
Asifa sungguh sakit hatinya ketika melihat TV tersebut.
Dia tidak lagi ingin bersedih, bahkan Asifa yakin beberapa hari ke depan keluarga Dinata akan datang. Jika ada yang melaporkan kan keberadaan dirinya di kota pelajar ini.
"Ah aku lapar sekali tapi malas masak. Oh ya bikin telur orak-arik saja lah, sepertinya enak-enak aja kalau lagi lapar."Berkata sendiri, sambil tersenyum penuh semangat.
Asifa pengen menghibur diri sendiri, karena tidak ingin larut dengan masalah lagi.
...****************...
Di rumah Taufiq.
Taufiq kembali dari mengikuti Asifa pulang ke rumahnya.
Aisyah sudah di ruang keluarga bersama Atifah bercanda.
Taufiq langsung duduk di sofa, lalu mengintrogasi istrinya.
"Mas dari...."Langsung di potong sama Taufiq.
"Mengikuti Zahra pulang, apa yang membuat dia sedih dan langsung pulang. Apakah kamu menyinggung perasaan nya, sampai dia pulang tanpa pamit?"tanya Taufiq.
"Mas aku bingung dengan keinginan dia, masak tadi dia tiba-tiba minta makanan yang di sini belum tentu ada. Ya aku bilang kalau dia lagi ngidam, karena minta yang aneh-aneh secara mendadak."Jelas Aisyah.
"Memang dia maunya makan apa? sampai kamu bilang aneh-aneh?"tanya Taufiq.
"Dia pengen makan gado-gado pedes manis. Kalau di sini banyak orang jual itu pecel, urap, bukan gado-gado mas. Apa mas pernah melihat ada orang jual gado-gado?"tanya Aisyah.
"Banyak sayang yang jual, disini tidak seperti di Jakarta. Jualnya di cafe atau restoran, karena di sini banyak beli juga para pelajar atau pekerja. Kita tinggal di kota bukan desa, lebih mudah untuk mendapatkannya. Tapi apa kamu mau mencari gado-gado untuk Zahra?"tanya Taufiq.
"Iya mas, mau kan kal....." Terpotong ucapan Aisyah.
"Sayang itu lihat TV, lagi live bu Gina."Taufiq menunjukkan pada istrinya bahwa di tv ada berita.
__ADS_1
Seketika mereka terpaku dengan berita tersebut dan ucapan Gina untuk kedua orang tuanya dan adiknya.
Beberapa saat kemudian Aisyah tersadar akan keadaan adiknya. Takut adiknya larut dalam kesedihan dan ucapan mertuanya.
"Astaghfirullah..... Mas ayo kita ke sana cepat mas matikan TV nya." Ajak Aisyah pada Taufiq setelah sadar dari apa yang ia lihat.
Kini Aisyah lari ke kamar mengambil ponsel yang lagi di charger. Langsung keluar dari kamar, dan Taufiq sudah menggendong putrinya.
Dan siap berangkat ke rumah Asifa, untuk melihat keadaan mereka sungguh khawatir.
Meraka berjalan cepat rumah Asifa, mereka pun tidak memperdulikan tatapan mata para tetangga yang melihatnya.
...****************...
"Sayang kita pulang, biar toko di jaga karyawan." Ajak pak Herman.
"Iya mas aku khawatir banget dengan putri kita. Aku yakin dia secara tidak langsung mereka buat pengumuman. Akan keberadaan putri kita, dan pasti akan ada yang memberitahu mereka." Kata bu Hafsah, akan ke khawatirannya pada asifa.
"Sudah ayo pulang, kita titipkan toko pada karyawan saja."Pak Herman menarik tangan istrinya menuju dapur.
"Baik pak, bisa Insya Allah aman."Kata Arman.
"Baiklah saya percaya pada kalian." Ucap pak Herman sambil menepuk pundak Arman dan Juna bergantian.
Lalu jalan ke depan menemui karyawati nya.
"Indah saya ada keperluan kamu jaga toko kue ini. Bersama Arman dan Juna ya, sore baru kembali ke sini." Pamit pak Herman.
"Baik pak, hati-hati di jalan." Kata Indah, tersenyum tulus pada bosnya, di balas senyuman tulus pula oleh pak Herman dan istri.
...****************...
"Apa yang kamu lakukan Gina, kenapa kamu membuat berita seputar keluarga kita dan mas Herman tanpa diskusi dulu pada ku?"tanya pak Arya.
__ADS_1
"Mas apa yang saya lakukan itu untuk papa juga dengan begitu pasti Asifa akan tergerak hatinya. Dan papa tidak akan merasa bersalah terus atas perceraian Asifa dan Ardi."Jawab bu Gina.
"Jangan berasumsi sendiri kamu, apa kamu lupa apa kata dokter tentang Asifa yang di sampaikan pada Ardi hah? jika Asifa terus tertekan akan berdampak buruk untuk jiwanya. Jika itu sampai terjadi akan menjadi depresi apa itu yang kamu harapkan. Saya sudah katakan jika kamu sayang padanya berhentilah mencaritahu tentang nya. Asifa akan semakin benci keluarga kita, awal kebencian itu dari mu. Yang sok tau akan perasaannya, tapi apa malah Asifa benci keluarga Dinata!"bentak pak Arya.
Ya semua yang terjadi berawal dari bu Gina, yang selalu memanjakan Asifa itu. Dengan mengubah harta gono-gini yang di berikan Ardi. Bahwa Asifa harus di beri saham 30%/uang 10M. Hal itu membuat Asifa tersinggung dengan pemberian bu Gina atas nama Ardi.
"Tapi maksud saya baik mas, saya tidak ingin putri ku menderita karena tidak punya apa-apa. Kan mas tau sendiri dari bayi saya memberikan fasilitas untuk Asifa. Meskipun harus debat dulu sama mas Herman. Saya tidak....."
"Apa kamu sadar bahwa Asifa putrinya siapa? Yang ada kamu akan memperkeruh keadaan Gina. Dan hal ini yang akan memberikan dampak buruk pada putrimu itu. Saya selama ini hanya diam dan mengikuti kemauan mu lihat hasilnya. Kita malah kehilangan jejaknya bukan, karena mereka tidak ingin berurusan dengan kita. Saya yakin setelah apa yang kamu lakukan tadi, membuat keluarga Hermansyah siaga satu. Saya harap kamu tidak bertindak gegabah lagi, faham!" bentak pak Arya lagi yang menggema di ruang keluarga.
Bu Gina menyadarkan kepalanya pada sandaran sofa. Bentak demi bentak iya terima dari suaminya, sakit hati? tentu saja, memang kali ini bu Gina sadar akan kesalahannya sehingga ia melakukan hal itu.
Bukan untuknya, dia hanya ingin terbaik di antara keluarga Dinata dan Hermansyah. Tidak ada permusuhan dan kebencian, dan apa yang dia lakukan saat ini hanya ingin ketemu keluarga Hermansyah dan putri kesayangannya.
Jika niat baik nya tidak di terima tidak masalah yang penting sudah berusaha. Tidak akan memaksakan kehendaknya, dia hanya ingin bertemu untuk terakhir kalinya. Untuk meminta maaf atas dirinya dan keluarganya.
Pak Arya melihat kesedihan istrinya tidak tega, dia tidak ingin istrinya gegabah. Yang akan menjauhkan keluarga Dinata dari Asifa.
Tapi untuk saat ini dia ingin memberikan pelajaran pada istrinya. Agar istrinya sadar akan kesalahannya, dan dampaknya.
Pak Arya pergi ke kamar papanya untuk mengambil pakaian ganti papanya. Setelah itu ia akan berangkat ke rumah sakit lagi. Namun sudah tidak menemukan istrinya di ruang tamu. Tapi melihat Art membereskan meja, dia pun bertanya.
"Mimin kemana nyonya?"tanya pak Arya.
"Nyonya masuk kamar tuan, sepertinya nyonya sedang sakit tuan."Jawab Mimin si Art.
"Biar kan nyonya istirahat waktunya makan siang nanti tolong bawakan makanan untuk nyonya."Perintah pak Arya.
"Baik tuan"
Pak Arya langsung pergi kerumah sakit, di mana pak Surya di rawat.
Di dalam kamar bu Gina membuka laci dan mengambil sesuatu dan segera meraih gelas berisi air minum itu. Setelah itu ia berbaring dan menarik selimut menangis sejadi-jadinya.
__ADS_1
Sampai beberapa menit kemudian bu Gina terlelap dengan mata sembabnya.
*****Bersambung.....