
Maka hal ini harus segera diatasi oleh papinya, yang selaku penerima permintaan perjodohan dirinya dan suami. Tapi di balik itu mereka lupa akan perjanjian yang mereka buat. Adalah atas nama Yosi, dan Arata hanya sebagai pengelola saja.
Maka jika terjadi sesuatu seperti ini maka Arata harus keluar dari perusahaan yang di pegangnya. Lalu papinya Yosi menarik semua saham yang ada di perusahaan keluarganya Arata. Sehingga mereka tidak akan bisa banyak gaya kembali.
Sampai di rumah Yosi segera menghubungi papinya, untuk memberitahu tentang kelakuan menantu kesayangan itu. Yang selalu di banggakan di depan keluarga dan koleganya.
"Halo papinya sudah lihat foto dan video nya?" tanya Yosi, pada papinya.
"Ya honey, papi sudah lihat. Kamu sabar ya papi akan segera terbang ke sana." Sahut pak Yuda Chandrawinata, papinya Yosi.
"Oke Pi, aku tutup ya. Assalamualaikum,"ucap Yosi menyudahi telepon nya dengan papinya.
"Wa'alaikumsalam," jawabnya pak Yuda.
Setelah itu Yosi menuju kamar mandi, untuk membersihkan diri. Ia mengisi bak mandi dengan air hangat, setelah itu ia masuk dan berendam. Yosi tersenyum teringat akan masa-masa bersama dengan suaminya. Tidak menyangka bahwa ia sekarang sudah seperti sampah yang tidak ada harga itu.
Bukan nya berpisah itu akan berdampak buruk baginya. Melainkan sebuah keuntungan besar untuk keluarga nya. Apa lagi ia anak semata wayang, di keluarga Chandrawinata. Perusahan yang oleh orang tua maminya dan di besarkan oleh papinya. Kini makin berkembang pesat, setelah di kelola Arata. Namun Arata yang bodoh itu membuat dirinya, yang beruntung.
"Untungnya aku belum punya anak atau hamil juga, sepertinya aku yang beruntung." Dapat status janda, tapi janda kaya raya walau tanpa harta dari mantan suaminya.
__ADS_1
...****************...
Sebulan telah berlalu, perusahaan yang atas namanya kini menjadi milik nya. Dan pak Yuda Chandrawinata menarik saham yang di perusahaan orang tua Arata.
Chiyo hanya pasrah dengan keadaan yang kini membuat keluarga suami nya menjadi miskin. Yang penting suaminya masih bisa memberikan nafkah untuk dirinya dan baby dalam perutnya. Walau pun hidup sederhana, ia tidak mengeluh karena ia memang mencintai suaminya sejak kuliah dulu. Tapi karena orang tua Arata yang awalnya tidak setuju dengan Chiyo yang menjadi istrinya Arata.
Apa lagi saat ini Chiyo tengah mengandung keturunan Arata. Di tambah lagi Chiyo mau hidup sederhana bersama Arata. Karena tidak mungkin ia minta cerai juga dari Arata, ia memikirkan masa depan anak yang ia kandung.
Arata jadi sering marah-marah jika ada kesalahan sekecil apa pun, pada Chiyo. Kini ia berusaha untuk mendapatkan klien yang mau membantu suntikan dana.
Berbeda dengan Yosi yang kini ia telah bersiap untuk terbang ke tanah kelahiran papinya. Dan akan menetap di Indonesia, kalau ada keperluan perusahaan saja datang ke Jepang.
"Sudah siap kan sayang, apa ada yang ingin kamu lakukan sebelum kita ke bandara?"tanya pak Yuda.
"Baiklah demi kamu apa pun akan papi lakukan. Sebagai tebusan maaf papi pada mu karena sudah menjodohkan mu dengan orang yang salah. Apakah kamu masih berhubungan dengan mantan kekasih mu dulu?" tanya pak Yuda.
"Aku sudah lama Pi, tidak kontak sama dia. Sejak pesta pernikahan ku itu dia pamit akan menetap di Korea. Emang papi mau apa?" tanya Yosi dengan tatapan heran pada papinya. Yang tidak pernah menanyakan tentang laki-laki di mas lalunya.
Pak Yuda mendapat tatapan dan pertanyaan pun, tidak berani melanjutkan. Entah mengapa dari dulu jika Yosi sudah menatapnya sudah seperti tatapan almarhumah Istrinya.
__ADS_1
"Tidak ada sayang, papi cuma bertanya itu saja." Jawab pak Yuda.
"Heeem ya sudah, ayo berangkat." Yosi langsung berdiri dan menarik tangan papinya. Karena waktu semakin mepet, untuk mereka berangkat ke bandara udara internasional Tokyo.
Keduanya langsung berangkat ke makam sekaligus singgah ke makam mendiang ibu Sinziku Chandrawinata. Waktu yang mereka tempuh kurang lebih 30 menit. Kini mereka telah sampai di pemakaman khusus orang muslim di sana. Honjo Kodama Seichi Reien (Pemakaman Honjo Kodama) di Honjo, Prefektur Saitama.
Mereka berdua kini telah sampai di depan batu nisan yang bertuliskan nama Sinziku Chandrawinata. Pak Yuda dan Yosi berjongkok di kedua sisi pusara itu.
"Mami maafkan Yosi ya, nanti Yosi akan lama datang ke sini lagi. Mungkin nanti kalau Yosi datang ke negara ini mampir mi." Ucap Yosi pada maminya.
Sedangkan pak Yuda hanya melihat dan mendengar ucapan putrinya. Setelah itu keduanya membaca doa untuk bu Sinziku.
Setelah selesai maka lanjut ke bandara internasional Tokyo, menuju Indonesia. Tidak sampai satu jam mereka sampai di bandara internasional Tokyo Jepang - bertujuan ke bandara internasional Soekarno Hatta Indonesia.
Yosi yang selama ini belum pernah tinggal di Indonesia, kecuali hanya berlibur di tanah kelahirannya sang papinya tercinta. Kini ia ada perasaan sedih, karena ia tidak bisa mengunjungi makam sang mami.
Pak Yuda merangkul pundak sang putri, lalu mendekapnya. Ia faham betul dengan pikiran putrinya itu yang memang sedang mengalami banyak masalah. Dan kini baru selesai, harus jauh dari tanah kelahirannya. Demi menenangkan pikiran dan menata masa depan di tanah kelahirannya sang papinya.
"Yakinlah honey, papi yakin kamu kuat dan bisa mendapatkan lelaki yang baik dan setia dengan penuh kasih sayang untuk mu. Sekarang ayo kita berangkat, karena pesawat sudah mau berangkat."Ajak pak Yuda.
__ADS_1
"Baik Pi, aku akan berusaha semangat. Seperti papi, yang tidak pernah sedih yang terlalu. Ayo semangat untuk hidup baru......" Yosi sedikit berteriak yang sedikit kencang.
Mereka berjalan menuju pesawat yang akan ia tumpangi untuk menuju negara Indonesia. Tapi mereka harus menempuh waktu yang berjam-jam untuk sampai di Indonesia.