque nanti butuh penjagaan bilang sama ayah."Kata pak Arya.
"Terima kasih yah sebelumnya. Kalau untuk penjualan Asifa masih terima. Tapi untuk penjaga tidak usah yah, takut warga pada canggung nanti."Kata Asifa menolak penjaga, yang akan di sediakan oleh ayah angkatnya itu.
"Baiklah kalau itu kemauan mu princess, sudah dulu ya. Nanti kalau ada waktu ayah dan opa datang. Tapi kalau tidak ada, ayah tidak datang ya sayang. Ya sudah, assalamu'alaikum."Ucap pak Arya mengakhiri sambungan telepon nya.
"Wa'alaikumsalam,"Asifa langsung meletakkan ponselnya di meja. Baru sebentar sudah ada notifikasi di ponselnya. Saat di lihat dari siapa, ternyata dari ayah angkatnya. Yang isi pesan nya menjelaskan nomor telepon temannya yang memiliki toko perhiasan di Jogja. Karena ingin urusan cepat selesai Asifa menghubungi nomor tersebut.
"Halo selamat pagi ini siapa?"tanya suara perempuan dari seberang.
"Halo selamat pagi juga, Apa benar ini dengan nomor pak Djohar Herlambang?"tanya Asifa.
"Benar ini dengan siapa? suami saya sedang di kamar mandi." Yang ternyata istrinya yang angkat telepon.
"Saya Asifa Az Zahra, ada yang ingin bicara dengan pak Djohar bu. Kalau boleh sampai kan pada beliau....." Langsung di semprot, oleh istrinya pak Djohar.
"Oh ini jandanya Ardi Kusuma Dinata. Mau bicara apa kamu sama suami saya? apakah kamu sudah miskin jadi mau menggoda suami orang. Dengan mengandalkan kecantikan mu itu, untuk merusak rumah tangga orang!!!"Bentakan itu membuat Asifa menjauh kan ponsel dari telinga nya.
"Astaghfirullah... Maaf bu kalau saya sedang bicara tolong jangan di potong....." Di potong lagi.
"Tidak usah ngeles deh, apa lagi yang bisa kamu lakukan. Kalau bukan mau menggoda suami saya. Apa lagi ....." Langsung saja di samber oleh suaminya, yaitu pak Djohar. Tangan kanannya membekap mulut istrinya, dan yang kirinya memegang ponsel. sambil menjawab telepon menggiring istrinya ke sofa. "Halo ini dari siapa ya?" tanyanya.
"Apakah ini dengan pak Djohar Herlambang? saya Asifa Az Zahra." Jawab Asifa.
__ADS_1
"Oh putrinya pak Hermansyah ya?"tanya dengan menekan tombol luospeaker.
"Betul pak, apa anda kenal juga dengan papa saya?"tanya Asifa, karena ada rasa bingung. Kalau kenal terus kenapa istrinya tidak, tadi membentak dan mencacinya.
"Saya tidak kenal dengan papa anda Nona. Tapi saya mengenal ayah mertua sekaligus ayah angkat anda Nona. Oh ya maaf kan semua ucapan istri saya Nona. Apa ada yang bisa di bantu?"tanya pak Djohar.
"Begini pak saya mau menawarkan perhiasan, kalau bapak bisa terima sih. Begini saja pak, biar kita leluasa bicara bisa kah anda datang ke saya di Jogja juga. Saya sudah memaafkan ucapan istri anda."Kata Asifa.
"Baiklah saya akan datang, saya akan bantu semampu saya. Jika Nona mau saya akan datang sekarang bersama dengan istri saya. Biar tidak ada kesalah pahaman lagi, bagaimana Nona?" tanya pak Djohar, minta pendapat Asifa.
"Baik pak saya tunggu, dan alamat akan saya kirim melalui chat. Terima kasih selamat pagi."Ucap Asifa.
"Baik Nona, selamat pagi."Jawab pak Djohar sebelum di tutup oleh Asifa.
Kemudian dia ingat bahwa dirinya sudah berjanji akan bertemu dengan seorang pengusaha yang sukses di sebuah perhiasan. Yang memiliki toko perhiasan berlian tersebut. Tentunya hal itu yang membuat istrinya curiga pada Asifa yang notabene nya seorang janda. Akan menggoda suaminya, padahal Asifa hanya akan menjual perhiasan emas dan berlian saja.
"Kenapa aku harus memikirkan hal yang merugikan aku sendiri." Gerutu Asifa sambil mengirimkan alamat remah pada pak Djohar.
...****************...
Sementara Diana dan kedua orang tuanya Asifa. Yaitu bu Hafsah dan pak Herman, masih lanjut dengan sarapannya.
"Kenapa Asifa yang marah ya Tan?"tanya Diana yang di sela-sela.
__ADS_1
"Itu yang dia lakukan untuk mu. Agar kamu tidak melupakan kewajiban mu sebagai seorang istri. Mungkin Asifa melihat mu, tidak menghubungi suami mu. Maka itu yang di lakukan Asifa, sebagai peringatan untuk mu. Karena dia yang sudah di posisi ini maka dia tidak ingin sahabat nya mengalami hal yang sama."Jawab bu Hafsah.
"Apa kamu belum menghubungi suami mu Di?"tanya pak Herman, ia pun sependapat dengan putrinya. Tidak ingin Diana melupakan tugas sebagai seorang istri. Meski pun dia sedang tidak di rumah, setidaknya Diana memberikan perhatian kecil pada suaminya.
Diana memikirkan apa yang di katakan oleh Asifa dan orang tuanya ada benarnya. Kenapa ia sampai bisa melupakan kewajibannya sebagai seorang istri. Bagaimana jika yang di katakan sahabat itu benar-benar terjadi. Sungguh ia tidak akan sanggup, terlebih sekarang ada buah hatinya. Yang harus di perhatikan, sebagai seorang ibu tidak akan bisa membiarkan anaknya sakit hati. Sakit hati pada kedua orang tuanya, yang hidup terpisah. Dan akan berdampak buruk untuk kedua anaknya. Ia tidak akan membiarkan itu terjadi, di dalam rumah tangganya.
Apa lagi saat ini seorang pelakor itu, tidak hanya berstatus janda. Karena perempuan sekarang banyak yang menghalalkan segala cara untuk mencapai hidup bahagia. Bahkan tidak perduli dengan perasaan sesama perempuan.
"Astaghfirullah.... Ya Allah kenapa Diana sampai lupa akan hal itu ya Tan. Sangking senangnya Diana bisa ketemu Asifa, lupa dengan kewajiban sebagai seorang istri. Terima kasih tente dan om sudah mengingatkan Diana. Sungguh Diana benar-benar lupa, akan kewajiban. Kemarin Diana cuma kirim chart pada mas Irfan. Sekarang Diana pamit ke kamar dulu untuk menelepon mas Irfan."Pamit dia Diana, dan di angguki oleh kedua orang tuanya Asifa.
Diana pergi ke kamar Asifa, di mana semalam ia tidur dengan Asifa. Saat sampai di kamar Asifa, tidak sengaja kalau Asifa sedang berbicara sendiri. Dengan wajah murung nya itu terlihat sangat serius sekali. Dan tangannya sedang mengetik di sesuatu ponsel nya. Diana yakin jika Asifa habis terima telepon yang menghina dan memaki Asifa sehingga ia tampak kesal.
Asifa sendiri yang sedang kesal dan memiliki rencana banyak hari ini. Begitu sangat serius sehingga tidak menyadari jika pintu kamarnya sudah di buka. Sampai Diana ada di sebelahnya saja tidak sadar.
"Serius banget sih, siapa yang membuat mu kesal apa itu diriku?"Pura-pura tidak mendengar ocehan Asifa tadi. Hal itu membuat Asifa terperanjat sangking kagetnya.
"Astaghfirullah.....! Diana bisa gak sih kalau masuk ucapkan salam dulu."Omel Asifa pada sahabatnya itu.
"Yee kamu tu, yang terlalu serius sampai salam ku saja tidak dengar." Kilahnya padahal dia tidak mengucapkan salam sama sekali. Sengaja untuk mengalihkan pikiran Asifa yang lagi ruwet seperti benang.
"Iya kah? serius aku gak denger kamu ucapkan salam."kata Asifa yang sudah selesai dengan ponsel nya.
"Ya sudah aku ulangi.....
__ADS_1
*****Bersambung.....