
"Ma, asifa haus"rengek manja asifa pada mamanya.
"Astaghfirullah....., maaf sayang mama lupa kalau kamu baru siuman, ini minum dulu." Kata bu Hafsah, sambil memberikan gelas berisi air. Yang sudah tersedia di atas meja di samping branker.
"Bismillahirrahmanirrahim"ucap Asifa, setelah itu ia meminum air yang di berikan mamanya.
"Alhamdulillah"Asifa mengembalikan gelas yang sudah kosong pada mamanya.
Apa yang dilakukan Asifa tak lepas dari perhatian Ardi. Namun Asifa enggan menatapnya, karena selain masih sakit hati, ia merasa bukan mahramnya lagi. Jadi tidak ingin menambah dosa, lebih baik menjaga pandangan dari lawan jenis.
"Ardi masalah ini sudah selesai, ayo pulang, apa kamu tidak ke kantor. Lagian kamu juga butuh istirahat, kamu pasti tidak tidur nyenyak di sini." Kata pak Arya
"Ardi tidak ke kantor, soalnya Ardi sudah serahkan pada Haris. Ardi yang akan jaga Asifa, mama dan papa pulang istirahat aja.
Biar nanti malam gantian. Oh Asifa belum sarapan, sarapan dulu ya? Mau di suapin siapa ni mau ya sama mas?" tanya Ardi.
"Enak saja, gak usah modus kamu ya ibu gak akan izinkan kamu suapin putri ibu."Kata bu Gina, tangan sudah mendarat di kuping Ardi.
Setuju saya mba gina, biar kata ibumu sudah menganggap Asifa anaknya juga. Bukan berarti kamu boleh dekat dengannya, kalian harus jaga jarak aman faham!"Bu Hafsah menimpali perkataan bu Gina.
"Benar tu kata mamamu jangan harap papa membiarkan kamu dan Asifa berduaan. karena kami ini tidak ingin terjadi hal yang tidak di inginkan."Kata pak Herman.
Asifa hanya diam saja, ia sedang merasakan perut perih lemas serta pusing yang tidak tertahankan. Dia sudah tidak sanggup dengan yang ia rasakan, tiba tiba semua orang yang di dalam ruangan, dikagetkan dengan asifa yang sudah tak sadar lagi. Yang melihat itu Ardi, karena yang lain sedang menatap Ardi yang sedang terpojok.
Asifa, Asifa ya Allah...." kata Ardi, tangannya sambil memencet tombol hijau yang ada di sebelah branker.
tak lama dari itu dokter dan perawat datang. mereka yang ada di dalam memberikan ruang dokter untuk memeriksa asifa. menuggu di luar dengan perasaan cemas. dokter keluar dari ruangan untuk menjelaskan apa yang terjadi pada asifa.
__ADS_1
"Dok apa yang ada yang serius deng putri saya?"kali ini pak Herman yang bertanya.
"Apakah pasien sebelumnya sudah sadar." Tanya dokter
"Ya dok tadi dia sadar bahkan ia sempat minta minum."jawab pak herman.
"Ini serius di bagian lambung pak, pasien sementara harus makan yang halus. Karena perutnya kosong beberapa hari, maka lambung butuh penyesuaian. Mohon di perhatikan pasien, dari makan dan obat. Nanti silahkan tebus obat ke bagian apotik. Tugas saya sudah selesai, saya permisi"dokter dan perawat pun pamit meninggalkan ruangan Asifa.
Kini Asifa belum sadar lagi, Ardi kekeh ingin menjaga Asifa. akhirnya pak Herman mengijinkan, dengan syarat jika tidak darurat Ardi di larang berada di dalam. sebelum Asifa ada teman di dalam.
Ingat pesan saya ya Ardi" pak herman mengingatkan Ardi, dan berlalu pergi untuk pulang.
Kedua orang tua Asifa di antar oleh pak Arya. mereka selain besan juga bersahabat sejak anak mereka masih kecil dulu. Maka biar anak mereka berpisah, tapi mereka berpisah pula. Tidak ingin karena anak ia juga kehilangan sahabat.
"Mas herman apa masih marah dengan saya"tanya pak arya, sambil melihat pak herman dari spion.
Memang sedang memikirkan Asifa, anak yang selalu ceria, kini terkulai tak berdaya di rumah sakit. Dan bagaimana nasibnya sekarang, anak kesayangannya kini harus berjuang menghadapi kehidupan baru.
"Saya minta maaf mas, mungkin ini awal kehidupan untuk Asifa yang baru. Semoga asifa dapat jodoh yang bisa menerima Asifa apa adanya. Maaf bukan saya tidak menerima Asifa mas. Saya sebagai perempuan juga faham perasaan asifa. Jika di madu itu lebih sakit dari yang di rasakan Asifa. Jarang perempuan yang bisa menerima poligami mas Termasuk saya." ujar bu Gina.
"Kenapa tidak ikut program bayi tabung sih mba, kan tidak ada poligami/perceraian."Kata bu Hafsah.
"Apa asifa tidak pernah cerita sama mba"tanya bu gina, bu Hafsah menggelengkan kepalanya sebagai jawaban.
"Beberapa bulan lalu Asifa dan Ardi menjalani program bayi tabung mba, namun gagal. Sebelum itu juga ikut program lain juga. Mungkin ini juga yang membuat Asifa drop. Makanya saya tidak mau melepaskan Asifa begitu saja. Saya tidak tega dengan keadaan Asifa mba. Maka dari itu juga kami mencari jodoh buat Ardi begitu ada persetujuan dari Ardi. Ardi awalnya tidak mau ceraikan Asifa, tapi di luar dugaan, Asifa tidak mau di madu. waktu Ardi menyerahkan pada kalian, Ardi sengaja dengan berkata kasar agar Asifa tidak lemah dan membencinya. Ternyata tetap asifa begitu, makin sulit juga Ardi jauh dari Asifa. Mba tau sendiri bagaimana Ardi mencintai asifa kan. Dia dari SD selalu bilang kalau sudah besar mau nikah sama Asifa." Kata bu Gina.
Bu Hafsah dan pak Herman mendengar ungkapan bu Gina. mereka saling memandang, lalu mencerna setiap ucapan bu Gina.
__ADS_1
"Kenapa mereka berdua tidak cerita tentang itu pada kami. Apa sebenarnya yang di pikirkan Asifa tentang kami, sampai segitunya Asifa merahasiakan hal yang penting ini. Semoga Allah SWT berikan, kesehatan dan kesabaran pada Asifa ya mas"Bu hafsah bicara pada suaminya.
"Aamiin. Iya sayang, kita doakan yang terbaik untuk Asifa."Kata pak Herman, menarik istrinya dalam pelukan. Mereka saling menguatkan, sedih? ya pasti. Siapa saja ya pasti sedih, apalagi mereka orang tuanya. mereka tau bagaimana perasaan anaknya yang hancur.
Tak lama kemudian ia sampai di rumah orang tua Asifa. mereka turun dan mengucapkan terima kasih. Dan mereka segera masuk untuk bersihkan diri dan istirahat. Bu Hafsah belum sempat meletakkan tasnya namun ponselnya berdering. Dan ternyata itu Dian sahabat Asifa, mau tak mau ia angkat.
📱"assalamualaikum dian"saat angkat panggilan.
📱"wa'alaikumsalam tante, apa Asifanya baik baik saja? Dian telpon tidak aktif"kata Dian.
📱"Asifa lagi di rawat di RS xxx, mungkin ponsel Asifa mati habis daya."jawab bu Hafsah.
📱"Astaghfirullah, kapan dia di rawat tan?"tanya Dian.
📱"Tadi malam kami bawa ke rumah sakit di."jawab bu Hafsah.
📱"Semoga Asifa cepat sehat lagi ya tan, maaf dian tidak bisa menemani Asifa. Salam buat Asifa ya tan, tente juga jaga kesehatan"kata Dian.
📱"Aamiin. Ya di nanti tante sampaikan, terima kasih atas doanya."kata bu Hafsah.
📱"Sama-sama tan, assalamualaikum"Dian menyudahi dan mematikan ponselnya.
📱"Wa'alaikumsalam"jawab salam, lalu meletakkan ponselnya di meja samping tempat tidur.
Bu Hafsah melihat suaminya sudah selesai mandi. lalu Bu Hafsah segera masuk dan mandi.
*****Bersambung...
__ADS_1