APAKAH SALAH JANDA

APAKAH SALAH JANDA
63.Asifa pulang ke Jogja


__ADS_3

Pak Herman paham dengan keraguan putrinya itu. Akhirnya berucap, karena tidak enak juga dengan sahabatnya itu. Dan ia tahu sahabat sekaligus besannya itu adalah orang yang sudah begitu berjasa baginya.


"Sebenarnya tidak ingin kamu di posisi ini. Di. mana posisi mu ini bukan siapa-siapa, hanya anak angkat. Bahkan tidak ada hubungan darah sekali pun. Tapi karena ini sudah di berikan oleh ibumu, kembalikan pun tidak bisa. Dan itu adalah milik ibumu bukan ayahmu. Jika dari ayahmu, papa pikir harus di hitung dahulu." Kata pak Herman.


"Kenapa harus di hitung dulu mas?"tanya pak Arya.


Ya memang pak Arya yang kurang faham agama. Terlebih mengenai hak waris anak angkat. Di mana di dalam Islam sangat sensitif terhadap harta waris.


"Begitu mas menurut Islam: Anak angkat tidak memiliki hubungan darah dengan orangtua angkatnya namun ia berhak untuk mendapatkan kasih sayang seperti anak kandung, mendapatkan nafkah, mendapatkan pendidikan yang layak dan hak untuk mendapatkan pemenuhan kebutuhan kehidupan. Dikarenakan  tidak adanya hubungan darah antara anak angkat dengan orangtua angkatnya. Maka anak angkat tidak bisa menjadi ahli waris harta warisan orang tua angkatnya, sesuai dengan pasal 174 Kompilasi Hukum Islam. Meskipun anak angkat bukan sebagai ahli waris, namun anak angkat berhak atas bagian harta warisan orangtua angkatnya. Dengan mendapatkan bagian atas dasar wasiat wajibah sebagaimana pasal 209 ayat (2) Kompilasi Hukum Islam. Yang besarnya tidak lebih dari  (satu per tiga) dari seluruh harta peninggalan orang tua angkatnya. Penelitian dengan metode yuridis normatif ini. Memiliki tujuan untuk mengetahui hak anak angkat, terhadap harta warisan menurut hukum waris Islam di Indonesia. Seringkali terjadi sengketa antara ahli waris dengan anak angkat terkait pembagian harta warisan orang tua angkat. Penyelesaian sengketa waris Islam yang dimana para pihaknya beragama Islam, diselesaikan di Pengadilan Agama. Dikarenakan dalam pengambilan putusan, Pengadilan Agama mengacu pada hukum Islam dan Kompilasi Hukum Islam. Sehingga putusannya sesuai dengan hukum waris Islam. Sedangkan Pengadilan Negeri menyelesaikan sengketa waris berdasarkan Kitab Undang-Undang Hukum Perdata dan hukum adat. Sehingga tidak sesuai dengan ketentuan hukum Islam."Penjelasan pak Herman


"Terus terang mas, saya tidak tahu apa yang sudah di siapkan khusus untuk Asifa. Karena setelah saya berdebat dengan mendiang, saya langsung pergi kerumah sakit. Menghindari perdebatan tentang mencari keberadaan Asifa dan talk show itu. Dan siangnya mendiang, izin untuk pergi berjumpa dengan teman-teman. Dan saya belum pernah pulang, setelah mendiang akan di kebumikan. Saya masuk kamar hanya ganti baju saja jadi tidak memperhatikan isi lemari. Setelah selesai tahlil saya baru membuka pintu lemari bagian pakaian mendiang. Melihat ada koper ini, lalu saya berinisiatif mencari petunjuk. Dengan membuka laci yang ada di meja rias. Menemukan ini map dan amplop putih tulisan tangan. Yang berisi untuk menyampaikan pesan ini pada putrinya Asifa."Pak Arya menjelaskan pada sahabat sekaligus besannya.


"Berarti ini murni wasiat mendiang mbak Gina. Tapi maaf saya akan lihat isinya setelah di rumah. Karena ini waktunya sangat mepet, saya harus segera ke bandara mas."Ucap pak Herman pada pak Arya.


"Ya tidak apa-apa yang penting ini Asifa terima pemberian mendiang ibu. Dan semoga bermanfaat untuk Asifa, agar ibu yang memberi juga senang."Ucap pak Arya.


"Asifa terima yah. Terima kasih sudah menyayangi Asifa seperti putri kandung sendiri."Ucap Asifa.


"Sama-sama sayang, ayah hanya berharap kamu tidak menjauhi ayah dan opa. Kami tidak akan mengusik kamu, jika kamu tidak menghindari dan menjauhi kami."Terkesan sebuah ancaman.


Asifa tidak ada pilihan lain, sejenak ia berpikir. Tidak baik juga memutuskan silaturahmi, terlebih keluarga Dinata orang yang telah berjasa baginya.


"Baiklah yah. Asifa pamit pulang ke Jogja, sekali lagi terima kasih." Lalu menoleh pada opa, juga Ardi dan Salsa. "Opa, mas Ardi, Salsa, saya pamit."Langsung berdiri menyalami dan mencium tangan ayah, opa, dan Salsa. Kecuali Ardi, karena cukup dengan menangkup kedua tangan di depan dadanya.

__ADS_1


"Iya sayang hati-hati." Pak Surya dan pak Arya bersamaan.


"Iya dek hati-hati."


"Iya Asifa hati-hati"Ardi dan Salsa pun sama.


"Antonio, Rendra, Irgi tolong bantu papa, mama dan Asifa. Antar sampai ban dara dan siapkan juga bantuan untuk di bandara internasional AdiSucipto. Dan lanjut untuk sampai rumah dengan selamat."Perintah Ardi pada para pengawal.


"Baik tuan muda."Mereka pun tidak membantah dan langsung melaksanakan.


"Pak, mas, saya pamit. Untuk kalian berdua semoga segala memiliki keturunan ya."Ucap bu Hafsah, yang memang masih kesal dengan Ardi itu.


Sengaja berucap seperti itu, ingin tahu apa jawabannya Ardi dan istrinya.


"Terima kasih ma, sudah memberikan doa yang terbaik untuk kami." Ucap salsa dengan senyum kikuk.


Akhirnya semua beranjak dari duduknya dan berjalan menuju keluar rumah untuk mengantar ke pulangkan keluarga Hermansyah.


"Assalamualaikum,"ucap Asifa dan kedua orang tuanya.


"Wa'alaikumsalam,"jawab yang ada di depan rumah itu.


Setelah semua masuk ke dalam mobil, Irgi menjalankan mobilnya. Sementara Rendra dan Antonio berbeda mobil, selain menjadi pengawal mereka yang membawa barang.

__ADS_1


Dua jam kemudian pak Herman beserta istri dan putrinya. Telah sampai di bandara internasional Adisucipto Yogyakarta. Mereka di sambut oleh pak Didik dan Purnomo, di lobby bandara.


"Assalamualaikum nyonya muda,"ucap mereka berdua.


"Wa'alaikumsalam, maaf siapa ya?"tanya Asifa yang bingung, dengan sapaan kedua pemuda itu.


"Saya Didik dan ini Purnomo. kami di tugaskan oleh tuan muda, untuk mengantar anda dan keluarga sampai rumah."Jawab didik.


Sebelumnya Antonio sudah mengirimkan gambar Asifa. Saat masih di bandara internasional Soekarno Hatta tadi. Tepatnya satu jam lalu, saat mereka sedang menunggu keberangkatan.


"Oh baiklah terima kasih sudah repot-repot jemput kami."Ucap Asifa.


"Tidak nyonya muda. Ini sudah menjadi tugas saya sebagai pengawal anda."Ujar Didik.


Namun hal itu membuat Asifa merasa kurang nyaman. Karena dirinya masi di perlakukan seperti nyonya muda di keluarga Dinata.


"Apa? kalian di tugaskan untuk mengawal saya, yang benar saja?"tanya Asifa tersulut emosi. Sambil berjalan untuk masuk mobil yang sudah berhenti tepat di hadapan mereka.


"Iya nyonya muda, tapi kami tidak tahu hanya untuk kepulangan anda atau seterusnya." Jawab Didik.


"Baiklah."Asifa sudah tidak mau ambil pusing, karena sudah sangat lelah hari ini.


Tidak berapa lama mereka sampai di rumah Asifa, dan di sambut oleh Taufiq dan Fahmi. Ya Fahmi di kabari oleh Taufiq, jika hari ini mereka akan pulang hari ini. Tadi rencana Taufiq yang akan berkunjung di rumah Taufiq. Malah dapat kabar jika Asifa dan mertuanya pulang hari ini. Jadi mereka dari sore mereka ada di rumah Asifa malah ikut membersihkan rumah. yang sudah beberapa hari kosong.

__ADS_1


*****Bersambung.....


__ADS_2