APAKAH SALAH JANDA

APAKAH SALAH JANDA
90.Kursi roda


__ADS_3

Di depan kamar Asifa Bu Hafsah dan bu Fatimah, mengetuk pintu sudah beberapa kali. Namun belum juga di buka oleh pemiliknya, karena tidak ada respon. Bu Hafsah jadi khawatir dengan keadaan putrinya itu.


Cekrek


"Assalamualaikum," ucap bu Hafsah ketika pintu terbuka. Dan dapat melihat Asifa yang juga keluar dari kamar mandi.


"Wa'alaikumsalam, mama, ibu, masuk." Jawab Asifa


Ternyata tidak terjadi apa-apa, seperti yang ia khawatir kan tadi. Bu Hafsah bernafas lega, melihat Asifa berjalan menuju dekat ranjang.


"Maaf ya ma, bu, boleh Asifa sholat duha dulu?"tanya Asifa, takut kalau ada yang akan di bahas sama dirinya.


"Iya sayang, mama akan tunggu,"jawab bu Hafsah dan di angguki oleh bu Fatimah.


Kemudian mengajak calon besannya masuk dan duduk di sofa dekat ranjang tempat tidur. Menunggu putrinya selesai sholat sunah duha, dengan cara duduk sebab kakinya sedang sakit.


Sholat merupakan suatu kewajiban yang harus dilaksanakan untuk mendapat ridha Allah SWT. Tentu sebagai umat Islam tidak boleh meninggalkan sholat, meski hanya satu waktu.


Di tengah kondisi sakit pun, sholat masih bisa dikerjakan. Sebab Allah memberi keringanan kepada orang sakit untuk menjalankannya. Keringanan yang dimaksud ialah mengenai tata cara sholatnya.


Sholat bagi orang sakti


Dalam kondisi sakit terkadang membuat seseorang menjadi susah, untuk berdiri hingga tidak mampu melakukan gerakan sholat. Ajaran agama Islam berusaha memudahkan umatnya untuk dapat beribadah dengan tenang, tulus ikhlas, dan merasa dekat dengan Allah.


Tata cara sholat bagi orang sakit, berbeda dengan gerakan sholat biasanya. Sesuai yang tercantum dalam kitab suci Al-Quran, surah al-Baqarah ayat 185, Allah berfirman : Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu

__ADS_1


Sehingga menunaikan sholat bagi orang sakit tetap wajib hukumnya, selama masih berakal dan sudah baligh. Seperti yang telah Rasulullah sabdakan,


Catatan amal diangkat dari tiga jenis orang: orang yang tidur hingga ia bangun, anak kecil hingga ia baligh, dan orang gila hingga ia berakal (HR. An Nasa-i no. 7307, Abu Daud no. 4403, Ibnu Hibban no. 143, dishahihkan Al Albani dalam Shahih Al-Jami no. 3513).


Setelah selesai sholat Asifa dengan susah payah berjalan menuju tempat tidur. Yang dekat dengan mama dan calon mertuanya, duduk di sofa tersebut. Di sambut senyuman oleh kedua ibu di depan nya ini.


"Maaf ya ma, bu, Asifa lama. Karena tadi Asifa baru saja mulai. Dan sulitnya Asifa bergerak jadi membuat lama."Ucap Asifa, tidak enak hati pada kedua orang ibu di depannya ini.


"Tidak apa-apa sayang,"ucap keduanya. lalu sama-sama tersenyum pada Asifa. Asifa pun tersenyum manis pada kedua, ia merasa lucu dengan kedua ibu ini.


"Sayang gimana kakinya apa masih sakit banget?"tanya bu Fatimah, memperhatikan wajah cantiknya Asifa. Yang saat ini tanpa hijab syar'i dan mike up.


"Belum ada perubahan bu, sebab belum di urut sama sekali. Karena kemarin ada lukanya Asifa takut akan sakit sekali."Jawab Asifa, yang tersentuh dengan perhatian tulus calon mertuanya. Dan baru di kenalnya kemarin sore.


"Apa boleh ibu melihat kaki mu sayang?"tanya bu Fatimah.


"Tidak apa-apa sayang, kan niatnya baik. Bukan kamu yang meminta tapi ibu, sekarang nak Asifa cari posisi yang nyaman ya."Menuntun Asifa dengan posisi merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur.


"Memang Asifa mau di apain bu?" tanya Asifa, walau tahu dengan perlakuan calon mertuanya ini. Sudah pasti Asifa akan di urut, hanya ia takut sakit.


"Ibu lihat saja sayang, tapi kalau tidak keberatan ibu akan urutin. Supaya nak cepat sembuh, dan berjalan seperti biasanya."Jawab bu Fatimah, sambil tersenyum manis penuh ketulusan.


"Iya sayang, masak mau mengadakan acara. Tapi kalau jalan pincang banget, tapi kalau belum sembuh mama dan papa akan sediakan kursi roda."Timpal bu Hafsah.


"Ih mama, aku kan bukan orang lumpur. Masak sih berada di kursi roda."Tolak Asifa dengan bibir manyun, karena tidak terima jika dirinya di anggap tidak bisa berjalan.

__ADS_1


"Eh... Siapa yang bilang kamu itu lumpuh. Orang yang berada di kursi roda bukan lumpur saja. Tapi kursi roda yang pasti untuk orang yang sedang sakit. Karena kami para orang tua dan calon suami mu. Ingin kamu sehat dan bisa berjalan kembali, namun jika belum maka kamu harus pakai kursi roda. Biar nanti kakak ipar mu yang cari, kursi roda nya."Kata bu Hafsah panjang lebar, membuat Asifa tambah manyun.


"Benar itu yang di katakan oleh mama Asifa. Dan ibu kesini dapat mandat dari calon suami mu itu, alias putra ibu."Timpal bu Fatimah, membujuk Asifa yang masih manyun.


Asifa mendengar calon mertuanya mengatakan bahwa beliau dapat mandat pun langsung menatapnya. Dengan tatapan penuh tanda tanya, mandat apa kira-kira. Yang membuat Asifa ingin tahu, apa yang akan di sampaikan oleh Fahmi padanya.


"Memangnya mas Fahmi kasih mandat apa bu?" Asifa dengan wajah penuh tanda tanya.


"Tapi saat lagi sarapan," lalu bu Fatimah menceritakan tentang maksud Fahmi. "Nah begitu, Fahmi tidak ingin kamu juga kesusahan di dalam acara. Jika sudah di urut, namun belum sembuh mau tidak mau Asifa harus berada di kursi roda ya. Karena saat acara nanti seperti nya Asifa akan banyak bergerak. Sehingga membuat Asifa kesulitan dengan kakinya masih sakit. Apa boleh ibu mulai urut sekarang?"tanya bu Fatimah memastikan bahwa calon menantunya itu mau atau tidak.


Asifa langsung mengangguk sambil tersenyum kikuk. Merasa tidak enak hati pada calon mertuanya ini. Antara malu dan mau jadi satu, karena ia senang mendapatkan perhatian dari calon suaminya. Dan calon mertuanya pun melakukan nya pun dengan tulus. Hati siapa yang tidak akan terenyuh dengan perhatian. Yang diberikan oleh calon suami yang baik hati. Sekaligus calon mertuanya yang begitu lembut dan penuh kasih sayang.


"Terima kasih ya bu, maafkan Asifa belum jadi menantu sudah merepotkan ibu."kata Asifa menunduk karena malu dan tidak enak hati.


"Eh... Ibu merasa tidak di repotkan kok. Ibu malah senang jika Asifa mau terbuka pada ibu. Juga tidak sungkan untuk berkeluh-kesah, dengan senang hati ibu menerima nya." Kata Bu Fatimah dengan senyum yang tulus.


Kemudian bu Fatimah mulai mengurut kaki Asifa ya terlihat bengkak dan merah kebiruan.


Dengan pelan-pelan dan telaten, mengurut kaki Asifa. Sesekali melihat Asifa yang menangis, karena menahan sakit.


Tangisnya Asifa terdengar hingga luar kamar, saat Diana akan ke kamar Asifa. Diana kaget mendengar tangis Asifa yang pilu, sesekali menjerit.


Cekrek


"Asifa.....

__ADS_1


*****Bersambung....


__ADS_2