APAKAH SALAH JANDA

APAKAH SALAH JANDA
33.Princess butuh dukungan kita


__ADS_3

"Sudah sayang tidak usah di bahas itu sudah kembali Fahmi nya, dah beres."Kata pak Herman pada istrinya. Bu Hafsah menoleh pada Fahmi yang sudah sampai depan Asifa.


"Ini pesanan dek Zahra saya minta nasinya juga, takut dek Zahra lapar."Memberikan pada Asifa dengan penuh perhatian.


"Terima kasih ya mas Fahmi, kebetulan Zahra sudah lapar lagi."Ucapnya Asifa, dan dia terenyuh dengan perhatian yang Fahmi berikan padanya.


"Ya sama-sama dek."menatap dengan tersenyum tulus meski Asifa tidak menatapnya.


Namun yang lain dapat melihat perhatian dan ketulusan Fahmi terhadap Asifa. Bahkan pak Herman berharap, semoga kelak jika Fahmi memiliki perasaan pada putrinya. Bisa menerima segala kekurangan putrinya, dan bisa membahagiakannya.


"Maaf ya nak Fahmi sudah merepotkan, sehingga membuat nak Fahmi kelimpungan."Ujar pak Herman, di angguki bu Hafsah.


"Saya tidak merasa di repotkan kok pak bu."Dengan tersenyum manis khas Fahmi.


"Sudah belum Rif?" tanya Fahmi pada Arif yang masih mengikat di bantu oleh bang Komar dan Fatur.


"Sudah bos tinggal yang mau di masukkan bagasi."


"Pak RT, bang Komar terima kasih atas bantuannya. Maaf jika saya ada kesalahan dan merepotkan kalian hari. Oh bang Komar jangan lupa bawa barang yang tidak di pakan mba Yasmin ya. Jika pak RT mau juga boleh buat bu RT di dapur. Sekali lagi terima kasih untuk semuanya."Ucap Fahmi.


"Sama-sama Fahmi"Jawab kompak pak RT dan bang Komar.


"Mas Harun, mba Yasmin terima kasih ya masih mau repot nunggu kami di sini."Kata Fahmi.


"Tidak repot kebetulan kami masih cuti kerja."Jawab Harun di angguki oleh Yasmin.


"Mari pak kita berangkat."Ajak Fatur.


"Iya nak, maaf nama kalian siap ya? yang Fatur yang mana?"tanya pak Herman yang kebingungan.

__ADS_1


"Saya Faturrahman nah yang suka debat sama Fahmi ini Arif Hidayatullah."Jelas Fatur.


"Oh ya, mari berangkat kasihan ini princess saya sudah lapar. Biar bisa makan di mobil, kalau di sini sangat tidak aman buat princess saya." Ujar pak Herman sambil tersenyum menggoda putrinya.


"Papa ih aku kan malu pa." Asifa sungguh malu wajahnya sudah bersemu merah seperti tomat.


"Ibu di belakang atau tengah dengan dek Zahra?" Fahmi bertanya pada bu Hafsah.


"Di belakang saya sendiri ya mas? Papa, mama dan mas Fahmi di tengah."Tawar Asifa dengan masih menunduk karena masih malu.


Bu Hafsah tahu saat ini putri bungsunya, masih kesal karena tadi di tambah baru saja di goda oleh suaminya.


Hal ini yang membuat bu Hafsah khawatir, jika Asifa tidak lagi mau makan dan bicara padanya. Karena dirinya yang di tanya dengan cepat Asifa yang membalas.


Sedangkan pak Herman nampak kaget Asifa minta sendiri di belakang. Dan berpikir jika Asifa masih kesal dengan sikap mamanya tadi.


"Baik sekarang dek Zahra silahkan naik di jok belakang."Kata Fahmi, sedikit bingung dengan sikapnya yang tiba-tiba berubah. Tapi dia tidak mau ambil pusing, mungkin dia masih malu pikirnya.


"Sayang katanya lapar kok tidak makan?"tanya bu Hafsah, saat melihat Asifa hanya diam saja dan tampak melamun.


Namun Asifa hanyut dalam pikirannya yang dari tadi dia selalu menangkap basah tatapan mata Harun padanya melalui pantulan kaca mobil.


"Sayang katanya lapar?" kali ini pak Herman yang bertanya dengan suara yang sedikit tinggi. Sehingga membuat Asifa tersadar dari lamunannya. Asifa menjingkrat kare kaget, Asifa malah melepaskan kaca mata dan masker.


"Apakah ada yang menggangu pikiran mu sayang?"tanya pak Herman.


"Pa yang beli rumah mas Fahmi adalah rekan bisnis mas Ardi."Ujar Asifa.


"Oh jadi karena itu yang buat kamu pakai kaca mata dan masker?" bu Hafsah.

__ADS_1


"Iya, dan Yasmin ada istri kedua tanpa keluarganya tahu. Sungguh aku tak habis pikir Harun begitu tega. Padahal istrinya lebih cantik dari Yasmin dan sempurna. Bahkan mereka sudah di karuniai dua anak dalam pernikahan baru 3 tahun. Aku bersyukur tidak semalang Shakira, tapi tetap saja aku hancur karena tak sempurna." luruhlah air matanya Asifa dan menangis sejadi-jadinya.


Sudah tak kuat duduk Asifa merebahkan tubuhnya di jok belakang. Masih menangis sesenggukan terdengar sangat pilu. Bahkan tak perduli dengan keadaan sekitar.


Bu Hafsah yang melihat putrinya menangis pilu pun tidak sanggup lagi menahan sesak di dadanya. Orang tua mana yang tidak sakit hati melihat putrinya menderita.


Pak Herman tak bisa berbuat apa-apa dengan keadaan ini di peluklah istrinya. Ia pun menetes matanya namun segera di halusnya.


Karena tidak ingin terlihat lemah, hanya dia yang dapat menyemangti keluarga nya.


Fahmi, arif dan Fatur pun ikut merasakan betapa sakit hatinya Asifa.


"Sudah sayang jangan begini princess butuh dukungan kita."Kata pak Herman pada istrinya.


"Iya mas aku tahu, tapi ibu mana yang kuat melihat anaknya seperti ini. Baiklah mulai hari kita ganti panggilan namanya. Sepertinya itu lebih baik, dan dia harus merubah penampilannya. Aku tidak mau kalau sampai keluarga Dinata menemukan anak ku."Kata bu Hafsah panjang lebar.


"Iya kamu benar sayang, dengan berpenampilan seperti tadi lebih baik. Tapi dia kapan menyiapkan kaca mata dan masker kain itu?"Kata pak Herman.


"Mungkin kemarin pas pulang dari toko waktu kita masih seleksi karyawan baru mas."Jawab pak Herman.


Fahmi terlihat memainkan ponselnya, terlihat jarinya menari di atas layar ponsel Android. Yang ternyata dia sedang mencari informasi tentang keluarga Dinata. Dia penasaran kenapa pak Herman harus menjauhkan Zahra dari keluarga tersebut. Dan Zahra harus merubah penampilan jika di luar.


Dari hasil pencarian mbak G**gle, Data keluar Dinata muncul di beranda. Yaitu Arya Dinata seorang pengusaha ternama baik di Indonesia atau luar negeri. memiliki putra semata wayang yang bernama Ardi Kusuma Dinata.


Berita yang sedang berkembang adalah Perceraian pengusaha sukses yang bernama Ardi Kusuma Dinata dengan mantan istrinya Asifa Az Zahra. Setelah lama pernikahan 7 tahun, tak kunjung memiliki keturunan. Sehingga Ardi yang ingin memiliki keturunan, ingin menikah lagi hingga berakhir perceraian.


"Apakah yang membuat bapak memutuskan silaturahmi dengan keluarga Dinata?"tanya Fahmi dengan hati-hati pak Herman.


"Sebenarnya saya tidak ingin memutuskan tali silaturahmi padanya. Tapi mereka mengikat Zahra dengan apa saja yang dia punya. dengan alasan Zahra sudah di anggap anak sendiri. Memang tidak dapat kami pungkiri jika Aisyah atau pun Zahra mengeyam pendidikan juga karena keluarga Dinata."Kata pak Herman panjang lebar.

__ADS_1


*****Bersambung....


__ADS_2