
"Aaaaaa hahahaha ampun tante, hahahaha geli....
BRUUUK
"AAAAAAA SAKIT." Teriak Asifa dan Amir.
"ASIFA"
"AMIR"
Ketiga orang dewasa itu berteriak secara bersamaan. Siapa lagi kalau bukan pak Herman, bu Hafsah, Taufiq.
Atifah yang melihat itu hanya bengong karena syok. Melihat kakak dan tantenya terjatuh dari kursi makan.
Aisyah yang sedang berjalan di dapur, untuk mengambil sayur sup ayam kesukaan Asifa itu yang sedang di panaskan. Langsung meletakkan mangkok di meja dan mematikan kompor. Segera balik badan dan berjalan setengah lari karena mendengar Amir menangis.
Untung saja mangkok yang di pegang Aisyah tidak jatuh. Jika jatuh akan dobel lah kejadian sore ini.
"Innalilahi..... " Ucap ketiga orang dewasa kembali.
Langsung saja mengangkat kursi yang menimpa Asifa. Posisi Asifa di atas Amir, karena kursi Amir terjengkang. Saat terjatuh Amir langsung menarik kedua lengan Asifa.
Akhirnya, Asifa menimpa badan Amir yang kecil itu. Alhasil kaki Asifa terkilir, sebab dia sempat menahan agar tidak sepenuhnya menimpa keponakan nya.
Dari jatuh itu kepala Amir terbentur lumayan keras. Dan tangannya terkilir, karena tertimpa Asifa dengan posisi yang tidak benar.
(Terbayang yang bagaimana adegan jatuhnya tante dan ponakannya)😰😰😰
"AaaaaH Abi sakit,"keluh Amir saat diangkat menuju ke kamarnya.
"Paaa,"Ucap Asifa yang saat pak Herman membantu Asifa untuk berdiri.
__ADS_1
Ternyata kaki kanan Asifa berdarah di bagian mata kakinya. Karena tertimpa kursi kayu meja makan.
"Astaghfirullah, kalian ini ada-ada saja. Kalau begitu kamu ambil makan sendiri, kakak mau lihat keadaan Amir." Yang langsung mengikuti Taufiq ke kamarnya Amir. Tanpa menoleh pada Asifa sama sekali.
Aisyah sangat khawatir dengan kondisi Amir, Sehingga tidak memikirkan perasaan Asifa. Ucapan Aisyah membuat Asifa merasa bersalah, sebab kejadian tersebut adalah ulahnya. Jika ia tidak
Asifa merasa sakit jika melangkah karena pergelangan kakinya terkilir. Asifa yang tidak ingin terus menerus merepotkan orang. Termasuk orang tuanya, karena tidak ada pilihan lain lagi.
Akhirnya Asifa merangkak untuk mencapai tujuan yaitu kamar Amir. Tidak perduli dengan tatapan mama papanya.
"Sayang kamu urus Atifah ya biar mas yang, untuk mengikuti Asifa. Dan akan menengahi mereka, supaya jangan ada pertengkaran."Setengah berbisik pada bu Hafsah, dan di jawab dengan anggukan.
Pak Herman yang paham dengan sikap kedua putrinya. Hanya akan mengawasi dan menasehati satu sama lainnya.
Asifa sudah sampai di depan pintu kamar Amir pun, langsung masuk dan itu membuat yang di kamar kaget.
"Amir sayang, maafkan tante ya. Tante tidak ada maksud untuk membuat mu terluka begini."Ucap Asifa, saat tangan Amir lagi di urut oleh Taufiq. Dan Aisyah sedang mendekap erat tubuh Amir, yang menangis karena kesakitan saat di urut.
Suara Asifa mengagetkan Aisyah dan Taufiq yang fokus menangani anak sulungnya. Mereka semua menatap Asifa yang duduk di lantai, dengan wajah sembabnya.
Amir juga merasa ini adalah hukuman untuk dirinya. Yang sudah berlaku tidak sopan pada orang yang lebih tua. Sehingga apa yang terjadi di hari ini, sebuah peringatan. Supaya kedepannya tidak di ulangi lagi, supaya tidak seperti ini lagi.
"Baiklah tante juga bersalah atas kejadian ini. Akan lebih baik kita saling memaafkan satu sama lain. Kakak aku minta maaf ya, karena aku membuat Amir terluka. Sehingga membuat kakak cemas dan rapot dengan kejadian ini."Ucap Asifa dengan mata yang berkaca-kaca.
"Ya dek kakak, juga minta maaf ya atas kelakuan Amir yang tidak sopan terhadap mu."Ucap Taufiq pada adik iparnya.
Ya Taufiq tadi melihat perilaku Amir yang kurang sopan pada Asifa. Padahal sudah di nasehati tadi di ruang keluarga sebelum sholat ashar tiba.
"Tidak apa-apa kak, itu karena Amir baru mengetahui. Insya Allah Amir tidak akan melakukan hal itu lebih, di lain waktu."ucap Asifa.
"Jika Amir masih melakukan ini lagi kakak yang akan menghukumnya. Kamu harus istirahat, pasti kamu juga sakit kan? kakak minta maaf ya, tadi sempat cuekin kamu."Ucap Aisyah, merasa ada ucapan dan sikap kurang baik pada adik tercinta.
__ADS_1
"Iya kak, aku sudah maafkan. Aku juga akan melakukan hal yang sama, ketika buah hati terluka. Ya sudah kalau begitu aku mau ke kamar, mau obati luka." Saat balik badan, sudah ada papa dan mamanya.
"Asifa mau ke kamar yuk ayak bantu." kata pak Herman lembut pada putri kesayangannya itu.
"Asifa sendiri saja pa, lebih nyaman."Jawab Asifa, kemudian ia merangkak lagi menuju kamarnya.
Hati pak Herman nelangsa melihat perjuangan putrinya itu. Ternyata Asifa masih marah padanya, pikir pak Herman.
Sampai di kamar Asifa mencari kotak obat. lalu ia mengobati kakinya yang luka, yang mulai bengkak. Sehingga ia meringis, karena menahan rasa sakit.
Beberapa menit kemudian bu Hafsah masuk membawa semangkok sup ayam dan nasi. Tak lupa ada segelas jus mangga, kesukaan Asifa.
"Sayang kaki mu bengkak ini harus di urut. Nanti mama tanya sama tetangga, siapa yang bisa urut."Ucap bu Hafsah.
"Tapi ini lagi luka ma, nanti sakit banget. Di olesi salep atau kompres es batu saja."Kata Asifa.
"Ya sudah sementara itu dulu, nanti kalau sudah mendingan tidak perlu urut. Tapi kalau belum ada perubahan harus di urut."Kata bu Hafsah.
"Iya ma,"pasrah Asifa.
"Sayang, sekarang makan dulu ya."Bu Hafsah memberikan nampan berisi makanan untuk Asifa.
"Makasih ya ma, maaf Asifa ngerepotin mama lagi. Baru juga keluar dari rumah sakit, sekarang pincang." Keluh Asifa "Bismillahirrahmanirrahim.......," langsung menyuap makanan ke dalam mulutnya.
"Tidak repot sayang, karena kalau bukan orang tua siapa yang akan menjadi tempat mu bersandar sayang."Ujar bu Hafsah.
"Apa yang di katakan mama, benar sayang. Papa sedih jika tidak di butuhkan oleh anaknya."Timpal pak Herman, saat mendengar ucapan anak dan istrinya.
"Tapi aku selalu menyusahkan kalian. Apa lagi sejak aku jadi janda, terus menerus merepotkan kalian."Tak terasa air matanya menetes membasahi pipinya.
Bu Hafsah mengusap air matanya Asifa dan memberikan semangat. "Sayang tidak ada kata merepotkan bagi orang tua. Apa pun akan di lakukan untuk kebahagiaan anak-anaknya sayang. Jadi jangan pernah berpikir bahwa Asifa selalu membuat kami repot ya. Sekarang lanjut makannya, kalau dingin tidak enak."Nasehat bu Hafsah pada Asifa.
__ADS_1
Pak Herman pun mengusap kepala Asifa yang masih tertutup kerudung itu. Ia tahu putrinya butuh support dari orang terdekat dan keluarga.
*****Bersambung.....