APAKAH SALAH JANDA

APAKAH SALAH JANDA
109.Dari pengalaman hidupnya


__ADS_3

"Terserah papa saja lah, Asifa ikut aja lagian cuma bisa melihat saja tidak bisa apa-apa."Kata Asifa, sudah tidak bisa berkata apa-apa lagi. Kemudian berjalan menuju kamar mandi, sebab ingin buang hajatnya.


"Mas kalau untuk buka cabang nanti, chef nya harus traning dulu. Di sini, supaya nanti tidak ada perubahan rasa. Dan sesuai resep kita punya, sehingga tidak mengecewakan pelanggan kita."Bu Hafsah buka suara, dari tadi hanya jadi pendengar saja.


"Itu harus sayang, harus lulus uji coba dari master chef nya langsung."Kata pak Herman dengan nada bercanda dan memuji istrinya.


Bu Hafsah tersenyum mendengar pujian dari suaminya. Suaminya selalu bisa membuat nya selalu tersenyum bahagia. Dengan dukungan dari suaminya ia bisa buka toko kue Hafsah. Dan saat ini ia bukan buat dirinya , tapi untuk putri kesayangannya. Meskipun Asifa tidak memiliki ke waktu buat ngurusin toko tersebut. Ternyata dari pengalaman hidupnya, kini toko kue AZ ZAHRA berkembang sangat cepat dalam sebulan.


Setelah ini maka akan menjadi pusat pikiran putrinya ke depan. Sehingga tidak bisa lagi memikirkan masa lalunya, dan hal itu akan berdampak baik untuk putrinya. Ia selalu berharap ada kebahagiaan di suatu saat nanti.


Di ruangan lain lebih tepatnya lagi adalah gudang bahan produksi kue. Fajar sedang menghubungi Andik terlebih dahulu, untuk ia menelpon teman-temannya yang menguasai tata boga.


"Mas ini saya mau menyampaikan informasi tentang nona Asifa."


"Memang nona Asifa kenapa?" tanya Andik dari seberang.


"Nona Asifa tadi datang ke toko, dan melihat kami sedang memproduksi kue pesanan. Yang memang hari ini sangat banyak pesanan, dan membuat kami semakin kualahan. Sebab kurang nya karyawan, sehingga kami harus bekerja ekstra. Nona Asifa berniat buka cabang, tadi minta pendapat pada saya."Jawab Fajar.


"Lalu apa pendapat mu? Dan Nona minta tambahan karyawan apa tidak?"tanya Andik.


"Saya menyarankan, agar membuka daerah Malioboro dan alun-alun Jogja mas. Dan untuk karyawan, saya yang mengusulkan ke nona Asifa. Dan saya kebetulan punya teman-teman lulus tata boga mas. Menurut mas bagaimana perlu di tes dulu atau tidak? Dan perlu masuk kelompok mas apa tidak?"tanya Fajar pada ketua kelompok, yaitu Andik.


"Untuk tes langsung saja di tempat kerja saja, yaitu langsung dengan bu Hafsah atau nona Asifa. Kalau untuk mereka harus masuk kelompok kita, apa lagi kita bisa membantu memberikan pekerjaan. Tapi ingat! jangan ada penindasan atau kekerasan sama junior. Sebagai senior harus bisa mencontoh kan pada junior dengan baik. Selalu kompak dalam kebaikan, dan harus bisa bahu-membahu." Kata Andik pada anak buahnya yaitu fajar.


"Baik mas laksanakan. Ya sudah saya aka menghubungi teman saya dulu. Dan maaf saya tidak bisa lama sebab ada banyak pesanan." Kata Fajar.

__ADS_1


"Baiklah nanti malam saya harap kumpul di rumah saya. Ada yang akan sampai pada kalian dan yang baru jangan lupa. Jangan lupa data dan riwayat keluarga nya. Assalamu'alaikum," Andik langsung mengakhiri sambungan telepon Fajar.


"Baik mas, Wa'alaikum....salam."


"Nasib...., jadi bawah gini amat ya."Gumam Fajar, setiap teleponan sama Andik Belu jawab salam sudah putus.


Malam hari rumah Asifa, akan kedatangan tamu dan makan bersama. Siapa lagi kalau bukan Fahmi dan Taufiq. Namun semua tidak menyangka, jika malam ini akan ada Andik dan beberapa kelompok nya.


Saat lagi pada makan, tiba-tiba terdengar suara bel. Ya hari ini Asifa pasang bel sebab rumah yang sekarang beda dengan yang dulu. Yang sekarang lebih besar, sehingga sedikit sulit jika ada tamu. Sedangkan tuan rumah berada di dapur, kamar atau halaman belakang. Terlebih tipe rumah Asifa dan Fahmi memang berbeda.


"Biar mas yang buka, dek Zahra lanjutkan makan nya."Cegah Fahmi saat Asifa hendak beranjak dari duduknya dan Fahmi lebih dahulu.


Fahmi berjalan menuju ruang tamu dan pintu utama rumah ini. Saat buka pintu, Andik langsung mengerutkan keningnya. Yang buka pintu ternyata bukan pemilik rumah.


"Assalamualaikum mas."Ucapnya mereka.


"Kami sudah makan mas, tenang saja kami akan menunggu di ruang tamu."Jawab Andik, di angguki oleh kelompoknya.


"Baiklah silahkan duduk ya, saya akan sampaikan pada pemilik rumah sekalian mau lanjut makan dulu."Fahmi menyuruh duduk di ruang tamu.


Kemudian ia berjalan menuju ruang makan, dan meninggalkan para tamu tersebut di ruang tamu. Sampai ruang makan Fahmi menyampaikan pada pemilik rumah. Bahwa Andik datang dengan rombongan nya, yang Fahmi belum tahu siapa-siapa selain Andik dan Irgi.


"Memang berapa orang nak?"tanya pak Herman pada calon mantunya.


"Ada 6 orang pa, saya tawari makan juga tidak mau. Katanya sudah pada makan, sebelum mereka datang ke sini."Jawab Fahmi.

__ADS_1


"Ya sudah lanjut dulu makanya, Setelah itu Aisyah tolong nanti buatkan mereka minuman dan cemilan ya."Perintah pak Herman.


"Nanti Asifa bantu kakak yang bawa cemilan ya."Ucap Asifa sambil menoleh pada kakaknya.


"Tidak sayang, kalau tamunya Andik lebih baik kamu yang hadapi langsung. Pasti ini ada sangkut pautnya dengan keluarga Dinata."Ucap Aisyah yang tahunya jika ada Andik pasti ada urusan masalah keluarga Dinata dan adiknya.


"Iya sayang apa yang di katakan kakak mu benar adanya. Biar mama yang bantuin kakak mu nanti sekalian nanti mama mau beresin piring nya."Ucap bu Hafsah.


"Biar nanti kakak ikut bantu mama dan Ais ya."Timpal Taufiq.


Sedangkan Fahmi hanya mendengarkan sambil melanjutkan makan. Matanya menatap wajah Asifa terus menerus, sebab di bibir Asifa ada sisa makanan. Tangannya menarik selembar tissue kering di depan nya, lalu di berikan pada Asifa. Karena jika ia yang melakukan nya pun tidak mungkin.


"Dek, itu di pinggir bibir masih ada sisa makanan."Ucap Fahmi sambil menyodorkan tissue kering itu.


Sontak wajah Asifa bersemu merah, malu? pasti karena di perhatikan oleh calon suaminya. Ia tidak menyangka bahwa Fahmi memperhatikan dirinya sejak tadi. Dan ia bersyukur Fahmi mengingatkan sekarang, bagaimana jika mereka sudah berada di antara tamunya.


Tangannya terulur untuk menerima tissue pemberian Faham, dengan sedikit senyum malu-malu.


"Terima kasih mas," ucap Asifa, dan langsung mengusap bibirnya dangan tissue pemberian Fahmi.


Setelah selesai makan semua kini Asifa, Fahmi dan pak Herman. Menuju ruang tamu untuk menemui tamunya. Kemudian duduk di ruang tamu, Asifa duduk dengan papanya.


"Assalamualaikum pak Herman, nona Asifa."Ucap semuanya


"Wa'alaikumsalam......."Jawab Asifa dan pak Herman, Fahmi hanya lirih.

__ADS_1


*****Bersambung


__ADS_2