APAKAH SALAH JANDA

APAKAH SALAH JANDA
47.Ardi dan Asifa syok.


__ADS_3

Fahmi yang mendengar ucapan Ardi, mendadak jantung rasanya berhenti berdetak. Tapi dirinya sadar, kalau Asifa bukanlah siapa-siapa baginya.


Kini Ardi dan Fahmi menunggu jawaban Asifa, yang akan menjawab apa.


Sementara Taufiq tersenyum, melihat raut wajah mereka berdua. Dan Taufiq yakin jika adik iparnya akan menolak permintaan Ardi.


"Maaf mas, saya memang memang sudah memaafkan mas. Tapi maaf cermin yang ada di depan mata mas ini sudah hancur. Walau pun bisa di perbaiki namun sudah tidak dapat menerima bayangan mas dengan sempurna. Bahkan sangat sulit untuk mengenali bayanganmu sendiri. Akan lebih baik mas lupa kan dan mencari yang lebih baik dan sempurna. Agar bisa menutupi kekuranganmu, supaya tidak ada lagi yang tersakiti."Jawaban Asifa panjang lebar, dan tidak lagi air mata untuk Ardi.


Mendengar jawaban Asifa, Ardi menatap perempuan yang sangat ia cintai. Sungguh penyesalan memang tidak bisa di kembalikan. Sangat sakti hatinya tidak dapat di gambar lagi. Tanpa terasa air matanya mengalir tanpa permisi. Kini dia bisa merasakan apa yang di rasakan Asifa sebulan lalu.


"Maafkan saya Asifa, maaf kini saya tahu apa yang kamu rasakan. Sungguh saya sangat sulit melupakan mu, di tambah lagi keinginan ibu yang membuat sulit. Tapi saya akan berusaha untuk melupakan mu, dan saya janji tidak akan lagi mengganggu mu. Tapi saya mohon untuk terakhir kalinya kamu mau ya memenuhi permintaan opa. Berbicaralah sesuatu yang dapat opa mengerti, sehingga opa tidak lagi merasa bersalah pada perpisahan kita."Kata Ardi panjang lebar dan sambil mengusap air matanya yang membasahi pipinya.


Asifa dapat melihat ketulusan hati Ardi. Namun Asifa tidak ingin kembali ada yang terluka lagi di antara mereka berdua. Mendengar permintaan ibu dan permohonan Ardi agar mau menemui pak Surya. Membuat Asifa tidak tega, maka ia akan pikirkan nanti.


"Masalah opa akan saya pikirkan,"Asifa berkata tanpa menatap lawan bicaranya.


"Terima kasih dek sudah mau mempertimbangkannya, saya harap kamu beneran datang menemui opa."Ujar Ardi senang mendengar ucapan Asifa.


Sedangkan Taufiq dan Fahmi senang mendengar jawaban Asifa. Terutama Fahmi ada yang lega di dalam dadanya tidak lagi sesak.


Sudah tidak ada lagi yang di bahas antara Asifa dan Ardi. Sehingga terasa hening dan hanya suara hilir mudik para dokter dan perawat di RS tersebut.


"Keluarga bu Gina"teriak dokter dari ambang pintu.


"Saya dokter"jawab Ardi yang langsung menghampiri dokter tersebut dan di ikuti Asifa.


"Bagaimana keadaan ibu saya dok?"tanya Ardi dokter yang masih tampak cantik tersebut, meski tak lagi muda.


"Kondisi ibu anda saat ini kritis tuan. Untuk mengetahui apa penyakit beliau butuh pemeriksaan yang detail secara keseluruhan. Dan itu dapat di ketahui besok paling cepat tuan."Ujar dokter itu menjelaskan pada Ardi atau pun Asifa.


Dokter yang memiliki nametag Stevani itu menjelaskan keadaan bu Gina saat ini. Dan ucapan dokter itu membuat Ardi dan Asifa syok, bahkan Taufiq atau Haris yang lain syok.


"Apa? apa yang di deritanya dok, selama ini ibu baik-baik saja. Memang beberapa hari ini ibu saya sakit namun tidak mau di ajak ke rumah sakit. Dan hanya ingin obat yang sudah di beli di dan resep dari dokter yang kebetulan itu sahabat ibu saya."Ujar Ardi pada dokter yang menangani bu Gina.

__ADS_1


"Apakah obat itu di bawah, agar kami dapat mengetahui beliau sakit apa?"tanya dokter.


Asifa yang mendengar pertanyaan dokter pun langsung memberikan tas milik bu Gina. Sementara Asifa tidak membawa apa-apa, karena panik, jangankan tas dompet, ponsel saja tidak membawa.


"Ini tas milik ibu dokter, dan ini ada beberapa obat beliau."Ujar Asifa.


Dokter Stevani itu menatap Asifa, dengan keterkejutan nya. Kini menatap wajah Asifa dan Ardi secara bergantian.


"Apakah ini dengan nona Asifa dan tuan Ardi?"dokter itu malah bertanya.


"Iya dok"


"Iya dok..."menjawab secara bersamaan.


"Maaf tuan saya tidak mengenali anda tadi jika nona Asifa tidak ikut bicara."Dokter tersebut menjadi canggung.


"Ya tidak apa-apa dokter, bisa kah dokter lanjut pemeriksaan ibu saya."tegas Ardi.


"Baik tuan di tunggu kami akan periksa obat yang di konsumsi oleh nyonya Gina. Saya permisi dulu ke lap."Kata dokter tersebut dan langsung pergi dari hadapan Ardi dan Asifa.


Ardi ingat akan setia permintaan dan ucapan ibunya beberapa hari lalu dan tadi siang. Tiba-tiba dadanya terasa sesak untuk bernafas, lebih sesak dan sakit saat mendengar ucapan mantan istrinya.


Asifa yang melihat mantan suaminya, yang kini duduk dan menatap ke depan. Namun tatapan itu kosong, ia pun merasa iba.


Asifa tidak mau bicara dan menatap terlalu lama ia tahu jika saat ini mantan suaminya itu sedang terpukul atas apa yang terjadi pada ibunya.


Haris pun sama yang sejak tadi syok, ia bersyukur masih mau mengabari tuannya sebelum nyonya nya drop. Entah apa yang terjadi jika sekarang ini ia baru mengabari tuannya. Tapi pikirannya masih belum tenang jika tuan besar belum mengetahui.


Tapi harus bagaimana memberitahu tuan besarnya tentang keadaan nyonya nya. Akhirnya dia minta pendapat nyonya muda nya.


"Maaf nyonya muda, apakah saya harus memberi kabar tuan besar?"tanya Haris.


"Apa ayah tidak tahu kalian datang ke sini?"tanya balik Asifa, bukan menjawab malah bertanya.

__ADS_1


"Ini atas permintaan nyonya besar, agar tidak memberi tahu kemana kami pergi. Nyonya hanya mengatakan, bahwa nyonya akan pergi ke rumah temannya. Saat di bandara Soekarno Hatta tadi kondisi nyonya sempat tidak setabil dan hampir terjatuh. Saat sampai bandara Yogyakarta saya tidak mau ambil resiko. Jadi saya memberi tahu tuan muda, jika nyonya di sini dalam keadaan tidak baik. Makanya tuan muda datang belakangan, tanpa bertegur sapa dengan nyonya besar."Haris menjelaskan pada Asifa.


"Kalau begitu biar saya yang mengabari ayah. Bisakah kamu hubungi ayah saya tidak bawa ponsel."Pinta Asifa.


Tidak lagi bertanya dan berpikir, Haris langsung menghubungi tuan besar nya.


"Assalamualaikum, malam tuan."Ucap Haris saat panggilan tersambung dengan tuan besar.


"Wa'alaikumsalam, malam ada apa Haris kamu menghubungi saya?"jawab dari seberang.


"Eem maaf tuan besar ini nyonya muda ingi bicara."Kata Haris dengan gugup.


"Apa maksudmu Asifa?" tanya pak Arya.


"Benar tuan, silahkan nyonya."memberikan ponsel nya pada Asifa.


Asifa menerima namun sebelum menjawab menatap Taufiq, karena gugup.


Taufiq faham maksudnya adik iparnya tersebut langsung mengambil ponsel lalu ia tekan luospeaker.


"Assalamualaikum yah,"ucap Asifa.


"Wa'alaikumsalam sayang, gimana kabar mu nak, ayah sangat merindukan mu, apa lagi ibu setiap hari menangisi mu." Ucap pak Arya, yang senang mendengar suara putri yang sangat ia rindukan.


"Asifa baik yah, sekarang Asifa sedang bersama ibu dan mas Ardi."Namun pas dengan Asifa selesai dengan kalimat nya. ada suara ambulans.


wieu wieu wieu (agar suara ambulans ya guys)


"Sayang kamu di mana? kenapa ada ambulans? kalian tidak apa-apa kan Ardi mana sayang?"tanya pak Arya beruntun pada Asifa.


Ardi tersadar dari lamunannya saat lamat-lamat terdengar suara ayahnya. Langsung menoleh saat mendengar ucapan Asifa pada ayahnya.


"Saat ini Asifa berada di rumah sakit xxx Yogyakarta yah."Jawab Asifa.

__ADS_1


"Siapa yang ......


*****Bersambung*...


__ADS_2