APAKAH SALAH JANDA

APAKAH SALAH JANDA
104.Ingin jadi orang biasa


__ADS_3

"Apa ada yang kalian sampaikan?"tanya pak Arya, yang menatap keduanya.


Andik menoleh pada Irgi, Irgi pun sama. Kemudian Irgi memberi kode pada Andik, apa pun keputusan nya nanti ia akan ikut.


"Saya dan Irgi ingin berhenti kerja tuan besar."Jawab Andik dengan mantap.


"Apa yang membuat kalian ingin berhenti?"tanya Ardi yang merasa janggal.


"Saya ingin berhenti jadi pengawal saja dan ingin jadi orang biasa tuan muda. Karena selama ini saya kerja juga karena nyonya muda Asifa. Dan sekarang nyonya muda Asifa sudah tidak butuh pengawal dan menjadi rakyat biasa. Maka saya pun ingin seperti, menurut saya hidup juga lebih tenang." Andik mengutarakan unek-unek nya selama ini.


Salsa merasa dirinya tidak ada apa-apa di bandingkan Asifa. Setiap pengawal dan pelayan rumah pun sayang dengan Asifa.


"Apa mungkin Asifa dari kalangan mereka, terus begitu nikah dengan mas Ardi. Asifa tetap baik dengan mereka. Sehingga mereka sangat akrab dan menganggap Asifa lebih penting dari pada majikannya."Kata dalam hati Salsa, yang merasa iri dengan posisi mantan istri suaminya itu.


Ardi merasa tertampar dengan ucapan Andik, ia memang tahu jika pada pengawal pribadi mantan istrinya itu. Sangat menyayangi Asifa, terlebih lagi Andik. Sebab Asifa sangat mirip dengan adik perempuan Andik yang telah meninggal dunia. Ia bersyukur tidak di habisi oleh Andik dan kelompoknya. Jika Andik berhenti maka kelompok nya pun pasti berhenti juga.


"Apa kelompok mu juga akan berhenti?"tanya Ardi, dia bingung jika haru mencari pengawal yang profesional seperti kelompok Andik.


"Saya tidak meminta mereka berhenti, jika mereka mau bertahan kerja dengan keluarga Dinata. Saya ingin berhenti sendiri, tapi Irgi punya rencana yang sama."Jawab Andik dengan santai, memang Andik tidak akan minta para anak buahnya ikut berhenti.


Apa lagi jika belum pasti menerima pekerjaan baru. Tentu itu akan menjadi pertimbangan mereka, apa lagi yang sudah berkeluarga. Sangat membutuhkan banyak biaya ini dan itu. Sudah pasti tidak mudah untuk mereka kedepannya.


"Baiklah saya juga tidak ingin ada yang terpaksa. Nanti setelah dari sini tolong kamu diskusi kan dengan kelompok mu. Apa mereka mau melanjutkan kerja pada kami. Dan siapa yang akan menggantikan posisi mu. Setelah ada hasilnya langsung menghadap pada saya."Kata pak Arya, ia sangat paham dengan Andik.


"Baik tuan besar akan saya beri kabar secepatnya." Kata Andik.


Adzan Dzuhur berkumandang, tanda waktu sholat Dzuhur sudah tiba. Para laki-laki pergi sholat di masjid yang tak jauh dari rumah pak Herman. Yang perempuan juga berjamaah di ruangan itu, termasuk Asifa.


Setelah sholat Asifa bergegas ke kamarnya untuk menghindari segala macam pertanyaan. Dari yang lain tentang kejadian tadi sebelum waktu Dzuhur tiba.


Setelah selesai sholat mereka kumpul kembali di ruang keluarga. Sambil menunggu makanan yang di pesan Fahmi tiba. Saat ini memang semua Dudu di atas karpet, jadi bisa kumpul di ruang keluarga. Kemudian Fahmi berdiri saat mendengar ada yang mengucapkan salam.


Andik dan Irgi mengikuti Fahmi, jika di lihat mereka tampak seperti mengawal tuan. Yang sebenarnya akan jadi pengawal sesungguhnya. Namun merangkap menjadi karyawan restoran BERKAH BERSAMA dan toko kue AZ ZAHRA. Kecuali Andik, karena ia memilih menjadi supir pribadi sekaligus pengawal Asifa.


Tak berapa lama Fahmi masuk dengan membawa kotak makan yang berlogo BERKAH BERSAMA. Di ikuti oleh Andik dan Irgi, membantu membawa kotak makan tersebut.


"Ma, ini untuk makan siang kita," ucap Fahmi pada calon mertuanya, yang langsung di bagikan. Andik membawa bagian untuk anak-anak, yang memang di pisahkan dari orang tua.

__ADS_1


"Masya Allah sudah datang rupanya, ya sudah ayo kita makan semua."Langsung saja menikmati makanan tersebut.


Masih sisa dua kotak maka Fahmi pun menaruh nasi kotak itu di atas meja makan. Yang lain sudah faham pasti makanan itu untuknya dan Asifa.


Sedangkan Andik Irgi dan Fahmi ke depan rumah Asifa. Untuk memberikan makanan sama yang lain kelompok Andik. Sambil mendiskusikan, langkah selanjutnya yang akan melakukan. Fahmi sedang memainkan ponselnya, tepat sedang chatan dengan calon istrinya.


Zahra sayang ♥️.


"Assalamualaikum dek,"


(......)


"Ini mas sudah beli makan siang untuk kita."


(......)


"Belum, tapi kalau adek mau makan lagi mas ikut saja 😁🤗"


(.......)


"Ya sudah mas masuk lagi dan ambil nasi buat kita adek tunggu dekat mama dan ibu ya.🥰🥰🥰


Mas Fahmi.


"Wa'alaikumsalam mas,"


(.......)


"Memang mas Fahmi sudah lapar kembali?"


(......)


Asifa berpikir sejenak, memang ia belum lapar tapi bagaimana jika calon suaminya menunggu lagi. Sudah pasti menahan rasa laparnya kembali demi makan bersamanya.


" Baiklah kalau begitu Zahra keluar, dan kita makan bersama lagi tapi saya mau bersama yang lain."


(......)

__ADS_1


Cekrek


Asifa nongol dari kamar dan melihat ke arah mamanya dan calon mertuanya. Yang masih kosong, lalu ia berjalan ke tempat tersebut.


Fahmi berjalan menuju tempat duduk Asifa dan memberikan makanan untuk calon istrinya. Dengan senyum malu-malu, Fahmi memberikan pada Asifa. Lalu ia berjalan ke arah pak Herman yang memang di sana yang kosong.


Bagaimana tidak malu semua mata memperhatikan dirinya, yang sedang memberikan perhatian pada Asifa. Karena niatnya Fahmi yang ingin menghapus nama Ardi di dalam hati dan pikiran Asifa.


Tidak jauh beda dengan Fahmi, Asifa menjadi pusat perhatian. Sebab sejak tadi Asifa tidak mau menatap mereka sama sekali. Bahkan terkesan menghindar, sehingga membuat mereka penasaran.


"Sayang kenapa sih dari tadi menunduk, apa kamu takut kalau kami ini akan memakanmu." tanya Aisyah dengan senyum menggoda.


"Kakak itu bikin aku tambah malu aja." Rengek Asifa dengan manja, dan menyembunyikan wajahnya di balik punggung mamanya.


"Eh, malu kenapa coba say," timpal Diana.


"Aku malu pokoknya, tidak bisa jelasin nya." Keluh Asifa dengan nada kesal.


"Pasti ini ulah Fahmi, yang sudah buat kamu malu kan dek?"tanya Anis.


Asifa tidak menyahut sama sekali, karena malu rasanya ingin masuk ke lubang semut aja. Sedangkan si pembuat ulah, makan dengan santai dan pura-pura tidak mendengar. Beberapa detik kemudian pak Daryanto bersuara, membela putra semata wayangnya. Jika kakak beradik ini ribut atau debat pasti pak Daryanto berpihak pada putranya.


"Wajarlah jika calon suami menggoda calon istrinya sendiri. Yang tidak boleh itu menggoda calon istri orang atau istri orang, Bisa runyam urusan."Ucap pak Daryanto.


"Hem..., Aku juga heran deh, kamu itu bucin habis. Tapi kenapa masih ada perempuan yang bodoh, macam mantan mu itu."Ejek Anis.


"Kan kalau tidak begitu aku tidak bisa dapat dek Zahra, mbak."Jawab Fahmi dengan senyum manisnya.


******Bersambung.....


Yuk mampir ke karya ku yang ini, kisah kehidupan gadis kecil yang malang.


Sambil menunggu episode selanjutnya.



Atau kisah Dara yang bertemu jodohnya di sebuah bus kota.

__ADS_1



__ADS_2