APAKAH SALAH JANDA

APAKAH SALAH JANDA
152.Tersenyum bahagia


__ADS_3

"Iya mas, kami mengucapkan terima kasih atas kunjungannya dan dukungan untuk nak Fahmi dan Asifa. Mas juga harus hati-hati dan jaga kesehatan, jangan terlalu lelah supaya tidak mudah sakit." Kata pak Herman, yang di angguki oleh yang lainnya.


"Baiklah mas, kami permisi ya assalamualaikum,"ucap pak Arya di ikuti pak Surya, lalu berjalan keluar ruangan itu.


"Wa'alaikumsalam warahmatullahi.....," jawab yang di dalam.


"Wah,,,, pada bangun putri ayah ya." Senyum mengembang dari bibir Fahmi. Ketika melihat kedua putrinya yang terbangun karena ada yang ia rasakan. Ternyata bayi cantik itu merasakan lapar, sehingga ia terbangun dari tidurnya.


Bu Hafsah dan bu Fatimah juga Lian memberikan ASI yang di siapkan suster yang baru saja datang. Memang sudah jadwal si kembar mendapatkan ASI. Fahmi tersenyum bahagia melihat si kembar menerima ASI itu dengan penuh semangat. Terlihat sekali dari bibirnya yang mengisap botol susu bayi itu.


Semua orang pun ikut bahagia melihat si kembar menyusu itu. Mereka berharap sang bundanya segera sembuh dan berkumpul bersama mereka. Menikmati hari-hari yang penuh berkah dan bahagia itu.


...****************...


Sebulan telah berlalu Asifa belum juga sadar kan diri. Fahmi sendiri memilih keluar dari kampus setelah sembuh dari sakitnya. tepatnya 3 minggu yang lalu, Fahmi mengundurkan diri. Sebab ia memilih untuk merawat anak-anaknya dan istrinya. Yang mana sang istri masih berada di rumah sakit, belum ada perubahan apa pun selama sebulan.


Hari ini tepat jam 6 pagi, Fahmi mendapatkan telpon dari rumah sakit. Yang memberitahu bahwa Asifa sang istri telah ada perkembangan. Meski pun belum sadar dari komanya namun sudah dapat merespon dari orang yang mengajak berinteraksi.


"Baik sus, saya akan segera ke sana. Terima kasih." Ucapnya Fahmi langsung menemui para Baby sitter putra putrinya.

__ADS_1


"Lian, saya titip anak-anak ya. Saya mau ke rumah sakit, ada kabar tentang istri saya." Pamit Fahmi pada Lian, dan yang lain hanya mendengar ucapan Fahmi sang majikan.


"Baik pak, bapak tenang saja urusan anak-anak akan kami urus." Kata Lian, dan di angguki oleh yang lain.


"Baiklah terima kasih, kalau ada apa-apa segera kabarin saya." Ucap Fahmi, sambil menatap wajah putra putrinya satu persatu. Sebelum ia benar-benar pergi menjenguk istrinya. Bahkan Fahmi mencium kening putra putrinya sebelum pergi.


"Baik pak." Jawab mereka kompak, melihat Fahmi yang kini tampak lebih kurus semenjak istrinya koma di rumah sakit.


"Assalamualaikum," ucap Fahmi langsung keluar dari kamar putra putrinya itu.


"Wa'alaikumsalam," para baby sitter ter dan asisten pribadi Asifa menjawab salam majikannya.


Setelah beberapa menit kemudian Fahmi telah sampai di rumah sakit, di mana sang istri di rawat. Dan Asifa sudah di pindahkan ke ruang rawat VVIP.


Selama di rumah sakit juga Andik tidak lupa menyuruh anak buahnya untuk menjaga Asifa. Karena tidak ingin terjadi sesuatu pada adik angkatnya itu. Baik Fahmi dan pak Herman setuju dengan apa yang di lakukan oleh Andik. Tidak ada keberatan sama sekali, karena mereka juga tidak mungkin berada di sana terus karena mereka juga harus memperhatikan si kembar secara bergantian.


Kini Fahmi sudah duduk di kursi yang ada di sebelah branker Asifa. Tangannya meraih tangan Asifa yang terlihat putih pucat itu. Di ciumnya tangan itu dengan lembut dan penuh kasih sayang. Dalam hati ia sungguh merindukan sang istri, yang sudah satu bulan lebih baru pindah ruangan.


"Sayang, mas sangat merindukan mu. Ayo bangun lah, kasihan si kembar dia sangat merindukan bundanya. Sekarang mereka sudah bisa melihat sayang, mereka sangat lucu dan menggemaskan. Apa lagi putri-putri kita mirip sekali dengan mu. Mas kangen sayang, ingin memeluk mu." Ucap Fahmi sambil mengusap-usap tangan Asifa.

__ADS_1


Sementara Asifa yang mendengar suara suaminya pun. Berusaha untuk bangun sekuat tenaga ia kerahkan. Sudah berulang kali Asifa mencoba, ia pantang semangat. Demi ingin bertemu dengan suami dan si kembar. Hingga akhirnya ia bisa membuka matanya, namun ia tidak menggerakkan tangan atau apa pun.


Asifa menatap ruangan putih itu setelah satu menit kemudian. Asifa mencoba menggerakkan tangan kanan yang di genggam suaminya. Dengan sekuat tenaga pula ia menggerakkan jari jemari tangannya.


"Sayang," respon Fahmi yang merasa ada pergerakan tangan istrinya. Matanya langsung menatap wajah sang istri, yang kini sudah membuka matanya. Dengan rasa bahagia Fahmi langsung bangkit dari duduknya dan tangan kiri menekan tombol hijau yang berada tak jauh dari branker Asifa.


Sambil menunggu dokter datang Fahmi menghujani ciuman di seluruh wajah istrinya. Kecuali bibir Asifa bukan tidak ingin, takut ia tidak bisa mengendalikan diri. Dan akan berdampak malu apa bila ke pergok oleh dokter dan suster. Benar saja tak lama dari itu dokter dan suster datang untuk memeriksa Asifa. Setelah memberikan air minum untuk Asifa, yang mana satu bulan tidak merasakan air minum. Hanya cairan infus lah yang masuk ke dalam tubuhnya.


Setelah kepergian dokter dan suster, Fahmi langsung memeluk istrinya. Meluapkan rasa rindu di hatinya, didekapnya dengan lembut dan penuh kasih sayang. Tidak terasa air matanya pun jatuh, mengenai sang istri.


"Maaass,,, nangis,,,," suara Asifa keluar walau pun dengan lemah. Namun masih dapat di dengar oleh Fahmi, yang di jawab dengan gelengan.


Setelah beberapa menit baru Fahmi mengatakan bahwa dirinya bahagia. Sebab ia masih bisa bersama sang istri dan si kembar. "Mas bahagia dan terharu." Fahmi mengatakan apa yang ia rasakan.dan Memberikan kecupan hangat di kening istrinya.


"Aku juga bahagia mas, sungguh aku tidak menyangka masih bisa bersama dengan mas dan si kembar."Asifa berkata dengan suara lemah.


*****Bersambung......


Maaf ya teman-teman author masih belum bisa konsentrasi sepenuhnya.

__ADS_1


__ADS_2