
Setelah sholat magrib bu Gina tidak langsung bangun dari sejadah itu. Bu Gina memejamkan matanya dengan derai air matanya. Bibirnya terus berzikir, menyebutkan nama sang pencipta dan mohon ampun.
Sementara yang lain sibuk di dapur menyiapkan makanan malam meskipun harus beli di luar tadi atas permintaan bu Hafsah pada Taufiq. Dan Taufiq pergi dengan sang supir taksi alias mata-mata keluarga Dinata.
Hingga adzan isya berkumandang, mereka para laki-laki pergi ke masjid.
Para perempuan kembali melakukan sholat berjamaah di rumah. Kecuali Asifa, yang mengajak Atifah main di ruang keluarga.
Dan setelah sholat mereka siap untuk makan malam. Di meja makan sudah ada pak Herman, Taufiq, Haris, bu Hafsah,bu Gina, Asifa, Aisyah dan kedua anaknya.
Dari luar ada dua laki-laki datang, ya itu Ardi dan Fahmi.
Ardi datang ke Jogja setelah tadi di kabari Haris jika ibunya berada di Jogja. Dengan keadaan yang tidak baik-baik saja, namun Haris minta agar jangan sampai bu Gina tahu.
Bahkan dirinya yang memberitahu Ardi. melalui chat. Karena tidak ingin terjadi apa-apa pada nyonya besar dan ia yang di salah kan.
Sementara Taufiq yang tau dari sang mata-mata jika Ardi juga akan sampai di kediaman mertuanya. Maka ia berinisiatif untuk memanggil dan mengajak Fahmi makan malam. Dan ia meminta Fahmi memberikan perhatian pada Asifa di depan mertuanya dan mantan suaminya.
"Assalamualaikum" ucap keduanya dan langsung menyalami pak Herman dan dan menangkup kedua tangannya di dada untuk memberikan salam pada yang perempuan. Tapi Ardi menyalami ibunya dan mertuanya. kecuali Aisyah dan mantan istrinya.
"Wa'alaikumsalam"jawab semua yang ada di ruang makan. Sambil menyambut uluran tangan kedua laki-laki jika yang laki-laki.
Dan yang perempuan hanya menangkup kan kedua tangannya di dada. Menyambut salam mereka dan mempersilahkan mereka duduk.
"Dek Zahra sepertinya sekarang nafsu makannya meningkatkan ya?" tanya Fahmi.
"Hehehe jadi malu di perhatikan oleh mas Fahmi. Saya memang beberapa hari ini bawaan pengen makan."Jawab Asifa, sambil menunduk.
"Apa tidak takut kalau dek Zahra gendut gitu?"tanya Fahmi sambil terus menatap Asifa yang makan lahap dengan makan rendang jengkol. Makanan kesukaan Asifa yang merupakan makanan ke Fahmi.
__ADS_1
Mereka berdua tidak perduli dengan yang lain, karena memang hanya mereka berdua yang makan jengkol.
"Tidak mas, memang kenapa mas?"tanya Asifa.
"Kan biasanya itu jaga pola makan, dan jaga body agar seperti ini langsing."Kata Fahmi.
"Dulu aku jaga kesehatan dan makan makanan bergizi terus, menjaga pola makan cuma untuk sehat. Tapi untuk sekarang aku tidak perduli, yang penting saya bisa makan makanan yang ku sukai. Aku makan lahap, dan bebas tidak ada yang melarang. Selama di sini aku bisa bebas makan apa pun, makanya aku di sini betah."Cerita Asifa panjang lebar, dengan menyindir mantan suaminya.
Perkataan Asifa membuat Ardi kesal, pasalnya Asifa tidak menganggap ada dirinya.
Ardi juga kurang suka dengan pemuda yang terlihat akrab mantan istrinya.
"Oh... rupanya kecil-kecil makan banyak ya."Kata Fahmi sambil tersenyum menggoda pada Asifa.
Asifa yang tadi menatap Fahmi sekilas langsung menunduk tersenyum malu, terlihat merona di pipinya.
"Apa kamu suka jengkol Mi?"tanya Taufiq.
"Serius perasaan dulu waktu di pesantren ibu mu tidak pernah membawakan kamu makanan satu itu." Kata Taufik yang tidak percaya dengan pernyataan Fahmi.
"Yang benar saja mas. Kalau sampai ibu membawa makanan satu ini bisa gempar tu pondok pesantren. Dan aku bakal di keroyok semua santri, dan jadi sasaran empuk kamu dong mas."Kata Fahmi dengan senyumnya yang menawan.
"Hahahaha benar juga kamu."Taufiq jadi ingat waktu dia jadi pengawas kamar santri.
"Nak Fahmi tinggal di mana apa masih satu perumahan?"bu Gina.
"Iya masih sekitar sini, yang beda blok nya saja."Jawab Fahmi.
"Apa sudah lama atau baru juga di sini?"tanya bu Gina lagi.
__ADS_1
"Saya baru di sini bareng dengan mas Taufiq. Tapi mas Taufiq sudah tinggal di sini, saya Masi hilir mudik Jakarta yogyakarta. Karena harus mengurus surat pindah dan jual rumah yang di sana. Bahkan saya juga masih harus ke Surabaya untuk menengok kedua orang tua saya."Cerita Fahmi, dengan santai karena Fahmi juga mudah akrab.
"Oh begitu? Apa nak Fahmi juga sudah berkeluarga?"tanya bu Gina, Ia tahu jika Fahmi menyukai Asifa.
Bu Gina bertanya seperti itu juga ingin tahu seperti apa pemuda di depannya ini. Dan ingin tahu bagaimana reaksi anaknya. Jika memang pemuda itu menyukai Asifa, maka ia yakin bahwa pemuda itu yang terbaik untuk putrinya.
Dan bu Gina yakin bahwa Taufiq yang mengundangnya untuk menunjukkan padanya dan Ardi. Bahwa Asifa sudah bisa move on dari Ardi, meski belum sepenuhnya.
"Sudah pernah bu, dan sudah dua tahun ini sendiri."Jawab Fahmi.
"Oh maafkan ibu ya, jika menggali luka mu lagi. Lalu apa penyebab kamu sendiri sekarang, apa sudah punya anak?"Pertanyaan bu Gina makin ke dalam.
"Saya mengalami masalah ekonomi, dan mantan istri memilih cerai dan hidup dengan orang yang lebih sempurna dari saya. Alhamdulillah saya belum memiliki keturunan dan di pernikahan saya baru 9 bulan."Jawab Fahmi.
"Memang dulu nak Fahmi kerja di mana?"tanyanya
"Sebagai pengajar di salah satu universitas swasta, dan saya dosen honorer, dan kontrak sudah selesai dan mencari yang baru juga sangat sulit. Padahal waktu itu saya baru sebulan menikah. Akhirnya saya jadi tukang ojek sambil mencari pekerjaan lagi. tapi tidak ada. Sampai akhirnya saya baru di terima kasih di sebuah restoran. Dari restoran itu juga saya tau kalau mantan istri saya selingkuh dengan seorang pengusaha."Cerita Fahmi.
Bu Gina yakin kalau Fahmi cocok dengan Asifa, tapi ia juga ragu secara Fahmi juga pasti ingin memiliki keturunan.
Yang tadinya senang kini jadi pesimis. Tapi tetap berdoa agar Asifa bisa mendapatkan jodoh yang terbaik.
"Ayo kita pindah ke ruang tamu ngobrol biar lebih leluasa."Ajak pak Herman.
Para laki-laki bu Hafsah dan bu Gina pindah ke ruang tamu. Aisyah dan Asifa membereskan bekas makan mereka.
Tapi tidak mencuci piring, karena masih ada tamu jadi tidak enak. Jika mereka masih berada di dapur.
Setelah berada di ruang tamu bu Gina menyampaikan niat kedatangan.
__ADS_1
"Mbak Hafsah dan mas Herman, saya ke sini hanya ingin melihat keadaan putri kita, terutama putri mu. Dan....
*****Bersambung...