
Dua minggu telah berlalu.
Salsa terbangun dari tidurnya karena merasakan basah di bagian pinggul. Setelah matanya terbuka ia meraba di bawah tempat tidurnya. Ternyata basah kemudian ia melihat jam dinding menunjukkan pukul 3 pagi. melihat suaminya masih tidur pulas, bingung harus bagaimana.
Namun setelah ia duduk baru terasa perutnya mulas yang luar biasa. Setelah mereda ia membangun Ardi, bahwa dirinya akan melahirkan. Sebab itu yang basah bukan air seni, melainkan air ketuban.
"Mas, mas bangun mas."Salsa menggoyangkan tubuhnya suaminya.
"Eem, apa sayang mas masih ngantuk." Kata Ardi sambil merubah posisi tidurnya.
"Mas sepertinya saya mau melahirkan, Ak..." Teriak salsa di ujung kalimat.
Ardi langsung duduk mendengar istrinya berteriak kesakitan. Ia langsung ke kamar mandi cuci muka, kemudian ganti baju lebih dulu. Setelah itu ia mengambil baju untuk Salsa, lalu membantu Menganti bajunya dengan gamis dan kerudung instan. Tanpa memakai daleman lagi, ia memberikan baju yang berbahan tebal dan gelap. Sehingga tidak menerawang, jika berjalan menuju ke mobil.
Kemudian ia mengambil perlengkapan bayi dan ibu, yang sudah di siapkan untuk lahiran. Tidak lupa dompet dan ponsel miliknya dan istri. Lalu membantu Salsa berdiri, setelah itu ia menuntun Salsa keluar dari kamar dengan hati-hati. Sesekali berhenti saat Salsa merasa mulas, dan pasti mencengkeram erat lengan Ardi. Sampai Ardi juga meringis kesakitan karena cengkeraman Salsa.
"Sakit mas...."Salsa merintih kesakitan saat mulas itu tiba.
Ardi tidak tega dengan rintihan istrinya, mobil masih belum siap. Semua orang masih pada tidur, ia berusaha menenangkan diri sendiri. Saat menghadapi istri yang akan melahirkan, ia harus tenang supaya istrinya tidak panik.
"Sabar ya sayang, kita akan kerumah sakit ini." Ucap Ardi sambil mengusap perut Salsa, untuk menenangkan Salsa yang kesakitan.
Setelah sampai teras beberapa pengawal yang siaga dan satpam gerbang langsung menghampiri. Ada pula yang langsung lari mengambil kunci mobil. Untuk menyiapkan mobil, untuk membawa nyonya Dinata pergi ke rumah sakit. Ada yang menelpon Antonio, Rudi dan Luna selaku pengawal pribadi Salsa dan Ardi. Ada yang membantu membawa tas perlengkapan bayi dan ibu.
Mobil sudah di depan Ardi dan Salsa, Ardi langsung membantu sang istri masuk ke dalam mobil. Lalu dirinya pun masuk mendampingi istrinya yang merintih kesakitan. Pengawal yang membawa tas itu ikut masuk mobil bagian depan. Selama pengawal pribadi belum ada yang siap, maka mereka yang mendampingi majikannya.
__ADS_1
Beberapa menit kemudian mereka sampai di rumah sakit. Salsa langsung di bawa ke bagian ruang bersalin. Dan langsung di tangani oleh dokter spesialis kandungan yang sudah dihubungi oleh Ardi saat di mobil tadi. Ardi terus mendampingi istrinya yang akan melahirkan putra pertamanya.
Proses melahirkan berjalan selama 1 jam, yang akhirnya lahirlah juga keturunan keluarga Dinata. Kini lahirlah cicit keluarga Dinata, yang di nanti-nanti selama ini. Ardi menangis haru mendengar suara tangis bayi yang di tunggu selama ini. Ia bersyukur bayinya lahir dengan sehat tidak kurang satu pun.
"Terima kasih ya sayang, atas perjuangan mu untuk baby kita." Ardi memberikan ciuman di keningnya Salsa.
"Alhamdulillah, akhirnya sampai juga saya jadi ayah. Selamat datang ke dunia ya sayang," ucap Ardi, mencium keningnya.
"Silahkan di adzani tuan." kata suster perawat itu. Yang sudah menyerahkan bayi laki-laki tersebut pada Ardi.
"Baik suster, terima kasih ya," yang menerima bayinya.
Kemudian ia mengadzani anaknya, setelah selesai ia pun memberi ciuman di seluruh wajahnya.
"Iya tampan sekali, kenapa wajahmu semua ya yang di miliki putra kita?" tanya Salsa, yang cemburu melihat anaknya sangat mirip dengan ayahnya. Tidak ada sedikit pun darinya yang di miliki oleh putranya.
"Mungkin karena dia laki-laki, apa lagi ibunya saat mengandungnya sering kali marah pada ayahnya." Kata Ardi sambil mengusap kepala Salsa, setelah menyerahkan putranya di pangkuan istrinya.
Salsa mencerna ucapan suaminya, apa yang di katakan suaminya benar. Selama dirinya keluar dari rumah sakit, sering marah dan tidak ingin jauh dari Ardi. Bahkan saat Ardi kerja dan bertemu dengan klien yang seorang perempuan cantik. Ia sudah marah pada Ardi dan menuduh Ardi yang tidak-tidak.
"Tapi itu karena saya tidak ingin kehilangan mas, semua itu karena saya terbiasa bersama mas. Selama berbulan-bulan kita di rumah sakit, mas tidak sedikit pun meninggalkan saya. Rasa takut kehilanganmu itu selalu menghantui, sampai terbawa mimpi mas."Kata Salsa yang kini menangis antara kesal, menyesal, senang jadi satu.
"Sayang, jangan masa lalu itu kamu bawa di dalam rumah tangga kita. Sebab itu akan berdampak buruk pada rumah tangga kita. Saling menjaga satu sama lainnya, mas tidak ingin kehilangan mu juga. Apa lagi putra kita, sekarang membutuhkan kita. Jangan pernah berpikir akan perpisahan, karena itu termasuk doa. Berpikirlah yang positif, baik-baik saja semuanya. Supaya semua juga baik-baik saja, langgeng, dan bahagia untuk rumah tangga kita sayang." Nasehat Ardi pada istrinya, sudah tidak ingin lagi di curigai terus menerus oleh istrinya.
Ardi mengusap air mata Salsa, dan mencium seluruh wajahnya. Ia berusaha memberikan ketenangan jiwa untuk istrinya. Dan tidak ingin istrinya menangis terus, yang akan berdampak buruk untuk ibu paska melahirkan.
__ADS_1
"Maafin saya ya mas, karena terlalu berlebihan."Ucap Salsa.
"Ya sayang, tanpa kamu minta maaf pun sudah mas maafkan. Sekarang kita mulai menata rumah tangga kita untuk menjadi lebih baik lagi ya." Ucap Ardi, di angguki oleh Salsa sebagai jawaban.
"Permisi tuan, nyonya Salsa akan kami pindahkan ke ruang rawat sesuai permintaan anda." Ucap salah satu perawat yang akan memindahkan Salsa.
"Oh ya, silahkan." Ardi menyingkir.
"Sayang mas belum sholat subuh, mas ke musholla dulu ya. Nanti mas langsung ke ruang rawat inap ya." Pamit Ardi pada Salsa.
"Iya mas," hanya itu yang keluar dari mulut Salsa, karena tidak ingin menghalangi suaminya untuk beribadah.
Saat ini jam menunjukkan pukul 05:15 WIB, Ardi baru ingat bahwa dirinya belum melaksanakan sholat subuh. Karena mendampingi istrinya melahirkan, maka ia segera pergi menuju ke musholla yang ada di rumah sakit tersebut.
"Antonio bawa baju ganti saya tidak?" tanya Ardi saat berada di luar ruangan bersalin.
"Ini tuan muda sudah saya bawakan," Menyodorkan paper bag berisi baju ganti Ardi.
"Baik, terima kasih ya. Tolong awasi istri saya, saya mau ke musholla dulu." Perintah Ardi pada pengawal pribadi nya.
"Siap tuan, silahkan anda ke musholla." Jawab Antonio.
Ardi tidak berkata apa-apa lagi langsung pergi menuju ke musholla rumah sakit. Semuanya pengawal berjaga-jaga di depan ruangan bersalin. Dan akan mengawal salsa yang akan di pindahkan ke ruang rawat inap VVIP.
*****Bersambung.......
__ADS_1