APAKAH SALAH JANDA

APAKAH SALAH JANDA
80.Merasa dipermainkan


__ADS_3

Asifa merasa bahwa semua orang telah menatap dan memperhatikan dirinya. Ia mengangkat wajahnya dan menatap semua orang yang ada di ruang keluarga. Yang tadi lega sekarang jadi sempit di tambah lagi semua mata tertuju pada nya.


Asifa langsung menunduk, dan salah tingkah di buatnya. Wajahnya bersemu kemerahan karena malu jadi pusat perhatian.


Kemudian menoleh ke arah papanya untuk bertanya ada apa gerangan, memanggil semua yang ada di ruang tamu.


"Ada apa papa kumpulkan semua di ruang keluarga ini?"tanya Asifa pada papanya, yang menatapnya dengan senyum manis.


"Sayang kamu ingat kan obrolan kita kemarin di rumah sakit?" bukannya menjawab malah balik bertanya pada Asifa.


Asifa mengenyitkan kening, apa hubungannya dengan obrolan di rumah sakit. Dan obrolan yang mana yang papanya bahas saat ini.


"Obrolan yang mana pa?"tanya Asifa dengan bingungnya.


"Tentang permintaan ayah mu."Jawab pak Herman dengan santai.


"Tapi apa hubungannya dengan papa mengumpulkan semua orang saat ini?"tanya Asifa yang masih bingung dengan keinginan papanya.


"Ada hubungannya sayang makanya papa tanya kamu."Jawabnya, yang semakin membuat Asifa bingung.


Sebab menurut Asifa papanya terlalu berbelit-belit dan kelamaan. Kenapa tidak langsung pada intinya saja, kenapa harus muter-muter.


"Kenapa tidak ke intinya saja sih dan kenapa harus muter-muter. Bikin Asifa tambah pusing tahu tidak. Apa lagi urusannya ada hubungannya dengan ayah lagi. Bisa tidak pa, gak usah sebut-sebut lagi mereka. Mana dari tadi yang di bahas masa lalu terus."Gerutu Asifa dengan wajah yang sudah merah padam. Antara capek hati, kesal, dengan papa nya yang memanggil hanya untuk menanyakan hal yang tidak penting lagi itu. Menurut Asifa, sebab pak Herman tidak mengerti perasaan Asifa saat ini.


"Dengar kan penjelasan papa dan jawab jika papa tanya, mengerti?"tanya pak Herman dengan muka serius menatap putrinya.

__ADS_1


"Apa yang kan papa bahas ini Unu masa depan mu. Papa tidak ingin kamu juga memikirkan meraka terus sayang. Ini tentang permintaan ayah mu, yang memang aneh itu. Yang meminta papa untuk menikah kamu dalam waktu 3 bulan. Tapi papa juga tidak mau gegabah, sebab pernikahan ini adalah pernikahan yang terakhir buatmu. Maka dari itu papa minta sama kamu untuk istikharah. Minta sama yang maha kuasa untuk pilihan jodoh dunia akhirat. Apakah kamu sudah melakukan sholat istikharah?"tanya pak Herman di kalimat terakhir, Asifa hanya mengangguk sebagai jawaban atas pertanyaan papanya.


"Apa sudah ada jawaban dari istikharah itu?"tanya pak Herman.


"Belum pa, belum jelas. Emang kenapa sih? apa papa punya kandidat nya? Cepat amat papa nemunya. Kayak lagi cari mainan untuk Atifah cepat banget."Asifa bertanya sekaligus ngomel.


Membuat semua tertawa, karena ucapannya Asifa.


"Kenapa apa ada yang lucu?"tanya Asifa sambil cemberut, kesal di tertawakan.


Hal itu membuat Fahmi merasa Asifa sangat menggemaskan. Membuat dirinya berpikir yang tidak-tidak. Namun segera sadar, segera ia beristighfar. Untuk menjernihkan pikiran nya kembali.


"Sayang papa tidak lagi cari kandidat calon suami mu. Tapi pemuda itu sendiri yang menyampaikan pada papa untuk ta'aruf. Kalau ada kecocokan, maka setelah masa Iddah mu selesai. Maka papa akan melangsung pernikahan untuk mu. Bagaimana apa kamu mau ta'arufan dengan pemuda yang papa maksud?" tanya pak Herman pada putrinya Asifa.


"Papa kan sudah bilang sayang, pemuda itu sendiri yang datang untuk minta ta'arufan. Karena pemuda itu mengikuti, jawaban dari istikharah nya. Dan siapa juga yang akan menjodohkan mu. Cukup perjodohan itu di masa lalu mu, tidak masa depan mu. Dari ta'aruf itu jika kalian berjodoh pasti akan menemukan jalan menuju pernikahan. Tapi jika tidak ya tidak apa-apa, tapi papa sebenarnya berharap kalian berjodoh."Jawab pak Herman dengan melirik ke arah Fahmi. Yang di lirik menjadi salah tingkah, dan tersimpan malu.


Asifa masih bingung dengan ucapan papanya, mencernanya setiap kata dan kalimat. Kapan dan di mana pemuda yang itu menjumpai papanya. Asifa mengedarkan pandangannya ke arah semua orang dan berhenti pada Fahmi. Yang juga sedang menatap dirinya dengan senyum manisnya. Segera Asifa menunduk, malu dan jadi salah tingkah.


"Apakah Asifa pernah ketemu sama orang yang papa maksud?"tanya Asifa, masih tetap menunduk karena malu semua kembali menatap nya.


"Pernah, malah beberapa hari lalu dia juga yang menangkap mu saat pingsan dan mengendong mu ke mobil. Kalau tidak percaya tanya saja sama kakak ipar mu." Jawab pak Herman sambil menoleh pada menantunya. Saat Asifa ikut menatap kakak iparnya, Taufiq langsung mengangguk sebagai jawaban.


Namun Asifa pikir salah satu pengawal nya saat dirinya pingsan. Padahal pengawal kalah cepat dengan Fahmi.


Yang saat itu Fahmi tepat berada di samping Asifa bersama dengan Andik. Yang berada di belakang Asifa, dengan jarak satu meter dari Asifa dan setengah meter dari Fahmi.

__ADS_1


"Kalau begitu papa bertemu di mana? dan kapan?"tanya Asifa.


"Hari ini, pemuda itu datang juga tanpa papa minta."Jawab pak Herman.


"Papa kenapa malah main teka teki sih? ini sudah mau magrib. Apa papa tidak mau sholat ke masjid? Kenapa papa malah bikin adegan drama, tidak lucu tahu." Manyun lah Asifa, merasa di permainkan oleh semua orang hari ini.


Bagaimana tidak? dari pagi di buat bosan, lalu tiba-tiba Yosi datang. Di susul mamanya bersama Arsila, belum selesai atas keterkejutannya datang lah keluarga Fahmi bersama sahabatnya Diana. Lanjut obrolan yang membahas masa lalu. Dan apa sekarang membahas ta'aruf pakai drama.


Sudah capek pikiran, fisik, dan capek hati dan perasaan semakin tidak karuan. Antara kesal, marah, bahagia dan penasaran menjadi satu.


"Bukan maksud papa untuk buat drama sayang. Tapi papa cuma antisipasi saja takut kamu syok dan pingsan kembali. Kan tidak lucu baru kemarin sore pulang, sekarang balik lagi."Kata pak Herman dengan senyum meledek, membuat Asifa tambah kesal.


"Benar nih mau tahu?" Asifa mengangguk saja tak ingin menjawab dengan suara. Karena masih kesal dengan papa membuat Asifa jengkel.


"Apa pun yang terjadi nanti papa tidak mau kamu menolaknya. Jalani saja dahulu hari ini juga kamu dan calon suami mu melakukan pengikatan sebagai tanda bahwa kalian adalah calon pengantin."Kata pak Herman.


"Asifa merasa ini seperti perjodohan deh. Katanya tadi cuma ta'arufan, tapi langsung pertunangan dan jadi pasangan calon pengantin. Apa maksudnya coba."Gerutu Asifa.


"Sekarang papa tanya kamu mau ta'arufan sama pemuda itu atau tidak? Kalau iya, maka papa kasih tahu orang nya siapa. Kalau tida, ngasih tahu kamu siapa pemuda itu." Kata pak Herman, membuat Asifa berpikir sejenak.


Kalau mau, dirinya masih ragu. Kalau di tolak menjadi teka-teki yang membuat penasaran. Memejamkan matanya dan menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskan perlahan.


"Bismillahirrahmanirrahim, Asifa yakin pada pilihan papa."Ucapnya Asifa setelah membuka matanya.


*****Bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2