APAKAH SALAH JANDA

APAKAH SALAH JANDA
28.Yang tampak penuh luka dan kesedihan


__ADS_3

Ya di sini kamar hanya ukuran 3x3 meter persegi. Dia mengantar pak Herman dan bu Hafsah ke kamar kedua orang tuanya dan Asifa di kamarnya. Dan dia akan tidur di ruang tamu dengan kasur lantai.


"Kamu ini suka merendah. Bagi saya sama saja tinggal di rumah besar atau kecil, itu yang paling penting adalah nyaman. Di mana pun kita tinggal, jika tidak nyaman maka tidak akan betah."Ujar pak Herman.


"Benar apa yang bapak katakan, oh ya bapak dan ibu bisa tidur di kamar orang tua saya. Em adik siapa tadi? saya lupa.. hehehe."Fahmi menggaruk tengkuknya karena bingung harus manggil apa.


"Saya Asifa Az Zahra, bisa panggil saya Zahra saja mas."Jawab Asifa.


"Saya Muhammad Fahmi Muslim sudah tahu kan di panggil apa. Tapi tadi kenapa tukang ojek panggil Asifa?" tanya Fahmi


"Karena saya ingin ganti panggilan saja mas, tidak akan merubah nama aslinya."Kata Asifa.


"Terserah yang punya nama saja lah, yang penting punya nama. Karena nama akan memudahkan orang untuk memanggil mu." Ujar Fahmi berjalan ke kamarnya dan membuka pintu, dan memasukan koper milik Asifa. "Kamu bisa tidur di kamar ku, tapi maaf mungkin kurang nyaman buat mu."Kata Fahmi.


"Terima kasih mas, yang penting saya bisa tidur," ujar Asifa dan dia membuka koper dan ingin mengganti baju untuk tidur. Dia akan mengganti dengan daster panjang dengan kerudung instan biasa.


"Sama-sama Zahra."Ujarnya, dengan senyum manis pada Asifa.


Pak Herman memperhatikan Asifa dan Fahmi. Fahmi adalah pemuda dewasa bahkan jika diperhatikan, usianya di bawah Ardi.


Ya Fahmi kini berusia 30 tahun, tinggi, putih, hidup mancung, rambut ikal, tampan itu pasti. Bahkan ketampanan Fahmi di atas Ardi. Fahmi tinggal di kampung ini dari sebelum menikah kurang lebih tiga tahun lalu. Dia menduda sudah dua tahun, dia senang jika ketika melihat lihat Asifa. Bisa di katakan jatuh cinta pada pandangan pertama.


"Bapak dan ibu di sini dan kamar mandi ada di belakang sebelah dapur ya silahkan."Ujar Fahmi pada pak Herman.


"Terima kasih kamu sudah mau membantu kami. Apa kamu cuma sediri disini?"tanya pak Herman.


"Sama-sama pak. Ini juga atas permintaan mas Taufiq, jika Zahra tidak ingin meninggalkan jejak. Memang ribet pak kalau berurusan orang kaya. Kita tidak akan menang pak, melawan orang kaya, selalu menjadikan uang sebagai patokan."Kata Fahmi.

__ADS_1


"Apakah kamu yang memiliki trevel, yang di maksud Taufiq nak?"tanya pak Herman.


"Bukan pak saya pekerja biasa, bahkan saya dan mas Taufiq sekarang dapat pekerjaan di salah satu universitas Jogja."Jawab Fahmi.


"Sayang apa kamu mau mandi, ini sudah malam cukup kan wajah mu tidak perlu mandi." ketika melihat istrinya tampak lelah.


Langsung berjalan menghampiri putrinya, yang juga berdiri di sebelah istrinya yang sama ingin ke kamar mandi. Mengangkat tangan dan menyentuh kening putrinya, karena terlihat pucat dan lesu. Dan ternyata benar panas namun tidak tinggi.


"Kenapa sih mas?"tanya bu Hafsah, lalu mengikuti suaminya "Astaghfirullah mas, gimana ini? sayang ayo mama bantu." Bu Hafsah memberikan pakaian yang di pegang pada suaminya. Dan langsung menuntun Asifa ke kamar mandi.


"Kenapa ibu dan bapak panik? apa yang terjadi pada dek Zahra."Ada rasa cemas dan khawatir di dirinya. Ketika melihat pak Herman dan istrinya panik dan cemas terhadap putrinya.


"Putri saya sakit, mungkin karena kelelahan juga. Kami selalu panik dan cemas jika terjadi sesuatu padanya."Jawab pak Herman.


"Mungkin dengan istirahat besok sembuh pak. Bapak juga harus istirahat, karena ini juga sudah malam."Kata Fahmi menenangkan pak Herman.


Tak lama Asifa dan mamanya keluar dari kamar mandi. Dan menuju kamarnya Fahmi, untuk segera istirahat. Asifa sudah tampak segera karena sudah cuci muka.


"Sudah ma, aku bisa sendiri jangan perlakukan aku seperti anak kecil lagi aku malu."Kata Asifa, sambil menunduk karena Fahmi menatapnya begitu dalam.


"Bagi mama tidak ada yang lebih penting dari kamu. Mas tolong jaga princess dulu aku mau bersihkan diri bentar ya." Ujar bu Hafsah pada suami.


"Siap sayang serahkan princess ke mas, kamu hati hati di kamar mandi. Ayo princess papa harus istirahat, maafkan papa ya hari ini kurang perhatikan kamu. Bahkan kamu membereskan barang mu, ini semu untuk keamanan mu dari mereka." Pak Herman merangkul pundak putrinya dan menuntun ke kamar Fahmi. Membantu merebahkan di atas ranjang, dan menyelimuti hingga dadanya. Duduk di sebelah Asifa, sambil menunggu istrinya.


"Apa tadi princess sudah makan malam?"tanya pak Herman.


"Sudah pa, bareng sama Lira dan Rendi. Hari ini aku capek pa, karena barang-barang dari Ardi sudah habis. Aku bakar sisa sepatu dan perhiasan. Tapi perhiasan itu aku titipkan pada lira dan Rendi. Agar mereka besok menjualnya, dan uang nanti buat beli rumah kita. Biar tidak sewa dan ngontrak ya pa, insya allah cuma kalau buat beli rumah seperti ini."Kata Asifa panjang lebar.

__ADS_1


Di belakang pak Herman sudah ada bu Hafsah dan Fahmi yang membawa kotak obat dan air minum. Sehingga Fahmi dapat melihat wajah yang tampak penuh luka dan kesedihan.


"Pak ini air minum dan obat penurun panas."Ucap Fahmi, sambil meletakkan nampan atas box pakainya.


"Terima kasih Fahmi maaf merepotkan mu nak."Ucap pak Herman.


"Tidak repot pak, ini sudah seharusnya saya memberikan ini." Lalu dia menatap Asifa dengan tatapan lembut dan tulus.


"Apa dek Zahra mau makan dulu, jika lapar jangan sungkan."Tanya Fahmi, Asifa yang di tatap jadi salah tingkah dan malu. Karena sebagian tamu sungguh merepotkan yang punya rumah.


"Tidak mas aku sudah sangat ngantuk, dan ingin segera tidur. Terima kasih sudah meminjamkan kamar nya untuk ku."Ucap Asifa, tapi tidak berani menatap lawan bicara. bukan karena apa? tapi menjaga pandangan dari yang bukan mahramnya.


" Ya sudah minum obatnya, agak cepat sembuh dan besok kita akan lanjut ke Jogja. Saya mau ambil pakai buat besok pagi, takut ganggu kamu yang lagi istirahat. Saya permisi, pak, Bu dan selamat istirahat dek Zahra."Ucap Fahmi dengan senyum manis dan tulus. Sambil mengambil baju koko dan sarung yang tergantung di belakang pintu.


"Ya nak, terima kasih, selamat istirahat juga"Ucap pak Herman dan bu Hafsah. Sedangkan Asifa hanya mengangguk saja.


Fahmi keluar kamar dan dia langsung menggelar kasur lantai di depan TV yang di ruang tamu. Lalu merebahkan tubuhnya yang sudah mengantuk dan lelah. Namun bayangan wajah Asifa melintas di matanya, sedetik kemudian dia tersenyum dan berucap. "sungguh manis dan menggemaskan" sebelum dia benar-benar tertidur pulas.


*****Bersambung...


Kira-kira Fahmi cocok tidak? jika di jodohkan dengan Asifa?...


Bagaimana pendapat para pembaca setia?...


Silahkan isi komentar anda.... di kolam komentar ya.,🤗🥰


Di tunggu loooo......

__ADS_1


__ADS_2