
Pak Herman dan istrinya sudah keluar ruangan langsung saja di hampiri oleh Andik.
"Tuan besar mau kemana?"Saat melihat tuan kedua baginya, karena keluarga Hermansyah adalah tanggung jawabnya.
"Saya ingin pulang, apa bisa kalian antar saya. Dan saya titip putri saya jika ada apa-apa langsung hubungi saya."Jawab pak Herman.
"Baik tuan, jangan khawatir dengan nyonya muda. Nanti akan saya kabari, jika ada kabar tentang nyonya muda." Lalu menoleh pada bawahannya "Didik, Purnomo tolong antar tuan besar pulang, hati-hati di jalan."Perintah Andik.
"Baik bos siap laksanakan. Mari tuan, nyonya, kami antar." Ujarnya Didik, langsung melangkah di ikuti oleh pak Herman dan Bu Hafsah. Purnomo mengikuti di belakang, sebagai pengawal ia akan memastikan tuannya selamat.
Sebenarnya pak Herman risih dengan perlakuan mereka. Tapi tidak ada pilihan lain, selain mengikuti aturan selagi wajar.
Sementara yang di dalam ruangan rawat VVIP. Taufiq mengajak berbincang Fahmi dengan hati-hati. Karena takut menyinggung perasaan duda muda, yang di hadapannya ini.
"Mi kenapa kamu ingin selalu ada di dekatnya?"tanya Taufiq, dengan hati-hati.
"Aku merasa nyaman mas,"jawab Fahmi dengan terus menatap wajah Asifa yang pucat.
Taufiq menatap wajah Fahmi "yakin nyaman bukan karena iba dan kasihan?"tatapan itu begitu dalam.
Fahmi menatap wajah Taufiq yang menatapnya dalam itu. Dirinya tahu jika saat ini Taufiq sedang mengintrogasi.
"Iya mas. Terus terang ini bisa di bilang, jatuh cinta pada pandangan pertama. Saat melihat Zahra pertama kalinya, di mana saat dia sampai rumah ku. Aku tidak menyangka bahwa Zahra adalah orang yang mas maksud. Di mana saat itu dia sedang mencari alamat ku, yang ku kira gadis nyasar."Jawab Fahmi sambil tersenyum, dan membayangkan senyum manis yang Asifa berikan. Dan sifat manjanya jugalah yang slalu terbayang di matanya.
"Jika kau serius maka lakukanlah istikharah, dan jika sudah pasti segera temui papa. Utarakan niat baik mu pada Asifa, untuk segera melangkah ke jenjang yang lebih baik. Tapi jika tidak menemukan jawaban, jauhi Asifa."Ujar Taufiq, sedikit menusuk relung hati Fahmi.
__ADS_1
"Alhamdulillah mas saya sudah istikharah. Dan jawaban itu, saya bersama Zahra ada di sebuah taman hijau. Tidak hanya berdua melainkan ada anak-anak kecil kami bercanda ria."Ucap Fahmi dengan serius.
Kini Taufiq juga yakin jika Fahmi yang telah ditetapkan Allah untuk masa depan Asifa. Jika ada urusan dengan Asifa maka dia akan maju.
Bahkan dirinya yakin bahwa besok pak Arya akan datang. Karena melihat pengawal tetap berada di rumah sakit. Apa lagi selalu siap di depan ruangan inap Asifa.
"Semoga niat baik mu di mudah kan Allah. Aku hanya ingin yang terbaik untuk adik ipar ku. Aku sudah menganggap Asifa adik ku sendiri, meski pun aku tidak bisa menyentuh. Tapi aku tidak rela ada yang menyakiti hatinya lagi. Bagiku Asifa berhak bahagia, kemarin sebenarnya aku tidak setuju mereka ke Jakarta. Tapi papa bilang ingin mengurus surat pindah ke sini. Sekalian mengecek toko kue yang di sana dan menjenguk tuan besar Dinata. Malah berkepanjangan, bagaimana Asifa tidak akan tertekan. Kamu tahu sendiri kan apa dan berapa masalah yang harus dia hadapi. Sementara Asifa baru saja sembuh dari depresi karena masalah itu juga."Kata Taufiq panjang lebar pada Fahmi.
"Iya mas hal itu juga yang aku cemaskan saat melihat Zahra masuk rumah dengan wajah yang putih pucat."Kata Fahmi.
"Kamu ini menatap lawan jenis lebih dari satu kedipan mata. Dari tadi juga menatap wajah Asifa terus. Perbanyak istighfar, sudah berapa banyak dosa di mata dan pikiran mu."Kata Taufiq, memperingatkan Fahmi.
"Astaghfirullah... terima kasih mas sudah mengingatkan saya."Ucap Fahmi dengan cengengesan.
"Ya deh, yang lagi jatuh suka lupa segalanya. Jangan sampai kamu terjerumus ke dalam bujuk rayunya syaitan. Yang sudah kita istirahat, ganti tau mau bareng. Ingat jangan macam-macam."Peringatan di berikan oleh Taufiq untuk Fahmi.
"Percaya, kalau tidak tau batasan jangan ngaku anak santri. Dari pondok pesantren Hidayatullah Surabaya, bikin malu saja."Ujar Taufiq, yang secara tidak langsung menegur adik kelasnya itu.
"Ngeh, ngapunten(iya, mohon maafkan) ustadz Taufiq."Ucap Fahmi, menunduk, secara tidak langsung Taufiq masih keluarga pondok pesantren Hidayatullah.
Akhirnya mereka berdua tidur di sofa masing-masing, karena di ruangan tersebut tersedia sofa panjang dua. Dan kursi di dekat branker Asifa, untuk menemani Asifa yang sedang terbaring. Namun karena mereka bukan mahram, jadi pada di sofa.
Pagi setelah sholat subuh, Fahmi baru tidur kembali di sofa. Karena tadi malam dia tidak bisa tidur nyenyak. Fahmi memiliki sholat malam, zikir, membaca Alquran sampai subuh tiba.
Jam menunjukkan pukul 9 pagi Fahmi baru bangun. Pak Herman memang membiarkan Fahmi tidur. Karena menurut laporan dari Taufiq semalam Fahmi tidak tidur.
__ADS_1
Sedangkan Taufiq sudah pulang dari tadi di antar Andik. Yang hendak ganti siff juga, sekalian pulang untuk istirahat.
Saat Fahmi sadar bahwa dirinya ada di ruangan Asifa di rawat. Melihat sekeliling ruangan. Sudah ada Ardi dan istrinya, pak Arya yang duduk di sofa.
"Maaf pak saya baru bangun, kenapa bapak tidak membangunkan saya dari tadi?"tanya Fahmi merasa malu dan tidak enak dengan pak Herman apa lagi dengan mantan suaminya Asifa.
"Tidak apa-apa nak, Taufiq bilang kalau kamu semalam tidak tidur dan siaga untuk jaga Asifa. Jadi bapak biarkan kamu istirahat yang cukup dulu. Agar kamu fit dan tentunya tidak akan pusing lagi. Terima kasih ya, kamu sudah mau repot-repot jaga Asifa."Ucap pak Herma.
"Saya merasa tidak di repotkan pak. Semalam saya tidur hanya sebentar, ketika bangun ternyata saya tidur cuma sejam. Setelah sholat malam malah segar, jadi tidak ngantuk. Tapi selesai sholat subuh, sambil nunggu bapak saya tidur. Ternyata sampai jam segini, saya jadi tidak enak."Kata Fahmi, menunduk malu.
"Ya sudah, sekarang kamu cuci muka dulu ya."Perintah pak Herman.
"Baik pak, saya permisi ke kamar mandi." langsung jalan ke kamar mandi.
Beberapa saat kemudian Fahmi keluar dari kamar mandi. Matanya menatap wajah Asifa yang sudah membuka matanya.
"Dek Zahra sudah bangun, gimana keadaan dek Zahra?"tanya Fahmi, dengan senyum yang tulus pada Asifa.
Senyum itu bisa di lihat siapa saja yang melihatnya. Mereka tahu bahwa pemuda satu ini menaruh hati pada Asifa.
"Iya mas, alhamdulilah sudah mendingan. Terima kasih sudah mau repot nunggu saya, sampai mas Fahmi kelelahan."Ucap Asifa dengan senyum manisnya.
"Kan saya tidak sendiri dek, semalam sama mas Taufiq. Semalam tidak bisa tidur, jadi subuh habis ngantuk tidak tertahankan."Ucap Fahmi.
Asifa hanya mengangguk dan tersenyum pada Fahmi. Dirinya merasa ada debaran di hati, dan dapat melihat ketulusan yang dari Fahmi.
__ADS_1
*****Bersambung....