
"Setahu saya cemburu itu dari hati mas bukan pikiran"Kata Andik sambil tersenyum mengejek.
"Oh begitu ya? bukan nya pikiran? baru sadar."Ucapnya sambil terkekeh.
Mereka tertawa bersama, sampai Asifa dan Fahmi menoleh. Kedua langsung bungkam ketika melihat kedua sejoli menatap mereka bingung.
Lalu Fahmi dan Asifa berdiri dari duduknya berjalan menuju keduanya. Di kira akan menanyakan obrolan mereka, ternyata Asifa minta pulang karena sudah lelah.
Di dalam mobil, Asifa yang sudah beraktifitas seharian full pun kini tertidur. Saat berangkat tadi tidak jadi tidur karena di goda Fahmi dan Taufiq. Tapi saat pulang dengan rasa lelahnya, ia tidak terasa di depan.
Matanya bertemu pandang dengan Taufiq dan Andik, yang memang memperhatikan dirinya dari spion tersebut. Fahmi tersenyum malu-malu ketahuan, jika dirinya sedang ya memikirkan sesuatu.
Taufiq yang memang sudah tahu kalau tadi Fahmi sedang memperhatikan adik iparnya. Ia tahu jika Fahmi sedang mengontrol dirinya dari pesona adiknya. Rasa yang membuat hasratnya yang lama, tidak pernah ia rasakan.
"Makanya Mi jaga pandangan, sehingga dirimu tidak mudah goyah akan bisikan syaitan. Kalau ingin menatapnya jangan lebih dari satu kedipan mata. Makanya lebih dari itu sudah bisikan syaitan, sehingga membangkitkan sesuatu yang ada di diri mu."Kata Taufik, yang menatap bagian bawah perut Fahmi.
Deg
Fahmi kaget bukan main, rasanya ingin ingin sembunyi di dalam lubang semut. Malu bukan kepalang, apa lagi yang di tatap Taufiq adalah peliharaan nya bangun.
"Iya ustadz, terima kasih untuk pencerahan nya." Ucap Fahmi, namun ia tidak berani menatap Taufiq. Dan tidak memanggil kak atau mas pada Taufiq. Sebab ia merasa malu dengan teguran kakak iparnya sekaligus ustadz nya saat di kampung dulu.
Yang mana rumah Fahmi masih berada di lingkungan pondok pesantren. Sedangkan Taufiq masih keluar pemilik pondok pesantren tersebut.
"Maaf ya, bukan maksud ku mempermalukan mu. Aku hanya ingin mengingat kan diri mu agar tidak tenggelam oleh bisikkan syaitan. Yang memang kerjaan nya menggoda mahluk Allah yang bernama manusia. Bermuhasah dan perbaiki diri, hindarilah kontak mata dengan Asifa. Sebagai saudara dan ustadz aku memiliki kewajiban untuk mengingatkan. Aku tahu dirimu ini begitu mencintai Asifa, tapi jangan sampai rasa cinta mu pada Asifa melebihi rasa cinta mu pada Allah. Yang kita tahu jika kita mencintai sesuatu jangan berlebihan. Selain rasa cinta kita kepada Allah SWT, yang telah memberikan kita petunjuk jalan kebenaran." Nasehat Taufiq pada sahabat sekaligus calon saudara iparnya.
__ADS_1
"Baik ustadz," hanya itu yang di ucapkan oleh Fahmi.
Itulah yang membuat Fahmi mengajak Taufiq kemana pun ia pergi bersama Asifa. Selama belum sah, hal seperti ini lah yang ia takutkan. Karena ia menyadari, bahwa manusia tidak ada yang bisa lebih dari godaan syaitan. Jika ada Taufiq, apa yang terjadi akan langsung di ingatkan.
Beberapa menit setelah itu, mereka sampai di rumah Asifa. Fahmi keluar duluan untuk memanggil calon mertuanya, untuk membangunkan calon istrinya. Ia tidak ingin khilaf lagi jika menatap wajah manis Asifa.
"Assalamualaikum pa, ma."Ucap Fahmi.
"Wa'alaikumsalam nak," jawab keduanya.
"Pa, itu dek Zahra tidur, saya tidak berani membangunkan. Karena sepertinya dek Zahra sangat kelelahan, saya tidak tega. Mungkin papa bisa, papa saja ya maaf." Ucap Fahmi, merasa tidak enak pada calon mertuanya.
"Oh ya, biar papa yang bawa coba bangunkan." Langsung berjalan ke luar rumah yang di ikuti Fahmi. Sedangkan bu Hafsah menuggu di rumah tamu.
"Princess bangun sayang,"panggil pak Herman, ketika membangunkan Asifa. Cara itu yang di gunakan sejak Asifa masih kecil sampai dewasa masih sama. Memanggil sambil mengusap pipinya Asifa yang mulus itu.
Sangking lelahnya Asifa hanya bergumam kecil. Lalu ia tidur kembali, karena tidak tega dengan putri kesayangannya itu. Pak Herman rela mengendong putrinya, meski pun nantinya ia kena encok. Namun kenyataannya tidak sama sekali, sebab Asifa yang kecil dan imut.
Dengan perlahan pak Herman mengangkat sendiri, sebab ia tidak ingin siapa pun menggantikan posisi nya. Apa lagi mereka bukan mahramnya, karena Fahmi pun belum sah menjadi menantunya.
Sesampainya di kamar Asifa, dengan perlahan pak Herman merebahkan tubuh putrinya. Lalu melepaskan sepatu Asifa dan menyelimuti putrinya hingga di dadanya. tidak lupa memberikan kecupan hangat di kening putrinya.
Sedangkan bu Hafsah yang tadi membukakan pintu kamar Asifa. Kemudian menyalakan AC yang di kamar Asifa dan ikut memberikan kecupan hangat di kening putrinya.
Saat keduanya keluar kamar, kaget melihat Fahmi di depan kamar putrinya. Keduanya mengerutkan keningnya, dengan tanda tanya.
__ADS_1
"Maaf pa, ma ini tas adek Zahra."menyodorkan tangan selempang milik Asifa.
"Kalau begitu saya pamit pulang ya pa, ma, karena sudah mau magrib."Pamit Fahmi, yang ingin segera mendinginkan dirinya.
"Baiklah nak, terima kasih ya sudah menemani putri papa dan mama."Ucap pak Herman, pada calon menantunya itu.
"Iya pa, sama-sama. Saya pamit assalamualaikum,"ucap Fahmi yang langsung mencium tangan pak Herman dan menangkupkan kedua tangannya di depan dadanya untuk calon ibu mertuanya.
"Wa'alaikumsalam," jawab keduanya.
Lalu mengikuti Fahmi keluar dari rumahnya, dan bertemu dengan Taufiq dan Andik. Keduanya juga pamit untuk pulang, karena sore dan ingin pergi ke masjid untuk sholat maghrib.
****************
Waktu terus berjalan hingga kini hari pernikahan Asifa dan Fahmi akan di gelar esok hari.
Kini di kamar Asifa sedang memandangi para pekerja yang sedang mendekorasi rumahnya. tenda untuk acara pernikahan ini lebih sederhana dari acar ulang tahun Asifa dua bulan lalu.
Semua biaya pernikahan ini, dan sesuai dengan keinginan Asifa. Dekorasi pelaminan yang sederhana, baju pengantin syar'i. Dengan warnanya juga pilihan Asifa sebulan lalu.
Sedangkan Fahmi saat ini merasa berdebar, gugup tidak karuan. Bahkan rasa itu lebih mendebarkan dari pernikahan yang pernah dulu. Saat ia menikah dengan Lasmi ia merasa berdebar dan gugup. Namun rasanya tidak segugup ini, sambil menghafal akan nikahnya untuk besok.
Sesekali ia memastikan apakah semua sudah siap, dari seserahan mobil pengantin. Karena setelah acara selesai maka Fahmi dan Asifa akan bermalam di hotel. Yaitu hotel bintang lima dengan pilihan kamar yang paling mewah. Dan ruangan yang besar dan luas untuk beberapa hari di hotel tersebut. Karena ia tidak ingin ada yang menggangu, dan di ganggu. Itu adalah bulan madu mereka berdua layaknya pasangan pengantin baru lainnya.
*****Bersambung.....
__ADS_1