APAKAH SALAH JANDA

APAKAH SALAH JANDA
81.Detak jantungnya Asifa


__ADS_3

"Bismillahirrahmanirrahim, Asifa yakin pada pilihan papa."Ucapnya Asifa setelah membuka matanya.


"Alhamdulillah," terdengar semua orang mengucapkan syukur, dan turut merasakan bahagia. Terutama Fahmi, ia bahagia perempuan yang ia cintai mau menerima di ajak ta'arufan dengannya.


"Tapi...."Asifa menggantung ucapan nya.


Ucapan Asifa yang menggantung itu membuat Fahmi


"Tapi apa sayang, apa ada keraguan di hati mu?"tanya bu Hafsah, yang sejak tadi hanya diam saja, kini bersuara.


"Asifa cuma takut akan kekurangan ku membuat keluarga nya tidak merestui pernikahan kami." Ada kecemasan di wajahnya yang cantik. Menggambarkan apa yang membuat hati yang masih penuh keraguan. Yang akan di tolak oleh keluarga calon suaminya.


"Ini sudah di diskusikan dengan keluarga sayang. Insya Allah mereka akan menerima mu karena Allah."Kata pak Herman, menyampaikan apa yang ia ketahui tadi. Bahwa pak Daryanto menerima Asifa apa adanya. Dengan segala kekurangan dan kelebihan Asifa.


Ada sedikit rasa lega, yang membuat Asifa bernafas lega. Karena yang ia takutkan tidak akan terjadi. Tapi ia masih penasaran dengan pemuda yang mau menerima perempuan yang seperti dirinya. Yang mana dia di anggap sebagai perempuan cantik namun tidak sempurna. Namun di dalam hatinya Asifa berharap ada harapan untuk bisa merasakan menjadi seorang ibu. Sebab tidak ada manusia yang dapat mengetahui rencana Allah.


"Lalu kapan rencana kita bisa memberikan jawaban pada orang yang papa maksud?" Apakah orang tersebut akan datang ke rumah hari ini atau kapan?"tanya Asifa dengan malu-malu dan menunduk.


"Cie.... ada yang penasaran nih."Ledek Diana.


"Tenang dek, kalau jodoh gak kemana toh masih lama kan untuk menuju halal." Timpal Taufiq yang melirik Fahmi, membuat yang di lirik tersipu malu.


"Sekarang juga ada di depan mu, kenapa harus nunggu. Yang perlu di tunggu cuma tanggal pernikahan kalian."Jawaban pak Herman membuat Asifa membelalak tak percaya.


Deg..


Kemudian melihat orang yang ada di depan nya. Seorang lelaki tampan, yang tengah tersenyum manis dan sama tengah menatapnya. Asifa kembali menatap papanya, lalu memastikan.

__ADS_1


"Maksudnya mas Fahmi pa?"tanya Asifa dan di Jawab dengan anggukan kepala sebagai jawaban.


Asifa tidak menyangka jika Fahmi yang telah mengajaknya ta'aruf. Mungkin ini yang namanya rencana Allah SWT tidak ada yang tahu. Asifa masih belum yakin sepenuhnya jika tidak mendengar langsung dari keluarga Fahmi sendiri.


"Bagaimana nak Asifa, apa ada yang akan di tanyakan?"tanya bu Fatimah.


Asifa menatap bu Fatimah yang nantinya akan menjadi mertuanya itu. Mungkin dengan ini akan terjawab semua yang membuatnya ragu.


"Apa yang membuat mas Fahmi mengajak Asifa ta'aruf?"tanya Asifa.


"Karena saya menaruh hati pada mu dek, sejak pertama kali melihat mu. Lebih tepatnya saat dek Zahra datang ke rumah yang di Jakarta. Saya juga ingin menghalalkan dek Zahra sebagai penyempurna agama dan ibadah."Jawab Fahmi dengan penuh keyakinan untuk meyakinkan Asifa.


"Apa ini tidak terlalu cepat mas? kenapa mas begitu yakin ingin menghalalkan saya. Sementara di luar sana masih banyak perempuan yang sempurna. Yang mungkin saja saat ini sedang ngantri, untuk di halalkan juga oleh mas Fahmi. Kenapa harus Asifa?" tanya Asifa sambil memainkan jari-jarinya.


Pertanyaan Asifa memang benar kenapa Fahmi begitu yakin jika Asifa adalah perempuan pilihan nya. Sementara di luar sana banyak yang antri dari dosen sampai mahasiswi. Belum lagi di tempat lain, terutama para tetangga juga menawarkan putrinya untuk jadi istrinya. Namun hatinya tidak ada nama lain selain Zahra.


"Karena saya mengikuti kata hati dan hasil dari sholat istikharah. Jawab dari istikharah itu adalah dek Zahra seorang." Jawab Fahmi dengan mantap.


Fahmi mengatakan yang sesungguhnya atas petunjuk dari istikharah. Yang ia lakukan beberapa minggu lalu, saat Fahmi yang selalu terbayang-bayang dengan senyum manis Asifa.


"Tapi apa mas Fahmi tidak akan menyesal untuk kedepannya. Karena pasti mas Fahmi juga sangat menginginkan keturunan. Sedangkan saya bukan perempuan sempurna, karena saya tidak bisa memberikan keturunan dan membahagiakan mas kelak?"tanya Asifa karena trauma jika kelak keturunan yang membuat Fahmi kecewa padanya.


"Insya Allah tidak, karena saya juga memiliki kekurangan. Dan atas petunjuk Allah juga saya yakin. Tidak ada yang tidak mungkin, Allah lah yang memiliki kehendak. Dan takdir manusia hanya Allah yang dapat merubah berkat doa. Saya hanya ingin menjalani kehidupan dunia akhirat bersama dek Zahra. Maukah Asifa Az Zahra menikah dan menua bersama dengan ku?"tanya Fahmi dengan mantap dan menatap Asifa penuh harap.


Dag Dig Dug


Detak jantungnya Asifa begitu cepat bahkan rasanya sulit bernafas. Wajahnya juga bersemu merah bak tomat. Menarik nafas dalam-dalam lalu membuangnya.

__ADS_1


"Bismillahirrahmanirrahim. Mau mas, asal mas Fahmi sabar menunggu waktu itu tiba."Dengan malu-malu Asifa menjawab pertanyaan Fahmi, tanpa menatap lawan bicaranya.


"Alhamdulillah, terima kasih sudah menerima ta'aruf ini. Insya Allah sabar menunggu waktu yang tepat untuk menghalalkan mu."Sungguh bahagia dengan respon Asifa, senyuman itu tampak dilihat oleh kedua keluarga.


Setelah mendengar ucapan Asifa Fahmi mengambil sebuah kotak berwarna merah. Yang tadi ia beli sebelum menjemput ibu dan bapaknya. Ini Fahmi siapkan untuk seminggu lagi untuk mengikat Asifa. Lalu Fahmi memberikan pada ibunya, untuk memakai kan pada Asifa.


"Ibu minta tolong pakai kan pada dek Zahra ya."Ucap Fahmi.


"Iya nak, dengan senang hati."Ucapnya dengan senyum penuh ketulusan.



Setelah membuka kotak tersebut bu Fatimah memainkan pada Asifa. Gelang itu sekarang berada di lengan kiri Asifa.


"Maaf dek saya hanya bisa memberikan mengikat yang sederhana. Dan ini hanya emas 24 karat biasa, bukan berlian."Ucap Fahmi.


"Ini pun sudah Alhamdulillah mas. Bagi saya yang paling penting niatnya, bukan pemberiannya. Sebab itu hanya untuk simbol atas keseriusan mas Fahmi. Asifa suka dengan pilihan mas Fahmi, walau hanya yang biasa namun luar biasa. Karena ini tidak jauh berbeda dengan yang berlian."Ucap Asifa.


Memang gelang yang di berikan Fahmi, terkesan mewah. Jika orang biasa juga akan mengira itu berlian.(Jika orang yang silau akan harta, dan bodoh gelang Asifa ini di bilang gelang berlian ya percaya aja.) Namun Asifa yang sudah mengenal semua jenis perhiasan tentu tahu.


"Terima kasih sudah mau menerima pinangan orang biasa seperti saya. Semoga Allah SWT memudahkan niat baik kita. Aamiin,"ucap Fahmi.


"Sama-sama mas, Aamiinn. Oh ya itu di masjid sudah persiapkan sholat magrib. Bukankah kalian punya kewajiban untuk sholat di masjid."Ucap Asifa mengingatkan untuk tidak meninggalkan kewajiban.


"Ah iya, terima kasih sudah mengingatkan."Ucap Fahmi dengan senyum manisnya, karena kini hatinya sedang berbunga-bunga. Ia tidak menyangka jika calon istrinya ini masih ingat Allah. Ketika sedang dalam suasana bahagia dan mengharukan.


*****Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2