
"Subhanallah.... jauhkan hamba dari mahluk mu yang seperti itu ya Allah..."Ucap Fahmi dengan mengusap wajahnya.
Fahmi merasa frustasi berhadapan dengan dosen satu itu. Fahmi benar-benar terganggu dengan telepon tadi.
Sambil melanjutkan tugasnya, Fahmi terus menerus bibirnya mengucapkan istighfar. Karena untuk menghilangkan rasa benci dan kesalnya terhadap teman seprofesinya itu.
...****************...
"Wa'alaikumsalam..., ih kenapa sih pak Fahmi ini susah sekali di dekati. Kalau di kampus boleh jaga image nya, yang cool gitu. Aku pun malu kalau di depan umum terlalu mengejar pak Fahmi. Bisa-bisa aku di bilang janda gatel lagi, tapi entah mengapa aku ingin selalu berada di sisi pak Fahmi. Yang tampan, baik, tapi cool seperti artis Thailand, Thitipoom Techaapaikhun uh mempesona." Berkata sambil menghayal.
Membayangkan bisa bersama Fahmi, seorang dosen yang mampu membuatnya tergoda dengan pesonanya. Sesuai dengan kriteria nya, dewasa, santun, tampan, setia.
Dirinya yakin jika orang seperti Fahmi itu setia, karena yang dia tau Fahmi belum menikah lagi sejak berpisah dengan istrinya.
Ia mendengar sendiri saat di tanya oleh dosen senior nya yaitu Irfan. Sehingga dia sedikit lebih tau, seperti apa Fahmi.
Sebab dia pun menjanda karena di selingkuhi juga oleh mantan suaminya. Dari situ juga dosen cantik ini, semakin tertarik pada Fahmi.
...****************...
Di rumah sakit, Asifa terus merayu kedua orang tuanya.
"Papa Asifa mau pulang, bosan di sini terus." Rengek Asifa pada papanya.
"Tidak bisa princess papa tidak mau ambil resiko. Kamu boleh pulang kalau dokter bilang kamu sudah boleh pulang."Kata pak Herman pada putri kesayangannya.
"Tapi aku sudah capek pa, di sini aku cuma makan tidur terus. Badan ku ini jadi pegal-pegal semua, makanan pun yang tidak enak di makan. Kalau makanan Nusantara kan enak aku bisa pilih apa saja yang ingin ku makan.
__ADS_1
"Iya papa tahu bagaimana rasanya jadi orang sakit. Kamu mesti sabar ya sayang, untuk sekarang kesehatan mu lebih penting."Kata pak Herman dengan lembut.
Pak Herman berharap Asifa mengerti akan ke khawatiran nya. Karena itu pak Herman ingin yang terbaik untuk Asifa. Kesehatan jasmani dan mentalnya, baru bisa tenang.
"Pa, aku kan cuma kecapekan jadi kemarin ngedrop deh."Kilah Asifa dengan menunduk.
"Kamu pikir kalau papa ini bisa kamu bohongi seperti Atifah apa. Papa bisa lihat kamu itu tidak kurang tidur selama di Jakarta kemarin. Dan kamu masih saja mengingat orang yang tidak punya hati itu. Papa tidak habis pikir dengan kamu itu, masih saja memikirkan mereka. Memang mereka itu sudah berjasa bagi mu, apa kami ini juga tidak berjasa bagimu?"
(.......)
"Memang kalau bukan karena mereka, kamu dan Aisyah tidak mungkin bisa seperti sekarang. Bahkan papa ini hanya buruh biasa, boro-boro mau menyekolahkan anak-anaknya sampai sarjana. Bisa sekolah sampai SMA pun mungkin sulit untuk mu dan Aisyah. Tapi bagi papa kebahagiaan mu itu yang paling penting sayang. Papa ingin kamu melupakan mereka, jangan mereka terus ada di pikiran mu. Karena papa merasa kalau kamu mm melupakan kami." Lanjut pak Herman dengan meneteskan air matanya.
"Asifa mama dan papa akan berusaha, untuk membuat kamu bahagia tanpa mereka. Kamu yang tidak mau terbuka pada kami, itu yang membuat kami merasa tak berguna. Sebagai orang tua, kami merasa gagal untuk menjadi orang tua yang baik untuk putrinya."Timpal bu Hafsah, dengan air mata yang mengalir deras di pipinya.
Hal ini lah yang membuat Asifa selama ini, selalu memendam semua rasa yang pelik ini. Karena dia tidak ingin orang tuanya menjadi sedih.
Dulu Asifa menerima perjodohan juga karena balas budi. Tapi pas bertemu dengan Ardi ada rasa yang tumbuh di hatinya. Begitulah yang di kira pilihan orang tua juga yang terbaik. Dan dia juga sudah merasa nyaman dengan keluarga Dinata.
Tapi setelah menikah, dengan pria yang sudah membuatnya jatuh cinta. Untuk yang pertama kali nya, Asifa sangat bahagia.
Namun setelah sebulan pernikahan Asifa bisa bahagia. Tapi jika orang yang paham dengan hatinya, pasti tahu jika itu hanya di luar.
Karena Asifa merasa seperti burung, hidup di dalam sangkar emas. Apa pun bisa dia dapat, mau shoping, jalan-jalan keliling dunia pun bisa. Tapi selalu dalam aturan pemiliknya, tidak bisa menentukan keinginan nya sendiri.
"Bukan Asifa tidak mau terbuka ma, pa, tapi itu yang akan membuat kalian bersedih. Asifa tidak mau, kalau kalian ikut merasakan apa yang Asifa rasanya. Karena tidak akan ada yang menguatkan Asifa. Huhuhuhuhu, makanya Asifa minta untuk pulang ke sini. Karena kalau di sini Asifa bisa tenang ma, pa."
Menangis lah di dalam dekapan papanya. Pak Herman pun menenangkan putrinya dengan mengusap kepalanya.
__ADS_1
"Tapi sekarang Asifa mungkin tidak akan tenang jika masih di kawal sama bodyguardnya ayah pa." Keluh Asifa, merasa tidak nyaman.
"Tenang sayang, papa sudah bicarakan ini dengan ayah mu dan Ardi. Para pengawal itu cuma berjaga selama kamu di rumah Asifa. Yang penting sekarang kamu lupakan, apa yang pernah kamu rasakan."Kata pak Herman, dengan penuh kasih sayang.
"Sungguh?" Asifa mendongak menatap wajah papa. Untuk memastikan ucapan papanya, karena dia tahu cukup sulit berhadapan dengan orang seperti pak Arya.
"Iya sayang, tapi...." Ragu untuk menyampaikan permintaan sahabatnya sekaligus besannya.
"Tapi apa pa?"tanya Asifa.
"Ayah mu itu meminta pada papa, kalau kamu tidak boleh menolak pemberian nya."Jawab pak Herman.
Asifa bingung apa yang di maksud ayah dan papanya. Memang apa yang akan ayahnya berikan untuknya.
"Memang ayah mau memberikan apa untu Asifa, yang dari ibu saja belum Asifa buka." Kata Asifa.
"Kata ayah mu akan di berikan pada mu, kalau kamu sudah menikah . Dan ayah meminta kamu harus menikah dalam waktu 3 bulan ini."Pak Herman menatap wajah Asifa yang ternganga.
Bagaimana Asifa tidak ternganga, permintaannya yang menurutnya masih mengekangnya.
"Huff kenapa sih sangat sulit lepas dari mereka. Ini aku cuma anak angkat saja, bagaimana jika aku anak kandungnya. Gak ke bayang deh, bagaimana hidup ku. Lagian menikah dengan seorang perempuan penuh kekurangan ini, siapa yang mau. Kenapa dia gak pernah mikirin perasaan aku. Bilangnya saja sayang, kalau seperti ini apa bisa di bilang sayang." Kata Asifa dengan emosi yang mulai mendera pada mental Asifa.
Pak Herman langsung menarik Asifa dalam pelukannya. Dan menenangkan, supaya Asifa tidak sampai emosi berlebihan. Sehingga berdampak pada mentalnya, dan depresi lagi.
"Istighfar sayang, papa sudah sampai kan dengan ayah. Untuk pernikahan ini kita tidak akan gegabah. Bagaimana jika kita sholat istikharah dulu, minta petunjuk pada Allah SWT. Karena Allah sebaik-baiknya tempat meminta jalan petunjuk." Ujar pak Herman.
*****Bersambung.....
__ADS_1