
"Apa yang katakan ada benarnya juga, Apa lagi dengan status mu. Pasti banyak yang membuat para istri waspada. Baiklah nanti aku duluan, supaya tidak membuat kegaduhan di bandara. Hehehe,"Kata Zakwan sambil terkekeh.
35 menit kemudian mereka sudah keluar dari bandara. Sesuai kesepakatan tadi mereka keluar untuk pulang dan Zakwan sudah di tunggu istri dan anaknya.
Asifa datang pun pura-pura lupa pada Zakwan, melirik sekilas ke arah istrinya Zakwan. Tapi tetap berjalan, dan tidak perduli atau pun menyapa.
Zakwan pun lupa dengan Asifa yang mengatakan akan mengenalkan pada istrinya.
Asifa langsung naik taksi menuju ke rumah pak Herman yang di Jakarta. Rencana menjenguk mertuanya sore nanti, karena saat ini mereka ingin istirahat.
Tok tok tok
"Assalamualaikum,"ucap pak Herman dan yang lain.
"Wa'alaikumsalam,"ucap Lira saat membuka pintu. Lira langsung berhambur memeluk Asifa kakak sepupunya itu.
"Kakak..., aku kangen banget sama kakak, kakak baik-baik saja kan?"tanya Lira dengan senyum sumringah,
"Alhamdulillah baik Lira, kamu sendiri bagaimana?"tanya balik.
"Baik juga kak. Om, tante apa kabar?" kini pindah pada pak Herman, dan menyalaminya bergantian.
"Baik Lira." Jawab kedua secara bersamaan, dan menerima uluran tangan Lira.
"Alhamdulillah, ayo masuk pasti lelah, Lira buatkan teh dan kopi dulu ya, kalian duduk dulu."Ujar Lila dan langsung ke dapur untuk membuat minuman.
Bu Hafsah duduk di sofa panjang di ikuti pak Herman dan Asifa. Asifa menyandarkan kepalanya di papanya, dan memejamkan matanya.
"Capek pa,"keluh Asifa.
"Sama sayang, papa juga capek. Mau makan apa kita pesan gofood ya?"tanya pak Herman pada putrinya.
"Apa saja lah pa, yang penting makan. Aku ngantuk tadi di jalan takut mau tidur."Ujar Asifa.
"Apakah kamu takut dengan Zakwan, yang ngapa-ngapain kamu?"tanya pak Herman sambil tersenyum, sambil mengusap kepala putrinya.
"Tentulah pa, Kan kita itu bukan mahramnya. Takut juga ada yang ngambil gambar, dan jadi fitnah atau gosip. Papa tidak lihat tadi banyak mata, yang terus perhatikan aku. Aku rasanya risih banget, aku juga waspada takut ada yang merekam."Jawab Asifa.
__ADS_1
"Lihat kamu ngobrol, papa was-was apa lagi kamu akrab banget dengan dia. Papa pikir dia masih lajang, ternyata sudah berumah tangga."Kata pak Herman, dengan senyuman menggoda.
"Tidak semua laki-laki suka pakai cincin pernikahan pa. Aku sama dia memang akrab, karena memang aku, Arsila, Salsa, Diana, Anisa, kak Rahma, kak Dinda, kak Zakwan, kak Dimas, mas Ardi, dan Haris. Selalu kumpul bareng di kantin, sampai pada akhirnya aku Dian pindah ke pesantren. Mas Ardi dan Haris keluar negeri, untuk lanjut pendidikannya." Cerita Asifa panjang lebar.
"Tapi kamu kenal apa tidak tadi istrinya Zakwan?"tanya pak Herman.
"Tidak pa,"Jawab Asifa singkat.
"Ini om, tante dan kakak, sebentar lagi pada makan ya. Tadi Lira masak sop ayam, sama tahu tempe goreng dan sambal terasi. Insya cukup untuk makan kalian, tadi pagi harusnya ngabarin dulu. Jadi aku bisa masakin yang lain juga, sekarang cuma masak kesukaan kakak aja."Kata Lira panjang lebar.
"Kesukaan Asifa juga bisa, yang penting makan siang di rumah. Tadinya kami mau pesan jika kamu tidak masak. Terima kasih ya, maaf kami ngerepotin kamu."Ujar bu Hafsah, lalu menyeruput minuman yang di sediakan lira keponakannya.
"Tidak repot tan, Ayo sekarang makan dulu, sudah Lira siapkan."Ajak Lira, langsung menarik tangan Asifa. Mereka berjalan menuju dapur dan duduk di meja makan.
"Baiklah ayo ma, sudah di siapin sama Lira."Pak Herman berdiri dan menarik tangan istrinya dengan lembut.
...****************...
Di kantin rumah sakit.
Sambil menunggu pesanan untuk pak Arya, Ardi sarapan lebih dulu. Apa lagi ini sudah siang jam sepuluh lewat.
"Iya mas, ternyata kita pun sama."Jawab Salsa.
Ardi tersenyum, menatap wajah cantik janda muda di depannya. "Iya, kita sama-sama pernah gagal, sekarang kita belajar menerima. Saya tidak ingin ada yang kita tutupi satu sama lain. Apa kamu keberatan dengan ucapan saya?"tanya Ardi dan di jawab dengan gelengan kepala dan senyum manis.
Bagi Salsa tidak ada yang harus di tutupi dan untuk kelangsungan rumah tangga kelak langgeng. Karena tidak ingin ada kegagalan lagi, karena Ardi juga berharap begitu.
Mereka kembali ke ruangan pak Surya, karena pak Arya ada di sana. Setelah itu Ardi ingin istirahat di ruangan pak Surya. Karena dari semalam Ardi belum tidur sama sekali.
...****************...
Jam sudah menunjukkan pukul 4 sore Asifa dan kedua orang tuanya siap untuk pergi ke rumah sakit.
"Princess papa cantik amat ya, katanya tidak mau rujuk kok dandan cantik."Ledek pak Herman pada putrinya.
"Asifa dandan bukan untuknya, tapi Asifanya papa ini ingin menunjukkan pada opa dan ayah kalau Asifa baik-baik saja. Jadi opa bisa sembuh dan tidak akan merasa bersalah lagi."
__ADS_1
Kata Asifa dengan tegas, agar tidak di ledekin papanya lagi.
"Oke papa akan mendukung mu tunjukkan bahwa kamu wanita kuat. Asifa yang baru, bukan Asifa yang dulu lagi. Semangat princess papa, ayo kita berangkat. Taksi online sudah menunggu di depan rumah." Pak Herman mengandeng tangan istrinya dan putrinya.
Sampai di depan mobil pak Herman membuka pintu belakang untuk istri dan putrinya. Dia sendiri duduk di depan sebelah supir.
Selama di perjalanan sesekali supir taksi melirik ke kaca depannya untuk melihat Asifa. Yang di lirik tidak perduli, tapi risih juga jika di biarkan.
Supir taksi itu memang masih muda, mungkin seumuran dengan Ardi. Asifa yang sudah tidak tahan pun berucap pada supir taksi.
"Bang, jalannya di perhatikan ya. Karena saya tidak ingin ada korban nantinya."Ucap Asifa, membuat sang supir salah tingkah.
"Baik nona, maaf bukan apa-apa, ternyata nona lebih cantik aslinya dari pada di layar kaca."Ucap sang supir.
"Tapi tidak untuk saya bang, tapi terima kasih. Tolong jaga mata ya bang, dan perhatikan jalan. Karena saya juga masih ingin hidup," Ucap Asifa.
"Baik nona Asifa." Tidak lagi bertingkah, dan menyetir dengan baik.
Tak lama sampai di rumah sakit, mereka langsung turun dan menuju bagian resepsionis.
Setelah tahu ruangan pak surya, kini mereka sudah berada di depan pintu ruangan.
Tok tok tok
"Assalamualaikum,"ucap secara bersamaan.
Dari dalam mendengar ada tamu pun pak Arya bangun dari duduk lalu membuka pintu.
"Wa'alaikumsalam, eh mas Herman. Mari masuk." Mengajak masuk setelah menyalami.
Asifa pun menyalami mertuanya itu, lalu di gandeng pak Arya menuju kursi sebelah branker pak Surya.
"Sayang kamu gimana kabarnya?"tanya pak Arya.
"Alhamdulillah baik yah."Jawab Asifa.
"Ya kamu di sini ya, kamu sapa opa ya." Ujarnya dan langsung duduk di sebelah pak Herman.
__ADS_1
"Assalamualaikum opa....
*****Bersambung....