APAKAH SALAH JANDA

APAKAH SALAH JANDA
127.Perlu waktu


__ADS_3

Dua hari berlalu.


Pagi hari setelah sarapan, rumah pak Herman di sibukkan oleh kepindahan Asifa. Ya Asifa pindah ke rumah barunya yang di beli Fahmi sebagai hadiah pernikahan. Yang langsung di atas nama kan Asifa, namun Fahmi tidak menyebutkan saat alat nikah.


Bahkan mobil pengantin juga ia beli atas nama Asifa. Ia berusaha untuk mengimbangi kebutuhan istrinya. Yang mana istrinya ini mantan orang kaya, saat bersama mantan suaminya.


Fahmi pun tidak ingin istrinya merasa kurang dengan pemberian nya. Meski pun tidak memiliki kekayaan seperti keluarga Dinata. Setidaknya ia bisa mencukupi kebutuhan sehari-hari istrinya.


Sebab ia tidak ingin masa lalunya akan terulang kembali. Walau pun ia tahu, jika Asifa tidak seperti Lasmini mantan istrinya. Yang selalu menginginkan ini dan itu, sehingga tidak bisa hidup sederhana ketika Fahmi mengalami kesulitan pada saat itu.


Namun hari ini mereka masih mau menginap di rumah Fahmi yang akan di tempati kedua orang tuanya. Yaitu pak Daryanto dan istrinya Fatimah, yang memang sebelumnya sudah ia tinggali bersama orang tuanya.


"Sayang pakaiannya jangan semua ya." Kata Fahmi sambil bantu istrinya membereskan buku-buku milik istrinya.


"Iya mas, aku cuma mau ambil yang baru dan yang gede-gede aja."Jawab Asifa.


"Lalu yang mana yang kecil sayang?" tanya Fahmi.


"Itu mas yang di lemari sebelah," tunjuk Asifa, Lalu melanjutkan pekerjaannya.


"Memang sekarang berat badannya berada sih, sampai bajunya tidak muat?" tanya Fahmi, sambil memeluk istrinya dan menyembunyikan wajahnya di leher Asifa. Sehingga membuat Asifa kegelian, karena ulahnya Fahmi.


"Mas..., Geli ih, nanti ini tidak selesai-selesai lo mas." Protes Asifa saat Fahmi tidak bisa menahan tangan yang sudah kemana-mana.

__ADS_1


"Kalau sudah peluk gini suka gak tahan sayang, boleh ya." Kata Fahmi, yang sudah berhasrat.


"Tapi gimana nanti jika mama dan papa atau yang lain mereka menuggu kita?"tanya Asifa, yang mencoba bernegosiasi dengan suaminya.


"Mereka tahu sayang, kalau pengantin baru itu perlu waktu banyak untuk berdua." Yang tidak bisa lagi di tawar oleh sang istri.


Tanpa memberikan kesempatan Asifa berbicara lagi, langsung meraup bibir ranum Asifa. Dari lembut sambil dengan rakusnya ia menghisap bibir Asifa. Pagi itu terulang kembali aktivitas ranjang pada pengantin baru itu.


Setelah hampir satu jam mereka berolahraga yang ke dua kalinya. Sebab tadi setelah subuh mereka juga sudah melakukan olahraga.


"Terima kasih ya sayang, maaf ya sudah membuat sayangnya mas capek." Yang hanya di jawab dengan anggukkan oleh Asifa.


Fahmi langsung menggendong Asifa ala bridal style, ke kamar mandi. Mereka membersihkan diri, setelah itu mereka langsung keluar kamar. Fahmi menarik dua koper besar ke ruang tamu. Asifa tidak di izinkan membawa apa pun kecuali tas selempang miliknya. Yang isinya juga cuma ponsel dan dompet saja.


"Bukan main deh yang namanya pengantin baru."Ledek Zaki, yang sejak tadi sudah datang. Melihat sahabat sekaligus bosnya itu, baru keluar kamar dengan keadaan rambut masih basah.


"Sayang duduk sini jangan kemana-mana ya. Mas ke dapur di dulu, mau buatkan susu sebentar." Ucap Fahmi sambil mendudukkan Asifa di sofa.


Asifa cuma mengangguk sebagai jawaban, dan menunduk, karena malu. Namun Andik tetap mengajak bicara Asifa untuk minta izin ke kamar mengambil barang-barang yang masih belum di keluarkan.


"Dek di kamar masih ada?"tanya Andik.


Asifa mau tidak mau menatap Andik, dengan wajah memerah. "Ada kak, masih ada 3 koper kak." Jawab Asifa.

__ADS_1


"Ya sudah, kakak ambil dulu ya ke kamar mu."Kata Andik, yang minta persetujuan untuk mengambil di kamar.


"Iya kak silahkan." Asifa mengizinkan.


Langsung menarik tangan Zaki. Untuk membantu membawa koper-koper Asifa. Untuk di keluarkan dari kamar dan langsung di susun ke mobil.


"Kamu ini Zak seperti tidak pernah merasa kan pengantin baru saja." Omel Andik yang tahu jika adik perempuan nya malu. Walau pun bukan Asifa, yang di interogasi secara langsung.


Sementara pak Herman melihat Fahmi yang begitu sayang dengan putrinya pun bahagia. Sungguh ini yang ia harapkan, bisa merubah nasib putrinya. Dengan kehidupan baru ini putrinya masih di berikan kepercayaan untuk memiliki keturunan. Sehingga keceman orang-orang yang di luar sana tidak ada lagi.


Tidak lama Fahmi membawa susu formula untuk persiapan hamil. Ya sejak pulang dari hotel, untuk bulan madu. Fahmi mampir di minimarket untuk membeli susu ini. Dengan berharap adanya mukjizat untuk setahun ini.


Itu semua ia sudah konsultasi dengan seorang dokter spesialis kandungan. Yang tugas di salah satu rumah sakit Jogja ini. Yaitu Tsaniyah Zulaikha teman SMAN Anis, kakaknya Fahmi.


Dokter Tsaniyah, menyarankan agar Fahmi atau pun Asifa minum vitamin penyubur, penyubur kandungan dan minta susu.


Karena menurut dokter Fahmi sehat tidak ada kekurangan apa pun. Dan Fahmi juga menjelaskan tentang calon istrinya pada saat itu. Maka dokter Tsaniyah, yakin di antara keduanya ada harapan bisa memiliki keturunan.


Dokter Tsaniyah juga menyarankan agar sang istri tidak banyak pikiran yang membuatnya semakin stress. Karena dapat berdampak buruk untuk Asifa, sehingga sulit untuk mengandung.


Sebab orang yang mengandung pun tidak boleh stress. Maka Fahmi pun sudah menyiapkan segala sesuatunya untuk istrinya. Di rumah nya dah menyiapkan Asisten rumah tangga. Begitu juga untuk rumah Art di rumah ibu dan mama mertuanya.


Kini Fahmi memberi segelas susu, tadi pagi belum sempat minum susu.

__ADS_1


*****Bersambung.....


Maaf ya teman-teman kamu kurang, sebab. Author sudah tidak kuat melek.


__ADS_2