APAKAH SALAH JANDA

APAKAH SALAH JANDA
29.Air untuk siapa


__ADS_3

Pak Herman keluar dari kamar Fahmi, di mana Asifa tidur. Melihat sosok laki-laki yang tidur di ruang tamu menggunakan kasur lantai. Fahmi tidur tanpa bantal tergeletak begitu saja.


"Ya Allah ini anak kenapa tidak pakai bantal tidur."Kata pak Herman.


Pak Herman balik lagi ke kamar melihat Asifa sudah benar benar tertidur.


"Sayang kamu ke kamar duluan nanti mas nyusul yah."Perintah pak Herman. Lalu tangannya mengambil bantal dan dan berjalan keluar.


"Iya mas. Terus kenapa mas bawa bantal lagi, di kamar sebelah sudah lengkap tidak kurang bantal tadi aku lihat?" tanya bu Hafsah, bingung kenapa suaminya mengambil bantal lagi.


"Bukan mau di bawa ke kamar, ini untuk nak Fahmi sayang, kasihan dia tidur di lantai tak pakai bantal. Kita ini yang numpuk kenapa seperti yang punya rumah."Berhenti sejenak kemudian berjalan lagi.


Pak Herman mendekati Fahmi dan memberikan bantal pada Fahmi.


"Nak ini pakai bantalnya nanti kepala mu sakit." Berkata sambil mengangkat kepalanya Fahmi dengan pelan hal itu membuat sang empunya bangun.


"Eeemm makasih." Ucapnya membenarkan kepalanya di bantal mencari kenyamanan, lalu tidur lagi.


Pak Herman tersenyum melihat Fahmi antara sadar dan tidak nya. Wajah lelah begitu terlihat dari wajah Fahmi. Pak Herman langsung beranjak dari duduknya segera ke kamar mandi untuk membersihkan diri sebelum istirahat.


...****************...


Bagaimana Fahmi tidak lelah, sore tadi di baru pulang dari Jogja. Karena dia ada interview kemarin di salah satu universitas Jogja. Ternyata di sana dia berjumpa dengan Taufiq temannya lagi di pondok dulu.


Lalu Taufiq menceritakan tentang Asifa pada Fahmi. Entah mengapa tiba-tiba jantung Fahmi berdetak tak seperti biasanya. Dan merasa bahwa dirinya harus melindungi Asifa dari masalah yang sedang di hadapinya. mendengar permintaan Taufiq dia dengan mudah mengiyakan. Dan segera memberikan alamat yang di Jakarta timur tempat tinggal saat ini. Dia pun ingin segera pindah juga dari Jakarta untuk ke Yogyakarta. Karena dia juga sudah tidak di Jakarta dan akan mulai bekerja di Jogja.

__ADS_1


Setelah sholat subuh, Fahmi berangkat ke Jakarta dengan bus antar kota. Sore baru juga selesai membersihkan diri sudah di hubungi oleh Taufiq untuk memastikan bahwa dirinya sampai dengan selamat. Karena menunggu seseorang yang akan datang kerumahnya dia jenuh dan mengantuk. Namun dirinya tetap berusaha untuk tidak tidur, dengan membersihkan rumah. Mulai dari tempat tidur hingga sampai dapur dia bersihkan. Selesai dia mencari makan dengan menunggu tukang nasi goreng, di pos ronda. Di sana pos ronda ada berjumlah 6 orang anak muda, sebaya dan lebih muda darinya. sedang menonton pertandingan sepak bola, mereka cukup akrab dan bercengkrama.


Setelah selesai makan nasi goreng, tak lama ada perempuan yang naik ojek online. Berhenti tepat di depan rumahnya, beberapa pemuda bertanya pun dia tidak tau. Karena dia pun masih ragu, bukannya yang akan datang tiga orang, kenapa ini hanya satu orang.


Bang Komarudin memanggilnya sedikit perbincangan dan setelah tukang ojek pergi dari mobil bang Komar keluar dua orang paru baya. Menghampiri gadis di depannya dan ternyata ini orang yang sedang dia tunggu-tunggu datang. Yang tidak lain adalah mertuanya temannya Taufiq, membawa adik iparnya.


Sungguh Fahmi mengagumi sosok Asifa yang memang cantik namun bernasib malang sama dengan nasibnya. Fahmi rumah tangganya kandas, karena dia tidak memiliki pekerjaan tetap. Sehingga sang istri yang tidak tahan dengan keadaan akhirnya selingkuh. Sedangkan Asifa yang tak kunjung memiliki keturunan harus kandas pula. Karena sang suami ingin memiliki keturunan segera hingga Asifa memilih berpisah.


...****************...


Menjelang subuh Asifa sudah bangun dan dirinya segera keluar dari kamar karena haus. Dan air minum di kamar yang di sediakan oleh Fahmi habis. Saat keluar dari kamar dia tidak menemukan, Fahmi namun ada suara gemericik air dari kamar mandi. Dia pun menoleh ke kamar sebelah dimana kedua orang tuanya tidur.


Asifa berjalan menuju dapur untuk mengambil minum. Karena sudah tidak tahan tenggorokan terasa kering. Dia mengambil air di dispenser, setelah gelas berisi air hangat. segera balik badan dan bertepatan dengan Fahmi yang keluar dari kamar mandi.


Mereka saling pandang untuk beberapa saat akhirnya mereka sama-sama memalingkan wajahnya. Karena sama-sama malu, dan ingat bahwa mereka bukan mahram, harus menjaga pandangan dari lawan jenis.


"Sudah mas, apa mas Fahmi ingin ke masjid? jauh apa tidak?"tanya Asifa sambil berjalan mengikuti Fahmi.


"Saya ke musholla dekat kok tidak jauh paling jalan 2 menit. Memang dek Zahra mau ikut ke musholla?"tanya Fahmi balik, yang kini duduk di sofa dan menatap gelas berisi air yang dibawa Asifa.


"Tidak mas saya lagi libur, mungkin papa bisa ikut biar saya bangunkan dulu." Kata Asifa dan berjalan ke arah kamar yang di tempati papa mamanya.


"Dek Zahra bawa air untuk siapa?"tanya Fahmi, yang penasaran kenapa Asifa bawa air dan untuk siapa.


"Hehehe, ja jadi lupa, saya tadi haus."Jawab Asifa, malu dan gugup.

__ADS_1


"Silahkan duduk dulu lalu minum, baru membangunkan pak Herman."ujar Fahmi dengan lembut dan santun.


"I iya mas,"lalu Asifa duduk di sofa tunggal, segera minum air hangat itu dengan bertahap, hingga habis. Di letakkan gelas di meja dan dia bangkit dari duduknya membangunkan papanya.


tok tok tok


"Pa...papa... pa... bangun sudah mau subuh."


tok tok tok


"Pa... pap..."Pintu kamar sudah terbuka.


"Iya sayang papa sudah bangun" langsung menangkup wajah putrinya dan mengecup kening.


"Alhamdulillah dan sembuh, terima kasih sudah ketuk pintu buat bangun papa. Sebenarnya papa dah bangun, nunggu mama ambil baju untuk papa."Kata pak Herman, menoleh pada istrinya yang sudah berdiri di sebelahnya. "Terima kasih bidadari ku" mengambil yang di berikan istrinya itu lalu berjalan menuju kamar mandi.


Asifa dan bu Hafsah menunduk malu ketika mendapati tatapan Fahmi yang begitu dalam.


Fahmi sendiri terkagum dengan keharmonisan rumah tangga pak Herman. Terlintas di benaknya, apa mungkin dulu saat masih beristri dia kurang romantis sama istrinya. Sehingga istrinya mencari perhatian pada laki-laki lain. Atau memang mantan istrinya itu kurang bahagia, baik kasih sayang dia berikan namun hidup dalam kekurangan. Yang membuat mantan istrinya itu memilih bersama laki-laki lain.


"Maaf nak Fahmi suami saya memang seperti itu, saya jadi malu sama nak Fahmi."Ujar bu Hafsah.


"Tidak apa-apa bu, saya terharu melihat keharmonisan rumah tangga ibu dan bapak. Karena saya sama dengan Dek Zahra, gagal dalam membina rumah tangga." Ujar Fahmi.


"Saya kira nak Fahmi masih lajang belum pernah menikah."Kata Bu Hafsah.

__ADS_1


*****Bersambung....


__ADS_2