
"Kenapa semua orang memasang aku hina kenapa?" Tanya Asifa dengan sedikit berteriak pada mamanya.
"Sayang tidak ada masalah yang tidak selesai bagi Allah. Maka dari itu Asifa harus tawakal nak, jangan sampai kita terhasut dengan bisikkan setan. Sehingga kita lupa apa yang ada pada kita hanya titipan. Dan Allah memberi masalah atau mengambil apa yang kamu miliki sekarang, itu sebagai teguran untuk mu. Agar kamu kembali padanya dan menguji kesabaran mu."Nasehat bu Hafsah pada putrinya.
Pintu mobil terbuka Fahmi melihat keadaan Asifa yang rapuh. Dia ingin sekali memeluk dan memberikan ketenangan. Namun itu hanya keinginan saja tidak dapat ia wujudkan. karena dia bukan mahramnya, sehingga tidak bisa dilakukan.
Langsung saja dia melipat jok untuk dia masuk dan duduk di belakang menempati tempat Asifa tadi. Di tidak akan mungkin berada di tempat tadi karena Asifa butuh dukungan dari keluarga.
Fahmi masuk di susul pak Herman, langsung saja Asifa merengek manja pada papanya.
"Papa aku mau di pelukan papa" rengek Asifa.
"Baiklah sini princess papa peluk. Tapi tidak boleh nangis lagi, nanti tidak cantik lagi ya. Sudah lupa Ardi dan ucapan orang yang tidak penting tadi ya."Menghapus air mata putrinya dan memeluk dangan erat memberikan kehangatan dan ketenangan.
Fatur dan Arif melongo melihat sisi manja Asifa pada papa nya. Dan Asifa langsung tenang, tidak histeris seperti tadi.
Fahmi merasa lega ketika melihat Asifa sudah tenang di dalam dekapan papanya. Sungguh tadi dia merasa sesak dadanya ketika Asifa menangis sesenggukan di pelukan mamanya.
"Papa" panggil Asifa.
"Iya princess papa yang cantik mau apa?"tanya pak Herman.
"Kepala ku pusing, bayangan dan suara itu yang bikin aku pusing."Adu Asifa
Pak Herman yang paham maksud putrinya kini dia memberi isyarat pada istrinya.
Bu Hafsah yang mengerti segera mengambil obat yang di simpan di tasnya dan memberikan pada suaminya. Lalu memberikan botol air mineral, untuk minum obatnya.
"Ini pa, dan ini air minumnya."
"Ini minum obat dulu biar tidak pusing."Ujar pak Herman, Asifa meminum obat itu.
__ADS_1
tak lama dari itu Asifa tertidur dengan bersandar pada pundak pak Herman.
"Maaf pak, kalau boleh tahu obat apa yang bapak berikan pada Zahra?"tanya Fahmi dengan hati-hati karena takut menyinggung perasaan pak Herman.
"Oh, itu obat penenang jika tidak minum dia tidak bisa tenang dan akan terus terbayang dan mengingat semua kejadian tadi. Terlebih dia sedang datang bulan, maka lebih sensitif."Jawab pak Herman.
Dua jam kemudian mereka singgah di masjid namun gantian bu Hafsah lebih dulu bersama yang lain. Setelah selesai kini pak Herman sendiri yang sholat. Karena harus jaga Asifa, yang lagi tidur pulas. Lalu melanjutkan perjalanan dari menit ke menit kemudian jam. Jam setengah 9 mereka sampai rumah Taufiq, dan langsung di sambut oleh Aisyah dan Taufiq.
"Assalamualaikum," ucap semua.
"Wa'alaikumsalam," jawab Taufiq dan Aisyah.
"Ayo masuk dan istirahat dulu, baru nanti turunkan barang."Ujar Taufiq.
"Tanggung Fiq, ayo bantu biar cepat rampung. baru istirahat."Ujar Fatur.
Akhirnya Taufiq membantu menurunkan barang yang di atas mobil. Setelah selesai mereka masuk langsung ke meja makan. Semua mata tertuju pada Asifa yang menatap makan di hadapannya dengan tatapan kosong.
Sebutan princess dari papanya itu, Asifa seperti putri di buatnya. Itu juga di lakukan oleh Ardi dan keluarga Dinata, tapi kini semua musnah, hancur luluh lantah.
"Apa gunanya aku punya semuanya tapi aku hancur. Kalian tega membawaku terbang, kalian berikan semua yang ku mau bahkan ya tidak ku minta. Setelah itu kalian dorong aku keluar hingga terjatuh ke bumi lagi sampai hancur luluh lantah dengan tanah. Aku benci kamu mas, hiz hiz hiz....."
Belum sempat Asifa membanting piring yang sudah di angkat dengan kedua tangannya.
Sudah di tahan dengan Aisyah dan mamanya, pak Herman langsung berdiri menarik kursi Asifa. Setelah itu pak Herman memeluknya dengan erat sambil mengusap kepala Asifa.
"Istighfar sayang, sudah jangan kamu tangisi lagi. Dan tidak akan papa biarkan, mereka menyakiti mu lagi."pak Herman membujuk Asifa biar tenang.
"Sakit.... pa, aku tidak mau ketemu lagi, mereka jahat pa....".
"Iya kamu tidak akan ketemu mereka sekarang kita aman ya. Kamu tidak boleh pikirkan mereka lagi, lupakan jadi itu kenangan dan masa lalu. Di sini banyak orang yang sayang dan mengerti kamu untuk menata masa depan."Bujuk pak Herman.
__ADS_1
"Nanti mereka akan menghina Asifa juga pa aku....''
"Sayang ada kakak yang akan membela mu tidak usah takut ya."Aisyah yang sudah ada di belakang Asifa.
Fahmi menatap iba pada Asifa sungguh miris melihatnya. Dia sediri pernah hancur saat orang yang di cintai selingkuh dengan orang yang kaya.
Sedangkan Asifa, memilih bercerai dari pada di madu. Seharusnya jika mantan suaminya ingin bahagia dan memiliki keturunan tidak perlu sibuk mengawasi mantan istrinya. Dan ikut campur lagi urusannya Asifa, apa mereka memang ingin Asifa menderita. Fahmi berjanji akan menghapus nama Ardi dari pikiran dan hati Asifa. Meski tak mungkin dapat terhapus, setidaknya nama Ardi tidak lagi sepenuhnya ada di hatinya Asifa.
...****************...
Sebulan kemudian.
"Zahra ya mantan istri dari Ardi Kusuma Dinata bukan ya?" tanya wanita itu yang ada dihadapan Asifa.
"Maaf maksudnya apa ya?"
"Alah pakai nanya segala, saya tahu kok kamu itu bercerai karena tidak mau di madu kan. Kasihan banget sih, masih muda cantik tampak sempurna fisik. Tapi sayang tidak sesuai dengan Yana nampak di pandang mata." wanita itu mengejeknya
"Terus apa salah mbak, saya kan tidak menggangu mbak to?"tanya Asifa
" Zahra kamu itu JANDA apa kamu masih belum paham hah!"bentak wanita yang terlihat cantik dan glamor.
"APAKAH SALAH JANDA jika saya tinggal di sini bu. Apa ada larangan JANDA tidak boleh tinggal di sini?"tanya Asifa, penuh penekanan.
"Ya tidak apa-apa kalau kamu itu sudah tua dan keriput."Kata wanita itu dengan tatapan dan senyum sinis.
"Ya ini kenyataannya jika saya cantik, memang apa ibu tergantung dengan kehadiran saya.
"Iya karena ada kamu suami ku, selalu membandingkan saya sama kamu!!!... Bahkan suamiku dalam tidurnya selalu menyebut nama, aku membencimu Zahra!!"Membentak Asifa.
"Eh Bu makanya jang cuma muka yang di rawat pakai bedak sekilo. Suaminya itu juga butuh di rawat, di layani bukan menyalakan orang. Belum tentu saya mau dengan suami ibu, karena saya bukan pelakor......
__ADS_1
*****Bersambung....