
Setelah kepergian Andik dan bawahnya menuju ke Jakarta. Yang lebih tepatnya lagi, pulang ke majikannya yang asli.
"Huff, akhirnya aku bebas dari sangkar emas dan aku bisa terbang bebas. Ah.... Aku merasakan betapa segarnya udara di luar ini."Ucap Asifa dengan merentangkan kedua tangannya. Menikmati udara segar dan kebebasan dari keluarga Dinata membuatnya bahagia.
"sebahagia itu dirimu dek, bisa bebas dari keluarga Dinata. Semoga aku bisa membahagiakan diri mu dengan cara ku yang sederhana."Kata hati Fahmi, yang sejak tadi memandang Asifa yang tengah tersenyum bahagia. Atas kebebasannya dari keluarga mantan suaminya.
"Sayang ayo masuk kamu harus istirahat kan baru keluar dari rumah sakit."Ajak bu Hafsah.
"Ih..., mama ini. Aku itu tidak sakit jasmani ma. Tetapi sakit hati dan batin ku, jadi yang ku butuhkan itu bukan istirahat tapi hiburan."Kata Asifa dengan cemberut, karena kesal dengan mamanya. Sebab dirinya di samakan dengan orang yang sakit dan lemah.
Asifa kesal karena dirinya hanya membutuhkan hiburan, harusnya di ajak liburan. Bukan di suruh rebahan, diam saja di kamar.
(Aduh Asifa jangan nyindir para author ya, yang punya kerjaan rebahan aja di rumah. Hiburan nya cuma baca cerita para author lain.)😅😅😅
"Ya maaf sayang, mama pikir kamu baru sehat. Dan kemarin sampai tadi siang di infus, pasti masih lemas. Jadi mama bilang istirahat, kalau sudah vit nanti kita ke candi Prambanan atau ke candi Borobudur."Ujar bu Hafsah di angguki oleh pak Herman.
"Benar ya ma, Asifa mau harus minggu ke sana. sama Amir juga. Kalau hari biasa mana Amir tidak bisa ikut, kasihan dia. Kalau sekarang sore ini Asifa pengen main sama anak-anak."Kata Asifa.
"Siap princess, apa sih yang tidak untuk princess papa ini. Sekarang kita masuk untuk istirahat sambil nunggu waktu ashar tiba. Setelah ashar princess boleh main sama anak-anak di rumah saja."Ujar pak Herman.
"Iya ya, tetap saja aku di kurung lagi,"Ucapnya dengan bibir manyun.
"Eh jangan manyun dong, nanti cantik nya hilang lo."Bujuk pak Herman, melihat putrinya manyun.
"Sudah hilang pun, kan kalau Asifa cantik dan sempurna tidak mungkin sekarang jadi janda."Kata Asifa dengan nada kesal, lalu menghentak kakinya dan masuk ke dalam.
"Yah ma, ngambek tu princess papa."Kata pak Herman melihat Asifa ngambek.
__ADS_1
"Nanti ke temu sama Amir dan Atifah juga tersenyum lagi."Kata bu Hafsah lalu masuk kedalam rumah.
Fahmi melihat Asifa yang manyun dan kesal dengan kedua orang tuanya. Karena di suruh istirahat, biar pun kesal tetap menurut.
"Ih biar kesal tetap nurut, lucu kalau lagi ngambek begitu. Eem andai sudah halal itu bibir, is pikiran ini kenapa jadi kotor ya. Apa efek lama menduda, sekarang menemukan tambatan hati. Jadi ber pikir macam-macam, ingat Fahmi belum waktunya. Astaghfirullah...,"Kata Fahmi panjang lebar.
"Pak saya langsung pulang saja ya sudah sore."Pamit Fahmi.
"Oh ya Allah, saya sampai lupa masih ada nak Fahmi. Maafkan saya ya, maklumi ya faktor U."Ucap pak Herman pada Fahmi.
Fahmi tersenyum "ya pak, saya bisa ngerti. Karena bapak juga butuh istirahat, sudah dua hari di rumah sakit pasti sangat lelah. Bapak masuk dan istirahat, saya pamit assalamualaikum."Ucap Fahmi langsung pergi setelah mencium tangan pak Herman.
"Wa'alaikumsalam, hati-hatilah nak."Jawab pak Herman.
Setelah Fahmi pergi pak Herman baru masuk ke rumah. Di dalam ruangan keluarga pak Herman di sambut oleh kedua cucunya.
"Kakek kue buatan umi enak kek, sini duduk sama Ifah ya kek."Celoteh Atifah yang tidak mau kalah dengan kakaknya.
"Baiklah kakek duduk di tengah ya dan kakek mau di suapin kue sama princess imut dan prince tampan."Ucap pak Herman pada kedua cucunya.
"Aduh manisnya...., kok nenek tadi tidak di sambut ya. Bahkan tidak ada yang suapin kue buatan umi Aisyah. Umi Aisyah nyambut Abi, tadi nenek tidak di tawarin kue juga. Huhuhuhuhu,"bu Hafsah pura-pura menangis.
Atifah melihat neneknya menangis, langsung turun menghampiri sang nenek. Yang lain tersenyum, Amir yang tahu kalau nenek cuma pura-pura pun cuma tersenyum.
"Aduh kasihan nenek ku yang cantik, sini Ifah yang suapin, Aaaa,"ujarnya Atifah, sambil menyodorkan kue ke mulut sang nenek.
"Aaaem...., uh ternyata rasanya lebih enak kalau di suapin sama princess imut ya kek."Ucap bu Hafsah, sambil menoleh ke pak Herman.
__ADS_1
"Iya nek ini kue buatan umi, sudah enak di tambah lagi suapan dari tangan princess imut."Ucap pak Herman dengan gaya menikmati kue yang di suapkan Amir. "Ini juga suapan tangan prince Amir, enak juga."Lanjutnya bercanda dengan senyuman manisnya.
"Mas Amir nenek mau dong di suapin juga."Pinta bu Hafsah.
"Aaaa nek ini kue sangat manis semanis senyum nenek tentunya."Ucap Amir sambil tersenyum manis dan mengedipkan matanya sebelah.
"Aaaem, iya manis seperti gombalan Amir." Bu Hafsah langsung menarik Amir dalam pelukannya. "Ternyata cucu nenek yang satu ini sudah besar ya, belajar gombal dari siapa nih?"tanya bu Hafsah pada cucu pertamanya.
"Hehehe dari kakek dan Abi lah nek. Kan kakek sering gombalin nenek dan tante Zahra. Abi suka gombalin umi, kalau Amir kan belum punya pacar. Jadi gombalin nenek aja, hehehe,"jawab Amir sambil cengengesan.
"Eh kalau cuma gombalin nenek boleh, tapi tidak boleh ya gombalin anak perempuan. Amin harus fokus belajar dulu sekarang baru kelas 4 kan. Nanti kalau sudah lulus, lanjut ke pondok pesantren mbah kung ya." Ujar Taufiq.
"Siap Abi, insya allah cuma perempuan di rumah kita dan di rumah kakek aja. Paling nanti nambah rumah mbah kung."Ucap Amir sambil tersenyum mamerin giginya.
Taufiq cuma mengangguk, menanggapi ucapan Amir. Ya Taufiq mengajarkan pelajaran agama sejak kecil. Terlebih Taufiq di besarkan di lingkungan pesantren dan masih keluarga pesantren.
Sementara di kamar Asifa, yang baru masuk ke dalam kamarnya. Baru saja mau duduk di tepi ranjang. Namun ia urungkan, karena mata melihat koper yang di berikan bu Gina.
Lalu ia berjalan menuju meja rias, di mana ada map coklat. Map yang berisi surat wasiat, yang belum di buka dan di bacanya. Di ambil lah map itu, lalu di buka tali merah tersebut.
Terdapat beberapa kertas HVS ukuran dan selembar kertas polio. Lengkap dengan geresan tinta yang di buat bu Gina.
*Teruntuk putri ku Asifa;
"............."
*****Bersambung
__ADS_1