APAKAH SALAH JANDA

APAKAH SALAH JANDA
79.Ta'aruf


__ADS_3

Saat ini semua sudah masuk para anak muda berada di ruang tamu dan orang tua di ruang keluarga.


Aisyah yang tadi di rumah tetangga, pun langsung mengajak Atifah pulang karena dirinya ingin membantu mamanya menyiapkan minuman dan cemilan.


Obrolan emak-emak muda.


"princess imut sini, ada teman baru ini sini sama tante Asifa." Ajak Asifa pada ponakannya yang lucu dan imut.


"Tante Asifa apa tante Zahra sih namanya tante princess?"tanya Atifah.


"Terserah yang mau panggil tante dengan nama siapa. Yang penting masih ada nama tante, asal tidak membuat yang manggil tante ini pusing."Jawab Asifa.


"Memang nama tante incess siapa?"tanya Atifah, yang mulai banyak tanya karena ingin tahu.


"Sih anak kecil selalu benar." Ucap Diana.


"Iya benar itu, pak Fahmi saja panggil nya Zahra. Harus jawab yang benar ya, biar anak anak-anak tidak gagal paham."Ucap Yosi.


"Iya ya. Dengar tante ya princess imut nya umi Aisyah. Nama tante itu, Asifa Az Zahra. Pertanyaan tante, Atifah mau panggil tante apa?"tanya balik Asifa pada ponakannya Yana lucu.


"Tante Asifa ajalah. Atifah mau main sama siapa?" tanya Atifah sambil menatap anak-anak sebayanya yang duduk bersama ibunya.


"Safira"


"Aulia"


Arsila dan Diana bersamaan.

__ADS_1


Membuat Atifah bingung hendak memilih siapa. Lalu menatap satu persatu secara bergantian.


"Atifah bisa main dengan Safira dan Aulia bersama ya. Mau main apa ini princess imut umi?" tiba-tiba Aisa ikut bicara memberikan masukan pada putrinya yang sedang bingung. Membantu emak-emak muda, menjawab rasa bingungnya Atifah.


"Ayo di minum dan di cicipi ini kue dari toko AZ ZAHRA. Owner toko ada di depan kalian ini."Ucap Aisyah sambil menunjuk Asifa.


"Wah enak ni ngicip di rumah gratis gratis. Tidak harus beli sekarang bisa besok, baru ke toko AZ ZAHRA nya." Ucap Yosi.


"Benar itu, kapan lagi kita kumpul begitu."Timpal Diana.


"Kalau itu kamu aja Di, kalau kami bisa kapan saja." Memang mereka tinggal di wilayah yang sama hanya berbeda perumahan saja.


"Hahahaha," tertawa renyah lah mereka


Mereka lanjut dengan obrolan nya kesana kemari. Yang jelas kebersamaan ini sangat menghibur Asifa. Sehingga mengalihkan pikiran Asifa tentang perceraian nya dengan Ardi.


Obrolan para orang tua, Fahmi dan Taufiq.


"Saya tidak mengerti bisa bertemu dengan ustadz Taufiq Hidayat di sini."Kata pak Daryanto.


"Saya di sini bukan ustadz pak. Saya rasa panggil Taufiq akan lebih enak di dengar."Kata Taufiq.


"Baiklah nak Taufiq. Oh pak Herman ada yang ingin saya sampaikan. Sebenarnya waktu ini kurang tepat kalau di sampaikan sekarang.


Tapi kalau di pikir dengan pandangan agama Islam. Niat baik jangan di tunda-tunda, lebih cepat lebih baik. Bukan begitu nak Taufiq? yang mana nak tau sendiri adalah yang sering mengingatkan."Kata pak Daryanto minta pendapat dan dukungan Taufiq, selalu teman curhat Fahmi.


" Memang lebih baik begitu pak, tapi apa harus sekarang?" tanya Taufiq.

__ADS_1


"Ini maksudnya apa ya pak, nak?"tanya pak Herman pada pak Daryanto dan Taufiq. Dengan tatapan penuh tanya pada keduanya. Jujur saja ia bingung dengan ungkapan pak Daryanto yang belum jelas arahnya


"Begini pa, Fahmi ini menaruh hati pada Asifa. Memang masa Iddah ini masih belum selesai. Bagaimana jika mereka ini ta'aruf saja dulu. Sambil menunggu masa Iddah nya Asifa." Taufiq menjelaskan tujuan pak Daryanto pada mertuanya.


"Apa nak Fahmi sudah pikirkan, Karena saya pribadi tidak mau nantinya nak Fahmi menyesal. Itu sama saja mempermainkan sebuah pernikahan?"tanya pak Herman.


"Insya Allah ini pilihan yang di ridhoi Allah. Sebab sebelum saya menyampaikan maksud dengan orang tua, dan mas Taufiq. Saya lebih dulu melaksanakan sholat istikharah. Dan sebagai jawaban atas izin Allah, adalah dek Zahra. Insya Allah saya menerima kekurangan dek Zahra. Karena saya sendiri juga bukan lelaki sempurna di mata manusia. Yang memang tidak ada manusia yang sempurna. Tujuan pernikahan itu sendiri untuk saling melengkapi dan menyempurnakan agama dan ibadah pak."Jawab Fahmi dengan perasaan gugup namun berusaha untuk santai.


"Alhamdulillah kalau nak Fahmi bisa menerima kekurangan Asifa. Untuk itu apa perlu, kita adakan pengikatan langsung. Untuk Asifa sendiri, saat ini juga tidak pernah memilih. Tapi kami sempat membahas tentang jodoh beberapa hari lalu. Semoga Allah memberi jalan terbaik dan lancar untuk pernikahan yang akan dilaksanakan kurang dari dua bulan."Ucap pak Herman.


"Bisa kalau begitu alangkah lebih baik sekarang saja pak. Apa lagi tujuan ini juga bisa mengalihkan pikirannya nak Asifa tentang masa lalunya. Sehingga mas Asifa lebih sibuk dengan pikiran untuk menuju masa depannya. Untuk peresmian pengikat atau enak ngomong lamaran nanti pas hari libur mungkin."Usul pak Daryanto.


Pak Herman tampak berpikir sejenak, usulan pak Daryanto itu ada benarnya. Bisa jadi Asifa sibuk memikirkan bagaimana pernikahan nya dengan Fahmi. Hari pernikahan, buat acara seperti apa, undangan pernikahan dan lain sebagainya.


"Baik mungkin kita juga bisa melibatkan teman-temannya. Hari ini juga tidak masalah pak toh ini acara sederhana. Sekalian acara makan malam bersama, kita biar Aisyah dan mama pada masak. Itu juga kalau pada tidak keberatan, atau mau delivery saja ma?"tanya pak Herman pada istrinya.


"Siap pa, insya Allah bahan di kulkas cukup. Apa mama sekalian panggil Asifa nya pa, tapi apa ini tidak terlalu cepat pa? mama cuma takut menyinggung perasaan saja."Ada kecemasan di hati bu Hafsah.


"Insya Allah tidak sayang, bismillah ini demi kebaikan nya."Ucap pak Herman, sambil menggenggam tangan istrinya.


"Baiklah saya panggil Asifa untuk kesini bersama yang lain." Langsung beranjak dari duduknya lalu berjalan menuju ruang tamu.


"Apa yang di katakan oleh mama ada benarnya sih pa."Kata Taufiq.


"Coba nanti saja bagaimana jawaban Asifa, kalau ia maka nanti bakda isya langsung pengikatan. Seperti yang di katakan pak Daryanto tadi, lagian kalau jodoh tak kan kemana. Mungkin hanya butuh waktu yang tepat saja, toh kita tidak tahu jalan sudah di tentukan Allah." Ucapannya pak Herman penuh keyakinan, akan jalan yang sudah di tentukan oleh yang maha kuasa.


Sementara bu Hafsah memanggil Asifa dan yang lain. Dan meminta Aisyah untuk membantu nya memasak untuk makan malam nanti.

__ADS_1


Asifa di papah oleh bu Hafsah, anak-anak di serahkan dulu oleh Amir. Setelah sampai di ruang keluarga Asifa di minta duduk di sebelah papanya. Di ikuti bu Hafsah, posisi Asifa saat ini berada di tengah.


*****Bersambung......


__ADS_2