
Sesekali ia memastikan apakah semua sudah siap, dari seserahan mobil pengantin. Karena setelah acara selesai maka Fahmi dan Asifa akan bermalam di hotel. Yaitu hotel bintang lima dengan pilihan kamar yang paling mewah. Dan ruangan yang besar dan luas untuk beberapa hari di hotel tersebut. Karena ia tidak ingin ada yang menggangu, dan di ganggu. Itu adalah bulan madu mereka berdua layaknya pasangan pengantin baru lainnya.
...****************...
Pagi ini Asifa sudah cantik dengan riasan natural dan berbalut gaun pengantin syar'i. Nampak anggun dengan gaun pengantin syar'i yang ia kenakan.
"Masya Allah cantik sekali ini princess papa dan mama." Ucap pak Herman, yang kini melihat Asifa sebelum di lakukan Akad nikah.
"Iya pa, aduh bikin mama gemes. Apa lagi calon mantu kita yang melihat nya."Timpal Bu Hafsah.
"Ah mama dan papa bikin Asifa salting."ucap Asifa dengan senyum malu-malu. Wajahnya juga bersemu kemerahan karena malu di puji dan di sanjung oleh kedua orang tuanya.
Tok tok tok
Aisyah mengetuk pintu kamar Asifa "pa, ma calon pengantin pria sudah datang." Aisyah memberitahu kedua orang tuanya.
"Oh ya, papa dan mama keluar dulu ya sayang. Kamu tunggu di sini sampai sah menjadi istrinya Fahmi." Ucap bu Hafsah, kemudian berjalan keluar kamar.
"Sabar ya sayang, sampai nanti selesai akad nikahnya." Ucap Aisyah sambil tersenyum manis pada adik semata wayangnya.
Asifa hanya tersenyum tipis menanggapi ucapan Aisyah. Kemudian dua perempuan yang sedang meriasnya pun mengatakan sesuatu.
"Nona memang sangat cantik, walau pun dengan riasan sederhana dan natural. Selama ini saya belum pernah merias pengantin yang sesederhana ini. Tapi saya salut dengan kecantikan alami nona, kami merasa senang pernah bertemu dan merias nona."Ucap salah satu perias itu.
Terima kasih ya mba, saya cantik juga karena mbak berdua." Ucap Asifa.
"Tidak nona, bukan karena saya, tapi itu murni kecantikan alami nona."Ucapnya memang mengatakan yang sejujurnya.
...****************...
Di teras rumah tepatnya di dalam dekorasi pelaminan. Pak Herman menyambut kedatangan calon besannya. Bersama keluarga Dinata, yang hadir yaitu pak Surya dan anaknya Arya. Sedangkan Ardi tidak bisa hadir karena Salsa sedang tidak enak badan.
Fahmi tampak sangat tampan sekali, dengan baju pengantin yang senada dengan Asifa. Warna baju putih, celana putih peci hitam, sangat pas dengan kulitnya yang sudah.
__ADS_1
Semua anak gadis terpana dengan ketampanan Fahmi, yang begitu tampan. Dengan balutan baju pengantin muslim, yang memang sepasang dengan milik Asifa.
Kini mereka semua berada di dalam rumah, tepatnya di rumah tamu. Yang sudah tersedia meja untuk ijab qabul. Kini Fahmi duduk berhadapan dengan pak Herman. Di dampingi Ihsan, Taufiq, dan kedua orang tuanya. Pak penghulu berada di sebelah pak Herman, dan siap unjuk menikah Fahmi dan Asifa.
"Apakah mas Fahmi sudah siap?"tanya pak penghulu pada Fahmi, yang tampak tegang sekali.
Fahmi menghela nafasnya, "siap pak." Jawabnya.
"Pak Herman mau sendiri atau di wakilkan?"tanya pak penghulu pada pak Herman yang kini telah menatap wajah tegang Fahmi.
"Saya sendiri pak, saya ingin tahu seberapa besar cintanya pemuda ini pada putri saya. Dengan itu saya bisa melepaskan putri saya dengan nya." Ucap pak Herman dengan senyum penuh arti pada Fahmi.
Fahmi yang di tatapnya pun menjadi semakin tegang. Terlebih lagi mendengar ucapan pak Herman, seperti menantang Fahmi. Dengan menarik nafas dalam-dalam lalu membuangnya perlahan, Fahmi berusaha untuk terlihat tenang. Namun tidak bisa membohongi orang-orang yang hadir untuk menyaksikan ijab qabul tersebut.
"Bagaimana nak Fahmi mau lanjut atau mau mundur dan di ganti dengan pemuda lain?" tanya pak Herman dengan senyum menggoda. Sehingga mengundang tawa para tamu undangan yang hadir.
"Lanjut pak sudah kepalang tanggung."Jawab Fahmi.
"Ankahtuka wa zawwajtuka makhtubataka binti Asifa Az Zahra alal mahar mushaf Al-Qur'an wa alatil ‘ibadah hallan.” Ucap pak Herman.
"Qobiltu nikahaha wa tazwijaha alal mahril madzkuur wa radhiitu bihi, wallahu waliyyu Taufiq.” Ucap Fahmi
Artinya: “Saya terima nikah dan kawinnya dengan mahar yang telah disebutkan, dan aku rela dengan hal itu. Dan semoga Allah selalu memberikan anugerah.”
"Bagaimana para saksi, Sah?"tanya pak penghulu.
"Sah Sah Sah." Jawab semua yang menyaksikan.
Kemudian pak penghulu membaca doa penutup pernikahan.
"Allahhumma biamaaanatika akhattuhaa, wa bikalimaaatika istahlaltu farjahaaa, fain qadhayta lii minhaa waladan faj'alhu mubaarakan syawiyyaa, walaa taj'al lissyaithaani fiihi syariikan walaa **nashibaa"
Artinya: “Ya Allah, dengan amanat-Mu ku jadikan ia istriku dan dengan kalimat-kalimat-Mu dihalalkan bagiku kehormatannya. Jika Kau tetapkan bagiku memiliki keturunan darinya, jadikan keturunanku keberkahan dan kemuliaan, dan jangan jadikan setan ikut serta dan mengambil bagian di dalamnya**”.
__ADS_1
Setelah selesai pembacaan doa penutup akad nikah. Pak penghulu meminta pengantin wanita nya di bawa keluar. Sedangkan Fahmi menandatangani berkas pernikahan, berikut surat akte nikah.
Sedangkan bu Hafsah dan bu Fatimah menjemput pengantin perempuan. Bu Fatimah tersenyum bahagia, ketika melihat Asifa yang kini sudah sah menjadi menantunya.
"Selamat ya sayang, ibu bahagia punya menantu lagi. Semoga langgeng sampai ke Jannah nanti, aamiin."Ucap bu Fatimah sambil memeluk dan mencium kening menantunya.
"Aamiin...., terima kasih bu."Ucap Asifa dengan senyum bahagia dan haru hingga meneteskan air matanya.
"Selamat ya sayang, semoga Allah SWT berikan kasih sayang pada mu dan Fahmi. Dan semoga Allah juga memberikan mukjizat nya dengan memberikan keturunan pada kalian." Ucap bu Hafsah memeluk putrinya dengan senyum bahagia, lalu mencium kening dan kedua pipinya. Kemudian mengelap air matanya Asifa dengan tissue.
"Aamiin ya rabbal allamin."ucap
"Ayo kita ke rumah tamu, kasihan suamimu menunggu kelamaan."Ajak bu Hafsah, di angguki bu Fatimah.
Asifa keluar dari kamar, di tuntun mamanya dan ibu mertuanya. Semua mata tertuju pada Asifa yang sedang berjalan menuju di mana suaminya.
Fahmi yang sudah selesai dengan tanda tangan berkas pernikahan. Melihat istrinya yang sedang di tuntun ibu dan mama mertuanya. Terpesona dengan kecantikan istrinya, dengan balutan busana pengantin syar'i warna putih. Memang busana yang Asifa pilihan adalah busana muslimah dan sederhana nan elegan.
Fahmi mengikuti pergerakan Asifa namun ia tidak sadar. Jika kini Asifa telah duduk di samping nya, dan langsung menuruti perintah pak penghulu. Asifa yang harus menandatangani berkas pernikahan, sampai Asifa selesai. Fahmi masih terus menatapnya dengan tatapan penuh damba.
Kemudian pak Daryanto pun menepuk pundak putranya, sehingga membuat Fahmi terjinkrat. Hal tersebut membuat semua para tamu tertawakan tingkah pengantin laki-laki itu.
"Hahahaha" suara riuh para tamu.
"Nak, sudah di lanjut nanti menatap istri. Sekarang serahkan maharnya, sebelum nak Asifa di bawa masuk ke kamar lagi. Dan batal pernikahan ini karena pernikahan tidak memenuhi syarat." Ucap pak Herman dengan tegas.
"Ya jangan pa, kan tadi sudah sah."kata Fahmi dengan cengengesan.
"Kalau begitu segera berikan mahar sebagai sahnya pernikahan Fahmi." Kata pak Daryanto.
"Baik pak." Langsung melantunkan ayat suci Al-Quran yaitu surah Ar Rahman. Dengan suara yang sangat merdu dan menyentuh hati pendengarnya.
Asifa begitu senang dengan pernikahan ini, dengan apa yang di berikan Fahmi. Sebagai mahar, memang Asifa hanya meminta seperangkat alat shalat. Ternyata Fahmi menambahkan sebuah mushaf Al-Qur'an yaitu Ar Rahman.
__ADS_1
*****Bersambung.....