
"Papi serahkan salsa pada mu Ar, jaga dan sayangi dia seperti kamu menyayangi diri mu sendiri. Jika sudah tidak mau kembali dia secara baik-baik. Seperti saat kamu meminta restu papi kemarin."Ujar pak Gunawarman saat memeluk Ardi dan mengusap punggungnya.
"Iya pi, akan saya ingat pesan papi terima kasih atas doa restu papi pada pernikahan ini. Insya Allah saya akan berusaha semampu saya untuk membahagiakan Salsa."Ucap Ardi pada mertuanya, lalu bergeser menunggu Salsa.
"Semoga kamu bahagia dengan Ardi, buka hatimu agar masa depan mu lebih baik lagi." Ujar pak Gunawarman pada putri semata wayangnya, dan memberikan kecupan manis di kening putrinya.
"Insya Allah pi, Salsa akan berusaha semampu Salsa."Ucap Salsa sambil melepaskan pelukan papinya.
Ardi dan Salsa menuju mantan istrinya, ada rasa sakit ketika berhadapan pada mantan istrinya. Padahal ia lah yang membawa penyakit itu sendiri.
Melihat raut wajah dingin, datar tanpa ekspresi itu di wajah Asifa. Yang membuat sakitnya hati Ardi, tapi ia tidak bisa berbuat apa-apa. Karena itu ulahnya sendiri yang membuat wanita yang sangat di cintai. Tersakiti dan membuat luka bahkan hancur berkeping-keping luluh lantah.
Sebenarnya Ardi tidak ingin menikah dengan di saksikan oleh Asifa. Namun permintaan ibunya tidak dapat di tolak. Di tambah lagi saat ayahnya mengundang mantan istrinya dan keluarganya, tanpa sepengetahuannya.
"Dek mohon doamu, agar saya dan Salsa bahagia." Ucap Ardi dengan berat hati mengatakan itu, pada orang yang masih bertahan di dalam hatinya.
"Iya mas, selamat ya. Semoga di pernikahan ini kalian samawah ya, bahagia dan segera di berikan momongan."Ucap Asifa sambil menatap Salsa dengan senyum tipis yang terpaksa.
"Terima kasih ya Asifa, maaf jika hubungan aku dan mas Ardi menyakiti hati mu. Sungguh ini bukan niat kami, untuk membuat mu terluka kembali."Kata Salsa, sambil memeluk Asifa.
"Tidak masalah, anggap saja di antara kita tidak ada masalah apapun. Jangan pikirin aku lagi, karena kita sudah tidak ada hubungan selain saudara. Sesuai permintaan ibu, aku putrinya, kamu menantunya."Ucapan seperti pisau tajam yang menusuk hati Ardi dan Salsa.
Bahkan hati Asifa sendiri, karena begitu sulit menerima kenyataan ini. Tapi mau bagaimana lagi, semua sudah terjadi dan harus mereka jalani.
Salsa melepaskan pelukannya, ia menatap wajah Asifa yang dingin dan datar tanpa ekspresi itu. Menggambarkan betapa perihnya hati saat menerima kenyataan ini.
Menyaksikan pernikahan mantan suaminya dengan sahabat sendiri. Dan harus menerima, menjadi saudara angkat mantan suaminya sendiri. Salsa mengusap air matanya sendiri yang mengalir begitu saja. Sedangkan yang di tatap tidak bereaksi apa-apa.
"Mama papa mohon doa restunya untuk kami." Ucap Ardi dan Salsa secara bersamaan.
__ADS_1
"Kami mendoakan semoga kalian langgeng, sampai tua bersama. Dan segera di berikan apa yang kalian harapkan, yaitu momongan." Ujar pak Herman
"Iya agar kalian bahagia."Timpal bu Hafsah, sambil tersenyum penuh arti.
"Aamiin terima kasih ma pa."Jawab kedua mempelai itu.
Tiba-tiba mereka semua di kaget oleh monitor yang tersambung dengan bu Gina. Yang berbunyi, sebagai tanda bahwa pasien telah tiada.
"Tiiiiiiiiiiiiiiiittt"
Dokter Miranti dan sahabat memeriksa bu Gina, pasien sekaligus sahabat dan besan itu.
"Innalilahi wa innailaihi roji'un selamat jalan Gina semoga Allah ampuni segala dosa mu dan di terima amal ibadah mu."Ucap Dokter Miranti.
"Innalilahi wa innailaihi roji'un." Ucap semua orang yang ada di dalam ruangan tersebut.
Pak Arya langsung memeluk jenazah istrinya menangis sejadi-jadinya. Detik ini juga dirinya telah menjadi duda, karena istri cinta sudah pergi untuk selamanya.
Ardi pun luruh kelantai lemas kakinya seperti tidak bertulang. Hari ini adalah hari yang bersejarah bagi keluarga Dinata. Dimana ada kebahagiaan juga kesedihan, yang ia rasakan.
Asifa memeluk papanya ia pun menangis. Tidak menyangka ibu angkat sekaligus mertuanya kini menghembuskan nafas terakhir.
Hari ini memang menjelang sore, Haris datang untuk menyaksikan pernikahan tuan mudanya sekaligus sahabatnya itu. Kini dia terlambat untuk datang, karena tadi menyelesaikan tugas bertemu klien di luar kantor.
Begitu sampai rumah sakit ia langsung masuk keruangan nyonya besar tersebut.
Namun yang ia temukan, bukan kabar bahagia melainkan kabar duka.
Suara tangisan dan kesediaan di dalam ruangan itu. Tatapan matanya berhenti pada branker di mana nyonya besarnya sudah menutup mata untuk selamanya.
__ADS_1
Dia mendekati tuan mudanya mengangkat menuju sofa berdua Salsa. Di dudukannya di sofa dan di temani Salsa.
"Saya turut berdukacita atas meninggalnya nyonya besar tuan. Ikhlas kan dan sabar ya tuan, ini sudah takdir nyonya. Sekarang nyonya sudah tidak merasakan sakit lagi."Ucap Haris asisten Ardi.
"Iya Haris, tapi ini sangat berat bagi saya. Karena perempuan di keluarga Dinata sudah tidak ada lagi. Perempuan pelipur hati keluarga sudah tidak ada lagi. Ibu sudah tidak ada lagi Haris, saya belum bisa memberikan kebahagiaan untuknya."Kata Ardi, di pikirannya hanya ibu dan Asifa. Dia lupa jika saat ini ia sudah beristri lagi, dengan Salsa.
Salsa yang mendengar ucapan suaminya itu, sakit hati. Karena dirinya tidak di ingat suaminya, saat ini apa artinya ada di sisi Ardi. Karena tidak tahan ia berdiri dan akan melangkah untuk pergi. Namun Ardi langsung menarik tangan Salsa, sehingga menghentikan langkahnya.
Setelah berucap seperti itu, ia baru sadar kini ada hati yang harus ia jaga. Yaitu istrinya, yang baru saja ia nikahi beberapa menit lalu. Saat baru menoleh ke arah Salsa, ternyata istrinya sudah berdiri dan akan melangkah. Segera ia menarik tangan istrinya, dan ia berhasil menghentikan langkah istrinya.
Ardi mendongak menatap Salsa dan di tariknya dengan lembut. Dan mengisyaratkan untuk Salsa duduk kembali.
"Maafkan saya, jika menyakiti perasaan mu. Tadi saya lupa kalau kamu sekarang sudah menjadi nyonya Dinata. Harap maklum dan mengerti saya, karena pernikahan kita baru beberapa menit lalu. Sehingga berkata seperti itu tadi, setelah ingat, kamu mau pergi."Ucap Ardi pada Salsa istrinya.
"Iya mas, saya juga minta maaf, karena sempat salah paham."Ucap Salsa dengan senyum yang masih kaku itu.
"Iya kita sama-sama belajar untuk melengkapi bukan."Ujar Ardi, di angguki Salsa.
Mereka berpelukan lupa dengan situasi saat ini. Ardi sudah tenang karena mendapat support dari istrinya. Baru dia sadar apa yang harus dilakukan selanjutnya untuk ibunya.
Asifa yang menyaksikan kemesraan pengantin baru itu tidak kuat. Akhirnya ia pergi meninggalkan ruangan tersebut. Dan karena ingin cepat keluar dari ruangan tersebut akan menutup pintu sedikit kencang.
Bruk
Semua orang yang ada menoleh ke arah pintu yang tertutup yang mengejutkan. Mereka kaget, kecuali pak Arya yang masih linglung. Sedangkan dokter yang berada di sana sedang melepaskan, semua alat yang terpasang pada bu Gina.
Sekarang semua jadi tahu yang menutup pintu itu adalah Asifa. Karena hanya Asifa yang tidak ada di ruangan. Pak Herman segera menyusul putrinya, yang berbeda di luar entah kemana.
*****Bersambung....
__ADS_1