APAKAH SALAH JANDA

APAKAH SALAH JANDA
121.Momen bahagia


__ADS_3

Kini pasangan pengantin baru itu tengah makan sore sekaligus makan malam. karena saat ini sudah jam 17:00, jam tanggung untuk makan malam. Namun bagi pengantin baru, lain dengan yang sudah lawas. Apa lagi tadi mereka habis melakukan aktivitas yang menguras tenaga. Sehingga mereka merasa lapar dan mengisi energi untuk nanti malam.


"Sayang coba ini, ak...."Fahmi menyodorkan sendoknya di depan mulut Asifa.


Asifa pun menerima suapan dari suaminya, dengan senang hati ia menerimanya. Ia pun bisa melihat senyum penuh kebahagiaan pada suaminya. Maka ia pun tersenyum manis untuk membalas senyuman Fahmi. Kemudian ia pun melakukan hal yang sama, yaitu menyuapi suaminya dengan nasi yang di piringnya.


Fahmi pun senang karena Asifa faham dengan keinginan nya. Ia menerima suapan dari istrinya, yang membalas suapannya. Dengan senang ia pun terus menyuapi istrinya, sebaliknya pun begitu.


Yang mereka berdua lakukan tanpa ada sungkan atau pun canggung lagi. meski pun mereka adalah pengantin baru, yang biasanya terjadi pada pasangan pengantin pada umumnya.


"Alhamdulillah....,"ucap keduanya.


Fahmi menatap wajah Asifa, ternyata di bibirnya ada sisa makanan yang menempel. Karena ia juga ingin merasakan bibir ranum istrinya lagi. Spontan memiliki ide untuk menjahili istrinya, dan memanfaatkan momen sore ini.


"Sayang mas minta maaf ya,"sambil menangkup wajah istrinya dengan raut wajah memelas.


"Minta ma....," belum selesai berucap, sudah di bungkam oleh Fahmi.


Fahmi mengisap bibir ranum Asifa dengan lembut seluruh bibir itu, dan cukup lama. Kemudian menyudahinya ciuman itu, lalu tersenyum manis pada istrinya.


"Tadi ada sisa makanan sayang, sekaligus untuk penutup makan sore kita hari ini." Ujarnya dengan senyum manisnya.


"Ih, itu sih modus mas saja. Hayo ngaku, kalau gak hari ini mas tidur sofa plus puasa seminggu."Ancaman Asifa.


"Mana bisa begitu sayang, masak cuma cium bibir istriku sendiri di hukum selama seminggu. Baru juga buka puasa beberapa jam lalu malam belum genap 2 jam sayang."Kilah Fahmi. Karena tidak terima dengan ancaman istrinya, yang belum genap sehari itu.


"Bisa lah kan gampang kalau mas tidak mau tidur di sofa plus puasa. Maka mengaku lah, jika tadi mas cuma modus." ujar Asifa, dengan tatapan mata yang serius.

__ADS_1


"Beneran sayang, tadi ada sisa bumbu ayam bakar madu. Melihat itu bibir manis mu, mas jadi rindu dan ingin mengulanginya lagi. Sekalian manfaatkan momen bahagia kita sore ini."Fahmi menggenggam kedua tangan Asifa dan berlutut dengan satu kaki."Maafin mas ya sayang, mas tidak mau tidur sendiri lagi."Rayu Fahmi dengan wajahnya yang memelas.


Asifa tersenyum melihat tingkah laku suaminya, sampai segitu nya karena tidak ingin tidur sendiri. Dan tentu nya puasa lagi, apa lagi ini malam pengantin mereka.


"Iya aku maafin, lagian aku juga tidak serius kok mas. Aku cuma mengikuti permainan mas aja sore ini." Kata Asifa dengan senyum penuh kemenangan.


"Masya Allah, ternyata kamu lebih pintar ya jahili mas. Jadi dari tadi adek tidak marah?"tanya Fahmi, dan di jawab Asifa dengan gelengan kepala.


Langsung saja Fahmi membukukan badan nya, lalu mengangkat Asifa dan di bawahnya ke tempat tidur. Kemudian menurunkan perlahan, dia pun duduk di sebelahnya Asifa. Menarik Asifa dalam pelukannya, ia merasa bahagia karena memiliki istri yang penuh kejutan.


Ia pun berpikir dan bersyukur, dengan kepergian Lasmi dari dirinya. Bisa mendapatkan penggantinya seorang istri yang sempurna baginya.


...****************...


Di kediaman keluarga Dinata.


Sore ini pak Arya dan pak Surya sudah di rumah. Berangkat pagi setelah subuh, dan pulang setelah zhuhur tadi. lebih tepatnya lagi setelah Asifa dan Fahmi berangkat ke hotel bintang lima. Ayah dan anak itu sepakat untuk tidak menginap di Jogja.


"Tidak lah, ayah memang tidak ingin nginep. Ayah cukup datang dan menyaksikan langsung di hari kebahagiaan putri ayah." Jawabnya dengan raut wajah sedih.


"Apa ada masalah yang ayah sembunyi kan dari saya?"tanya Ardi pada ayahnya yang terlihat tidak bersemangat dan sedih itu.


"Tidak. Ayah hanya rindu ibu mu."Jawabnya dengan mata berkaca-kaca.


"Sudah ayo makan. Dan kita segera istirahat, opa sudah lelah." Ucap pak Surya.


Pak Surya sudah tahu jika anaknya saat ini sedang kalut. Dengan perasaan bersalah, dan rasa kecewanya pada cucu semata wayangnya itu. Kembali lagi ia pun merasa bersalah dengan anak dan cucunya. Namun ia ingin pesan dari mending menantunya. Yang sangat menyayangi dirinya dan cucu menantu sekaligus cuci angkanya.

__ADS_1


Sebab secara perlahan Asifa dan keluarga menjauh dari mereka. Dan di lindungi oleh mantan anak buahnya sendiri. Meski pun itu tidak terjadi perdebatan, di antara mereka. Tapi sangat kentara dari perlakuan Andik terhadap keluarga Hermansyah dan Daryanto.


Apa lagi mereka mendengar sendiri, panggil Andik pada pak Herman dengan panggilan papa. Bahkan sebaliknya, Andik melebihi memperlihatkan kekeluargaan pada keluarga Hermansyah dan Daryanto.


Dan baik Fahmi mau pun Asifa, memanggil kakak. Tidak ada bahasa formal di antara mereka, sehingga ia dan Arya merasa tertampar oleh perilaku mereka. Sebab selama bekerja dengan keluarga nya, memang Andik menjaga Asifa. Layaknya menjaga adiknya sendiri, apa lagi memang Asifa sangat mirip dengan mendiang JJ


Ardi yang melihat raut wajah ayahnya dan mendengar jawaban opanya. Ia yakin ada yang di sembunyikan dari nya. Ardi berniat menemui ayahnya, nanti setelah mengantar istri ke kamar. Sebab Salsa sedang tidak enak badan, jadi harus banyak istirahat.


Setelah selesai makan malam semua kembali ke kamar masing-masing. Ardi pun pamit pada istrinya untuk menemui ayahnya yang sedang sedih. Salsa tidak keberatan, apa lagi ia tahu kalau mendiang ibu mertuanya belum genap 100 harus. Yang ia tahu bahwa mendiang ibu mertuanya sangat menyayangi Asifa. Mungkin itu yang membuat ayah mereka nya sedih, pikir Salsa.


Tok tok tok


"Assalamualaikum, ayah ini Ardi." Ucapnya.


Sudah di duga oleh pak Arya, Ardi pasti akan menemuinya. "Wa'alaikumsalam, masuk, tidak di kunci." Jawab pak Arya dari dalam kamar.


Cekrek


Ardi membuka pintu kamar ayah, lalu masuk kedalam kamar tersebut. Ia melihat sang ayah sedang memegang vigura foto ibu dan ayahnya. Di tutup kembali pintu kamar itu ia berjalan ke arah ayahnya.


"Sini duduk." Pak Arya menepuk kasur di sebelah ia duduk. Tanpa bicara Ardi menuruti perintah ayahnya, duduk di tempat yang di tepuk nya.


"Ayah lagi kangen ibu yah?"tanyanya.


"Iya ayah memang merindukan ibumu. Tapi bukan itu yang membuat ayah bersedih, tapi kamu yang tidak pernah mau berpikir panjang lebih dulu sebelum bertindak. Seandainya ayah tahu dari awal, lamaran Rita itu pun tidak mungkin akan terjadi." Jawab pak Arya.


"Maksud ayah apa sih?"tanya Ardi, yang memang tidak faham.

__ADS_1


"Kamu.....


*****Bersambung.....


__ADS_2