APAKAH SALAH JANDA

APAKAH SALAH JANDA
110.Panggilan spesial


__ADS_3

"Assalamualaikum pak Herman, nona Asifa."Ucap semuanya


"Wa'alaikumsalam......."Jawab Asifa dan pak Herman, Fahmi hanya lirih.


"Maaf ya jadi nunggu lama, ada perlu apa ya? datang kemari dan apa yang membuat Fajar dan Ares ke sini?" tanya pak Herman langsung pada pokok kedatangan mereka.


"Tidak apa-apa pak. Oh ya pak, mereka adalah anak kelompok saya."Jawab Andik.


Jawaban Andik, membuat Asifa dan pak Herman saling pandang. Kemudian menatap Andik kembali dengan tatapan bingung.


"Maaf sebelumnya pak, dek, saya memasukkan mereka ke toko kue AZ ZAHRA. Dan menjadi karyawan toko, itu atas permintaan saya. Tapi semua itu tanpa sepengetahuan bapak atau pun keluarga Dinata."Kemudian Andik, menceritakan tentang maksudnya, dan tujuan Andik kesini.


Maksud kedatangan Andik yang akan membantu dan menjaga keluarga Hermansyah dan Daryanto. Untuk berkerja sama dengan baik, sebagai partner bisnis. Bukan sebagai pengawal, sehingga tidak terlihat orang yang penting seperti keluarga Dinata.


"Baiklah jadi dengan sebagai apa kalian bekerja sama dengan kami?"Tanya pak Herman, dan di angguki oleh Taufiq dan Fahmi.


"Bukan kah Asifa dan mas Fahmi sama-sama lagi fokus dengan bisnisnya masing-masing? Saya akan tetap di posisi yang selalu mendampingi Asifa. Irgi yang akan menjadi orang keduanya mas Fahmi, setelah mas Zaki bagaimana?"tanya Andik, pada Fahmi dan Asifa .


"Serahkan segala kebutuhan karyawan dan yang lain sebagainya pada kami. Dan untuk cabang toko kue AZ ZAHRA yang akan di buka minggu depan. Sesuai dengan keinginan Asifa saya sudah dapatkan, dengan tempat yang strategis dan nyaman. Untuk seminggu ke depan apakah Asifa dan ibu siap traning para chef kita. Saya tahu jika untuk cabang nanti pasti tidak akan mengubah atau mengurangi rasa percaya pada pelanggan kata bukan? Maka dari itu kami sudah menyebarkan informasi pekerjaan tadi sore. Semua sudah saya kantongi identitas mereka yang mau berangkat."Andik menjelaskan secara detail.

__ADS_1


"Baiklah, kalau itu yang terbaik. Asifa percaya dengan pilihan kakak pasti tidak akan salah. Karena sudah bisa di andalkan sejak beberapa tahun ini oleh keluarga Dinata. Tapi bagaimana Asifa membayar kalian, karena Asifa tidak seroyal keluarga Dinata?"tanya Asifa, yang merasa bingung menggaji mereka.


"Saya juga setuju dengan dek Zahra." Timpal Fahmi, di angguki oleh pak Herman dan Taufiq.


Bukan nya menjawab Andik malah menggoda Fahmi, yang membuat Asifa tersipu malu.


"Rupanya mas Fahmi sudah memiliki panggilan spesial untuk Asifa ya. Terutama saat berada di dekat Asifa tidak pernah salah nama 'dek Zahra' itu dari awal saya berjumpa. Tepatnya saat Asifa pingsan, kata yang keluar 'dek Zahra' duh..., siapa coba yang bisa tak meleleh. Iya kan dek Zahra....?" Kata Andik yang menatap Fahmi dan Asifa, sambil tersenyum menggoda.


Fahmi bisa melihat rona wajah cantik Asifa itu menjadi merah bak kepiting rebus. Asifa tidak berani mengangkat wajahnya untuk menatap yang lain. Apa lagi di ruangan ini banyak yang laki-laki, yang perempuan hanya Asifa dan mamanya.


"Harus lah mas, saya akan menjadikan dek Zahra ratu di hatiku. Dan bidadari di dunia dan akhirat nanti Insya Allah."


Ucapan Fahmi membuat hati Asifa berbunga-bunga, yang kini sedang bermekaran. Tanpa ia sadari tersenyum manis, sebab kini ia bahagia.


Akhirnya Asifa sadar bahwa dirinya terbawa suasana yang nyaman ini. Yang di berikan pada orang-orang yang selalu ada untuknya.


"Kakak bisa fokus dulu, jangan mengalihkan pembicaraan."Kata Asifa dengan tegas.


"Iya, kirain kamu sudah hanyut dek, dengan gombalan mas Fahmi yang so sweet."kata Andik, dengan senyum manisnya.

__ADS_1


Meski Asifa tidak melihat Andik ia tau pasti saat ini Andik sedang tersenyum manis dan menggoda dirinya.


"KAKAK,"dengan suara lantang Asifa, dapat membuat Andik berubah seperti awal. Yang mana tadi mereka sedang membahas tentang pekerjaan.


"Maaf," Andik menghela nafasnya sebelum menjawab pertanyaan Asifa tadi.


"Untuk bayar tenang saja, bayarkan lah sebagai karyawan pada umumnya. Dek Sifa tidak perlu menyesuaikan gaji kami saat kerja pada keluarga Dinata. Karena kakak sudah menganggap adek kandung sendiri. Dan kalau boleh saya juga ingin menjadi bagian keluarga Hermansyah. Dan menjadi anak laki-lakinya keluarga Hermansyah, selain mas Taufiq dan mas Fahmi."Kata Andik pada pak Herman dan yang lainnya.


"Kalau saya dengan senang hati ya ma, tapi kalian walau pun saudara tidak akan papa biarkan saling bersentuhan dengan lawan jenis. Sebab kalian bukan mahram, Apa lagi kalian ini ketemu juga sudah pada dewasa. Berbeda dengan saudara sepersusuan, biarkan tidak sekandung tapi sepersusuan. Masih boleh bersentuhan sebab adanya sepersusuan tidak ada bedanya dengan saudara kandung." Kata pak Herman, dengan memberitahu hal penting pada Andik.


Andik tidak kaget sama sekali, akan larangan itu. Sebab ia pun sudah paham agama sejak lulus SMAN. Karena dulu ia juga pernah belajar di pondok pesantren xxx Surabaya. Memang Andik memiliki kelompok bela diri, dan kelompok sebagai pengawal atau bodyguard. Itu ia buat sejak ia kehilangan keluarganya, yang berawal bapaknya memang seorang satpam bank swasta.


Yang mana menjadi satpam bank, tidak bisa sembarangan. Harus lulus berbagai teks, dan peraturan yang berlaku di setiap negara. Bahkan di wajibkan memiliki ilmu bela diri, untuk bagian tertentu.


Satpam bank juga ada syarat khusus, karena mereka juga harus tahu produk bank dan layanan yang diberikan agar ketika pelanggan bertanya bisa memberikan informasi dengan tepat. Sektor jasa memang lebih butuh satpam dengan pengetahuan dan sikap ramah. Beda dengan penjaga gudang, yang dibutuhkan kadang fisik untuk menangani pencurian.


"Saya paham pak, sebab saya juga pernah belajar di pondok pesantren xxx Surabaya. Setidaknya saya masih bisa merasakan kehangatan dan kebahagiaan bersama keluarga. Lagian saya datang kepada keluarga ini, bukan modus untuk mendapatkan kedua putri bapak dan ibu. Apa lagi mereka sudah punya pasangan dan saya pun sudah punya istri tercinta."Kata Andik dengan senyum penuh ketulusan.


"Alhamdulillah...., kalau sudah paham. Besok boleh kan papa ketemu menantu dan cucu papa? Mama senang tidak kalau nambah cuci lagi?"Setelah berkata dengan Andik pak Herman menoleh dan bertanya pada istrinya. Di jawab dengan senyum sumringah dan anggukkan oleh bu Hafsah.

__ADS_1


Hal ini membuat Andik dan Asifa senang. Andik langsung berdiri dan melangkah ke arah pak Herman dan bu Hafsah. Kemudian bersimpuh di depan pak Herman, mencium tangan pak Herman. Menangis di panggung pak Herman, sungguh bahagia ia bisa merasakan lagi memiliki orang tua. Meski pun bukan orang tua kandung, tapi dapat mengobati rasa rindu pada kedua orang tuanya.


*****Bersambung....


__ADS_2