APAKAH SALAH JANDA

APAKAH SALAH JANDA
88. Harus pelan-pelan


__ADS_3

"Iya kah? serius aku gak denger kamu ucapkan salam."kata Asifa yang sudah selesai dengan ponsel nya.


"Ya sudah aku ulangi lagi, assalammualaikum princess Asifa...." Ucap Diana.


"Wa'alaikumsalam sahabat ku yang cantik paripurna."Jawab Asifa.


"Serius banget sih, mikirin apa? jangan mikirin yang berat-berat, pikirin aja yang indah-indah saat bersama mas Fahmi nanti."Kata di Diana niat mengalihkan pikiran Asifa yang tidak bikin stress.


"Iya aku tidak lagi mikirin yang berat-berat. Jangan lupakan suami mu sebelum memikirkan perasaan aku. Perasaan suami mu yang utama, sebelum suami lupa kalau masih punya istri." Balas Asifa yang tidak mau sahabat nya mengalami hal yang sama menjadi janda.


Apa lagi sahabat ini sudah punya dua buah hati, bagaimana nanti nasibnya. Dirinya tidak mau di cap sebagai penyebab rusaknya rumah tangga sahabat nya. Karena mengurusi masalah nya, suaminya merasa kurang perhatian istrinya.


"Astaghfirullah.... lupa lagi aku. Ya sudah aku ke sini cuma mau ambil ponsel kuyang sedang di charger. Terima kasih atas perhatian mu pada ku dan rumah tangga ku. Kamu memang sahabat yang terbaik yang ku miliki. Aku permisi ke kamar tamu dulu ya, assalamualaikum."Yang langsung keluar dari kamar Asifa.


"Wa'alaikumsalam,"Asifa menggeleng kepala melihat tingkah laku sahabat nya itu. Sekarang menjadi pelupa, padahal masih muda. Namun Asifa juga merasa bersalah, karena sudah menjadi penyebab sahabat nya melupakan suaminya. Maka dari itu Asifa, terus menerus menegurnya.


...****************...


Fahmi selesai mencuci pakaian, dan pakaian kedua orang tuanya yang sudah di rendam. Fahmi tidak ingin ibu terlalu lelah, karena kemarin sore baru sampai langsung ke rumah Asifa. Lanjut ke acara makan malam dan membahas rencana nanti malam minggu. Untuk acara barbeque an yang akan mengundang orang satu RT.


Ya Bu Fatimah setelah merendam pakaian langsung memasak untuk sarapan pagi hari ini. Setelah hampir dua bulan ia tidak memasak untuk anak bungsunya. Hari ia masak sayur kangkung, tahu goreng sambel terasi dan ikan mujair goreng. Yang sudah tersedia di dalam kulkas, dan di sediakan oleh Fahmi kemarin pagi sebelum berangkat ke kampus.


Pak Daryanto menyapu halaman rumah, dan menyiram tanaman bunga. Bahkan di halaman rumah itu tidak hanya bunga, tapi ada pohon cabai dan bahan rempah. Yang mulai banyak daunnya, karena baru satu bulan di tanami.

__ADS_1


"Ini anak gak di Jakarta gak di sini halaman rumah selalu saja ada bahan dapur nya."Gumam pak Daryanto.


Ternyata kehadiran pak Daryanto, di perhatikan oleh para tetangga. Terutama ibu-ibu, namun tidak menegurnya. Namun saat bertatap muka dengan pak Daryanto mereka tersenyum. Pak Daryanto pun membalas senyuman juga, karena sebagai terguran. Jika tersenyum pada orang itu sebagai ibadah juga. Agar tidak di bilang sombong, kepada orang yang baru ia jumpai.


Setelah selesai mencuci pakaian, Fahmi langsung menjemur pakaian. Begitu selesai bu Fatimah datang kaget kalau pakaian dirinya dan suami sudah berada di jemuran.


"Fahmi kok pakaian ibu dan bapak kamu cuci juga. Kan ibu mau cuci setelah sarapan, terima kasih ya nak sudah di cuciin. Ayo sekarang kita sarapan, ibu sudah matang masak." Kata bu Fatimah, mengajak putranya sarapan.


"Iya bu, kan Fahmi tidak mau ibu capek, sebab kemarin ibu sudah capek. Ya sudah sekarang Fahmi sudah lapar. Dan sudah kangen dengan masakan ibu, karena hampir dua bulan. Ibu bersama mbak Anis dan Husna. Dan aku sendiri, masak sendiri, makan sendiri, semua sendiri."Keluh Fahmi, dangan manja merangkul ibunya.


"Uh kasihan sekali sih, sudah seperti lagu dangdut saja."Kata bu Fatimah dengan senyum menggoda putranya.


"Iya bu, kalau tidak salah 'angka satu' hehehe."Kata Fahmi sambil cengengesan.


Sampai di ruang makan, pak Daryanto sudah menunggu sejak tadi. Akhirnya mereka bertiga sarapan dengan hikmat. Bahkan Fahmi sampai nambah makanan karena ini masakan yang ia rindukan.


"Nak pelan-pelan bapak dan ibu tidak akan menghabiskan ini semua."Kata pak Daryanto menggoda putranya, yang makan sangat lahap. Bahkan terkesan sangat tergesa-gesa, takut ke habisan makanan yang ada di depannya.


"Hehehe Fahmi lapar, plus kangen dengan rasanya masakan ibu." Kata Fahmi di sela-selanya ia makannya.


"Ya bapak tau itu, tetap saja kamu harus pelan-pelan supaya tidak keselek."Kata pak Daryanto.


"Iya pak. Oh ya hari ini Fahmi minta tolong ya bu." Pinta Fahmi.

__ADS_1


"Kamu minta tolong apa sayang?"tanya bu Fatimah, bingung putranya ini mau minta tolong apa.


"Begini bu. Ibu kan bisa urut urat tu, nah Fahmi minta tolong. Ibu tolong urut calon mantu ibu ya, kasihan dek Zahra. Masa acara lusa dia masih jalan pincang banget. Sudah pasti akan menyulitkan dirinya untuk menyambut para tamu. Kalau sudah di urut kan Fahmi juga sudah tenang."Ujarnya, karena itu juga yang selalu ia pikirkan.


"Iya nanti ibu ke rumah nya. Ibu juga kasihan sih, melihatnya jalan sambil meringis. Memang itu belum di urut sama sekali gitu?" tanya bu Fatimah.


"Kalau menurut cerita mas Taufiq belum bu. Soalnya dek Zahra tidak mau, karena ada lukanya. Sehingga mereka hanya mengikuti kemauan dek Zahra bu."Jawab Fahmi.


Kedua orang tuanya Fahmi mengangguk sebagai tanda mengerti. Fahmi senang kedua orang tuanya, sudah mau membantu calon istrinya.


"Oh ya pak, setelah sarapan ke rumah pak RT laporan. Jika bapak dan ibu sudah di sini, dan segera di proses KTP nya di sini juga."Ajak Fahmi, pada bapaknya.


"Iya, dan semoga sebelum pernikahan mu nanti sudah selesai."Kata pak Daryanto.


"Kalau pun belum bisa pakai arsip nya pak. Dan minta keterangan pak RT, dan KK juga sudah jadi."Kata Fahmi.


"Ya sudah, jauh mana rumah pak Herman dan pak RT?" tanya pak Daryanto.


"Dekat pak Herman pak, bahkan tenda yang akan di pasang nanti sampai rumah pak RT. Karena rumahnya ada di ujung gang rumah pak Herman."Jawab Fahmi menjelaskan pada bapaknya, tentang rencana pak Herman semalam.


Setelah sarapan pak Daryanto dan Fahmi ke rumah pak RT setempat. Untuk melaporkan diri bahwa sudah sampai dan segera melakukan rekam dan foto. Untuk proses KTP di Jogja, dan menjadi penduduk Yogyakarta.


Setelah selesai dengan urusan nya, kedua orang tua Fahmi mampir ke rumah pak Herman. Tapi tidak untuk Fahmi, karena ia harus segera ke kampus untuk mengajar.

__ADS_1


*****Bersambung...


__ADS_2