
"Anak-anak tante pulang dulu ya. Insya Allah bulan depan tante ke sini lagi." Pamit Asifa dengan senyum manisnya, pada anak-anak.
"Iya tante,"kompak mereka.
"Tante Asifa, kenapa Om nya panggil nama Zahra?"tanya salah satu dari mereka.
"Iya sayang, itu masih nama tante. Om nya sudah biasa panggil nama itu."Jawab Asifa.
"Memang nama lengkap tante siapa?" tanya anak yang berusia 5 tahun yang bernama Indah.
Asifa menoleh pada Fahmi, sebelum menjawab pertanyaan anak yang cerdas satu ini. Sejak ia main selalu banyak pertanyaan yang terlontar darinya. Dan selalu manja dengan Asifa, layaknya pada ibunya sendiri. Asifa pun menyambut nya dengan suka cita, apa lagi ia memang suka dengan anak-anak.
"Nama tante adalah, Asifa Az Zahra. Dan om Fahmi lebih nyaman memanggil nama Zahra." Indah mengangguk tanda mengerti.
"Sekarang tante mau pulang dulu ya sayang, nanti kalau ada waktu tante ke sini lagi."Pamit Asifa, yang di angguki oleh anak-anak.
Kemudian semua mencium tangan pada Asifa dan yang lain. Dan menangkupkan kedua tangannya pada anak laki-laki yang sudah besar dan balik. Lalu pamit dengan ibu panti nya, karena sudah menjelang sore.
Di tengah perjalanan mereka singgah ke masjid untuk melaksanakan sholat ashar. Setelah selesai sholat ashar, mereka menuju sebuah taman hijau daerah Jogja. Lebih tepatnya lagi yang ada danau buatan, dan di sana Asifa atau pun Fahmi duduk di sebuah kursi. Tak jauh dari mereka ada Andik dan Taufiq.
"Apa mas boleh tahu, apa yang membuat adek suka dengan tempat yang sepi seperti ini?"tanya Fahmi pada Asifa, setelah mereka berdua saling diam beberapa menit.
"Zahra merasa tenang kalau seperti ini, lebih fokus pikiran nya pada sang pencipta. Dapat bisa berfikir lebih jernih, bisa berinteraksi dengan sang pencipta dunia dan isinya. Bahwasanya kita tidak akan bisa mengatur semua itu. Sebab kita ini bagaikan sebutir debu, tidak ada apa-apanya di bandingkan sang pencipta. Maka semua yang kita hadapi ini, termasuk ketentuan dari Allah SWT." Jawab Asifa, dengan pandangan tetap ke depan.
Asifa memilih tempat sepi, untuk menikmati pemandangan sekaligus muhasabah diri. Kadang di isi dengan berzikir, atau murotal dalam hati. Memang jika di lihat oleh seseorang, Asifa terlihat melamun memikirkan beban hidup yang sedang ia hadapi. Meski pun itu termasuk yang ia pikirkan, tapi Asifa berusaha melupakan masalah nya. Dengan terus berzikir, berdoa, murotal di dalam hatinya.
"Jarang seorang perempuan yang menyukai tempat sepi begini dek. Kebanyakan seorang lelaki, apa adek tidak ada rasa takut?" Fahmi bertanya hanya ingin tahu dan lebih mengenal Asifa lebih dalam. Agar kedepannya ia bisa menyiapkan sesuatu yang dapat membahagiakan Asifa. Karena baginya kebahagiaan nya hanya ingin melihat Asifa selalu bahagia.
__ADS_1
"Zahra tidak pernah merasa takut mas, kan kemana-mana ada yang mengawal. Dan Zahra selalu merasa bersama Allah, ketika di tempat seperti ini. Kalau pun cuma ada Zahra sendiri, itu artinya Zahra sedang berhadapan langsung dengan Allah. Kadang Zahra juga suka di masjid, dari pada ke mall dan lain sebagainya."Cerita Asifa, tanpa rasa canggung.
"Memang kenapa?" Fahmi bertanya lagi, sengaja dan ingin tahu kedepannya harus apa untuk Asifa.
"Tidak suka mas silau dan hati tidak tenang selalu was-was."Jawab Asifa jujur, karena setiap masuk ke mall atau gedung tinggi di hantui rasa takut.
"Apa adek punya trauma, yang berhubungan dengan gedung?" tanya Fahmi, Fahmi yakin bahwa perempuan cantik dan manis ini memiliki trauma.
"Zahra tidak tahu mas, tapi yang Zahra rasakan ketika berada di sebuah gedung. Tiba-tiba perasaan itu timbul rasa was-was, akan sesuatu yang tidak dapat di bayangkan oleh Zahra."Jawab Asifa, menceritakan pada Fahmi tentang rasa yang ada dalam dirinya.
"Mungkin adek ada trauma, tapi adek tidak tahu atau mungkin lupa dengan kejadian nya. Rasa was-was itu akan timbul, jika berhubungan dengan trauma yang pernah adek alami. Ya sudah tidak apa-apa, dengan begini mas jadi tahu. Apa yang membuat adek nyaman dan tidak." Ucap Fahmi dengan senyum tulus pada Asifa, di saat Asifa menoleh.
Asifa melihat senyum Fahmi, jantung berdebar kencang. Bahkan ia juga bisa merasakan kenyamanan saat ngobrol dengan Fahmi. Berbeda saat ia ngobrol dengan Ardi sang mantan suami.
Rasa bahagia itu muncul ketika melihat senyum Fahmi yang tulus pada dirinya. Namun Asifa sadar segera ia memalingkan wajahnya dari tatapan Fahmi.
"Eem, adek ingin tema pernikahan seperti apa nanti?"tanya Fahmi.
"Zahra ingin sederhana saja mas cukup di rumah dengan mengundang tetangga saudara sahabat. Tidak perlu resepsi ya mas, Zahra ingin akad nikah saja cukup."Jawab Asifa.
"Baiklah, tapi dengan tema pernikahan seperti apa? adek belum jawab lo."Kata Fahmi, dengan Nana canda.
"Temanya Islam saja mas, jadi tidak pakai kebaya. Zahra kurang nyaman jika pakai kebaya, pakaian syar'i seperti lebih baik."Jawab Asifa, mengutarakan keinginannya pas nikah nanti.
"Baiklah nanti semua mas siapkan bersama tim EO(Event Organizer) dan Zaki."Fahmi ingin acara nya yang terbaik kali ini.
Kini obrolan mereka berdua terhenti juga pas selesai. Keduanya menoleh ke belakang, dimana Andik dan Taufiq tertawa bersama. Entah obrolan apa yang mereka berdua juga tidak tahu.
__ADS_1
...----------------...
"Andik, kalau begini saya merasa seperti pengawal juga."kata Taufiq.
"Ya tidak apa-apa kak, kalau untuk mereka. Karena saya tidak ingin melihat Asifa menangis, dan bersedih lagi."Kata Andik, yang begitu besar sayangnya pada Asifa dari pada diri sendiri.
"Apa istri mu tidak cemburu? kamu lebih mementingkan Asifa dari pada istri?"tanya Taufiq.
"Aku tidak tahu kak, tapi dulu waktu masih pengantin baru dia sampai aku ajak kerja. Mengikuti Asifa kemana-mana, sampai akhirnya dia bisa dekat dengan Asifa. Kakak lihat sendiri kan kalau mereka sudah ketemu suka lupa sama suami." Jawab Andik, menceritakan bahwa istrinya di awal pernikahan memang ada rasa cemburu. Namum semakin mengenal Asifa, tidak lagi nampak cemburu. Justru istrinya kadang ingin tahu tentang Asifa selama sehari bersama nya.
"Hebat itu istri mu, bisa menjadi saudara malahan kalau saya lihat." Kata Taufik mengingat beberapa kali ke temu di rumah mertuanya.
"Karena dia juga ingin punya adik perempuan dulu katanya. Sedangkan saya yang sudah menganggap Asifa adik sendiri. Maka dari itu istri saya juga menganggap Asifa adiknya. Menurut kakak apa ada rasa cemburu, padanya?" tanya Andik.
"Ya tidak saya, kamu saja tidak tahu. Apa lagi saya, yang bukan ahlinya membaca pikiran orang. Setahu ku kamu yang bisa baca pikiran orang."Jawab Taufiq, yang jujur tidak bisa baca pikiran orang.
Sama author juga tidak bisa baca pikiran orang mas.ðŸ¤
"Setahu saya cemburu itu dari hati mas bukan pikiran"Kata Andik sambil tersenyum mengejek.
"Oh begitu ya? bukan nya pikiran? baru sadar."Ucapnya sambil terkekeh.
Mereka tertawa bersama, sampai Asifa dan Fahmi menoleh. Kedua langsung bungkam ketika melihat kedua sejoli menatap mereka bingung.
Lalu Fahmi dan Asifa berdiri dari duduknya berjalan menuju keduanya. Di kira akan menanyakan obrolan mereka, ternyata Asifa minta pulang karena sudah lelah.
*****Bersambung.......
__ADS_1