APAKAH SALAH JANDA

APAKAH SALAH JANDA
16.Mengutamakan princess kita


__ADS_3

"Yang penting kamu sembuh dulu. Sambil menunggu kamu keluar dari rumah sakit ini. Kakak atur strategi untuk itu, sekarang kamu fokus dengan kesembuhan mu."Kata Taufiq.


"Asifa bisa pulang sekarang, Asifa tidak mau di sini terus, nanti makin banyak biaya yang mas Ardi keluarkan. Cukup hari ini Asifa di rawat di sini, dan bisa rawat jalan pa."Kata Asifa, dengan wajah memelas.


apa kamu yakin sayang, sudah kuat?"tanya pak Herman.


"Iya pa ini kebetulan infus juga mau habis pasti dokter kasih Asifa pulang. Asifa bosan di sini terus pa, lagian aku sudah sehat kok."Kata Asifa dengan senyum manis tanpa di buat-buat.


"Baiklah princess papa sudah sembuh, tapi papa tidak mau kamu mengulangi yang kemarin. Jangan merasa sendiri lagi ya, karena sekarang kamu tanggung jawab papa. Jika ada sesuatu di hati katakan pada papa dan mama atau kakak ya!"ujar pak Herman.


"Iya pa, insya allah Asifa akan ingat pesan papa."Langsung memeluk papanya dengan erat.


Taufik Hidayat, yang melihat Asifa merasa kasihan. Karena Taufiq sudah menganggap Asifa adik sendiri. Tapi tetap harus menjaga batasan, karena mereka bukan mahram.


"Mama kunci rumah mana Aisyah, mas Taufiq, dan anak-anak mau pulang capek ni." Kata Aisyah.


"Tanggung sayang tunggu Asifa ada kepastian dulu ya."Jawab bu Hafsah.


"Iya sayang sabar ya, sekarang kamu boleh tiduran di sofa sama Atifah.".Menuntun istrinya ke sofa dan mendudukkannya. "Mas sama papa mau tanya dokter dulu ya, pa ayo lah papa yang tahu ruangan dokter." Kata Taufiq, memang Taufiq lebih akrab pada pak herman dari pada Ardi.


"Ya papa ke ruangan dokter dulu ya. Assalamualaikum."Langsung pergi, karena ia juga merasa Asifa sudah baikkan harus segera keluar dari rumah sakit. Agar terlepas dari bayangan keluarga Dinata yang selama ini. yang membiayai rumah sakit juga orang yang telah melukai hati putrinya.


"Wa'alaikumsalam"jawab yang ada di ruang inap Asifa.


Akhirnya mereka sampai di ruangan dokter. dan pak Herman meminta agar Asifa segera keluar dari sana. Akan tetapi sulit untuk mendapatkan izin dokter karena merasa Asifa masih belum sembuh total. Karena baru 2 hari dokter menyarankan agar Asifa keluar 2 hari lagi. Ini juga yang sudah di minta Ardi agar Asifa dirawat 4-5 hari. Tapi pak Herman tak kehilangan akal agar dokter memberi izin.


"Bukan kah jika kita tidak mengikuti kemauan putri saya akan berdampak buruk buat mentalnya."Kata pak Herman.


"Iya dok, adik saya akan semakin memburuk, jika terus menerus memikirkan masalah yang sedang dihadapi. Karena rencana kami akan membawanya berlibur supaya dia bisa melupakan masalahnya."Timpal Taufiq.

__ADS_1


"Baiklah. Tapi karena nona Asifa belum sembuh total, jika terjadi sesuatu hal di luar tanggung jawab saya. Silahkan tanda tangani berkas nona Asifa, keluar dari rumah sakit tanggung jawab bapak."Kata dokter dengan menyodorkan data pasien.


"Baiklah."pak Herman segera menandatangani data Asifa.


"Suster mari kita keruangan nona Asifa, dan tolong lepaskan selang infus nona Asifa."Ajak dokter pada asistennya.


"Baik dokter mari."Jawab suster, dan mereka langsung menuju ke ruangan inap Asifa.


...****************...


setelah selesai urusan rumah sakit, meraka langsung pulang menuju rumah pak Herman.


Tak berapa lama mereka sampai di rumah pak Herman, mereka segera turun. Dan Taufiq membayar ongkos taksi, segera membawa barang.


Dari kejauhan tampak dua mata mengawasi mereka, tersenyum sinis. Dia akan siap beraksi jika berjumpa dengan Asifa atau keluarganya.


Sekarang istirahat dulu ya sayang, mama mau bersihkan badan. Dan sekalian nanti mau masak untuk makan malam. Nanti mama buatkan sup ayam kesukaan mu ya biar kamu makan yang banyak."Kata bu Hafsah.


"Boleh mah bosan bubur terus, lagian kalau mama bik sup Amir dan Atifah bisa makan bareng asifa."kata Asifa jadi antusias untuk makan malam bersama keponakannya.


"Siap sayang sekarang istirahat dulu ya, jangan terlalu di pikirkan yang sudah terjadi ya. Jangan lupa baca doa dan perbanyak istighfar ya."pesan bu hafsah pada Asifa, lalu menyelimuti dan mencium kening Asifa.


Kini bu Hafsah sudah selesai masak, di meja makan sudah siap aneka masakan. Ada sayur sup, ayam goreng, sambal terasi, sayur kangkung. Kini Aisyah datang dengan suaminya dan kedua anaknya, Asifa di tuntun pak Herman lalu mereka duduk di kursi masing-masing.


"Wah ini pasti enak, sayang Asifa belum boleh makan sambal. Tapi tidak apa-apa yang Asifa sudah keluar dari rumah dan Asifa tidak lagi harus makan makanan rumah sakit."Dengan antusias dan layaknya anak kecil yang mendapatkan apa yang ia inginkan


"Maka dari itu kamu hari ini harus makan yang banyak ya."Kata bu Hafsah, sambil memberikan piring berisi makanan untuk Asifa.


"Mama, papa mana makanannya? papa juga lapar lo tidak cuma asifa."Kata pak Herman, dengan nada canda.

__ADS_1


"Iya papa sayang sabar ya, maaf mama mengutamakan princess kita dulu. Supaya makannya banyak dan cepat sembuh, lihat tu wajahnya masih pucat jadi kurang cantik deh."Kata bu Hafsah menimpali candaan suaminya. Dan memberikan piring pada pak Herman, lalu mengambil untuk dirinya makan.


"Umi, aku mau jadi plincess sepelti tante Asifa."Celoteh Atifah.


"Lah kan kamu memang princess juga di rumah kita. kalau sekarang lagi di rumah kakek, princess nya kakek ya tente Asifa. Kamu princess kecil di sini, benarkan abi?"kata Aisyah menoleh pada Taufiq.


"Eem, betul apa yang di katakan umi. Sekarang princess mau makan yang banyak lomba tu sama tante. Siapa ya yang makannya paling banyak."Taufiq menimpali ucapan Aisyah. Atifah senang karena dia sekarang di panggil princess kecil.


"Aku merasa 20 tahun lalu masih saja di panggil princess." Menunduk malu dia, di usianya yang sudah 27 tahun. Walaupun dia sangat senang, karena merasa terhibur. sehingga dia dapat melupakan masalah yang sedang di hadapi.


"Sampai kapan pun kamu tetap princess papa dan mama sayang."Ucap pak Herman, di angguki bu Hafsah sebagai tanda setuju.


princess kami juga,"kompak dari Aisyah, Taufiq, dan Amir. Mereka bertiga dengan tersenyum manis terutama Amir.


Amir yang memasuki usia remaja pun tau kalau tante butuh perhatian, dan dukungan dari keluarga. Maka amir merasa kasihan, dari di rumah sakit tadi dia hanya diam. Tapi tidak ada yang sadar bahwa bocah ini, mengerti apa yang di katakan oleh para orang dewasa.


Asifa terenyuh oleh senyum dan ucapan keluarganya. Iya kini makin semangat untuk menata masa depan yang harus dia hadapi.


Y**a allah beri aku keikhlasan, untuk menjalani ini semua. Karena harapan keluarga ku begitu besar, mereka ingin aku bisa melupakan semua masalah saat ini. Dan beri aku jalan yang terbaik agar aku lepas dari mereka. semua itu juga atas kehendak mu, dan ini adalah takdir ku."kata hati asifa.


"Terima kasih, sudah menyayangi Asifa dan mendukung Asifa." Dengan senyum manis, meski masih terlihat wajah putih pucat.


Setelah selesai makan Asifa kembali ke kamar bersama pak Herman. Kini Asifa duduk bersandar di sandaran tempat tidur. Pak Herman memberikan obat yang harus dia habis kan obat yang dokter berikan adalah obat penenang. Dengan maksud, supaya Asifa dapat istirahat yang cukup dan Asifa tidak banyak memikirkan masalah. Yang memicunya stres, apa lagi ketika malam. Maka obat itu juga hanya di minum di malam hari.


Setelah memberikan obat pada Asifa menarik selimut itu sampai dada. Lalu memberikan ciuman di kening putrinya tak lupa mengucapkan selamat malam.


"Selamat malam princess."Ucap pak Herman, lalu keluar dari kamar Asifa.


*****Bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2