APAKAH SALAH JANDA

APAKAH SALAH JANDA
62.Sungguh berat


__ADS_3

Semua orang menunggu jawaban Ardi, salsa di buat berdebar mendengar pertanyaan itu. Tapi salsa tetap positif thinking, karena dia bukan perempuan mandul.


Asifa juga ingin mendengar pertanyaan itu pun menatap wartawan tersebut. Dalam pikiran "ternyata masih ada yang perduli dengan aku yang tak berdaya ini." Berkata dengan senang karena masih ada yang berpihak dengannya. Karena selama ini merasa dirinya rendah dan hina. Sesuai dengan tatapan sinis orang terhadap dirinya.


Padahal masih banyak kaum emak-emak berada di pihak Asifa. Tapi belum pernah ada yang berkata atau menunjukkan secara langsung.


Dan yang menganggap Asifa rendah dan hina itu yang daun muda. Secara tidak langsung juga berharap dirinya, di pilih sebagai nyonya muda baru keluarga Dinata.


"Sebenarnya saya takut salah bicara, kalau tidak di jawab akan semakin rumit. Sebelum saya menjawab, saya juga harus menjaga hati yang akan terluka lagi." Ardi menatap wajah Asifa, yang sedang menunduk "Dek, mas minta maaf, jika jawaban mas melukai mu lebih dalam lagi. Karena setiap pertanyaan harus di jawab." Asifa melirik sekilas dan mengangguk sebagai jawaban. Ardi menatap ke depan lagi kearah wartawan. "Saya ini pertanyaan dan jawaban terakhir untuk saya. Saya ucapkan terima kasih pada mantan suami Salsa. Yang menganggap Salsa tak bisa memberikan keturunan untuk mu. Dan kami akan saling belajar dari masa lalu, untuk saling melengkapi kekurangan. Dengan perjodohan ini kami menerima apapun yang akan terjadi kedepannya. Saya yakin suatu hari nanti istri saya akan mengandung. Karena beberapa bulan lalu, Salsa pernah mengandung. Karena kasus perselingkuhan mantan suaminya, dan perceraian mereka. Yang membuat dirinya stress dan berakhir keguguran. Jadi sudah jelas ya, kalau istri saya yang sekarang sehat." Jawab Ardi panjang lebar dengan gamblang dan santai.


Lalu menoleh pada Asifa, yang sebagai mantan istrinya sekaligus adik angkatnya. Sungguh berat yang harus dia hadapi ini, karena cinta keluarga pada mantan istrinya. Membuat dirinya serba salah, tidak dapat di pungkiri hal ini sulit untuknya move on.


Kemudian Ardi menoleh pada istrinya, lalu memberikan senyumnya. Sedetik kemudian ia mencium tangan istrinya. Sebagai bentuk bahwa dirinya akan belajar menerima pernikahan ini.


"Terima kasih atas jawabannya tuan,"ucap wartawan tersebut.


"Maaf tuan Arya, Kami ingin tahu. Apa yang menyebabkan meninggalnya nyonya Gina?Apa almarhumah memiliki riwayat penyakit?"lanjut wartawan bertanya tentang bu Gina.


"Ya almarhumah selama ini menyembunyikan penyakitnya dari kami. Dan setelah kejadian beberapa hari lalu di Jogja. Yang kami juga tidak tahu jika almarhumah pergi ke Jogja untuk menemui Asifa dan keluarganya. Waktu itu ia pamit ingin pergi ke rumah temannya dan pulang malam. Tenyata di malam hari saya mendapat telepon dari anak buah kami. Dan ternyata itu Asifa, yang menyatakan bahwa i-istri saya sedang kritis."Pak Arya menunduk dan menangis sesenggukan, karena mengingat kejadian itu. Hati sedih tidak bisa bersama istrinya lagi.


"Se-setelah hasil pemeriksaan medis ternyata ia mengidap kanker otak stadium akhir. Ha-hal itu membuat hati saya hancur, sebagai suami saya sangat mencintainya. Saya merasa suami yang gagal, karena tidak bisa memberikan perlindungan yang baik untuknya. Setelah saya renungkan, ini sudah takdirnya, karena manusia tidak akan pernah tahu kapan akan meninggal."Lanjut pak Arya.


"Kalau boleh tahu sejak kapan nyonya Gina mengidap kanker otak tersebut?"tanya wartawan tersebut.

__ADS_1


Pak Arya menoleh pada dokter Miranti dan mengangguk memberi isyarat untuk menjawab.


"Perkenalkan nama saya dokter Miranti spesialis kanker. Saya sebagai dokter juga sahabatnya beliau sekaligus besannya sekarang. Karena Salsa putri saya, yang mana sekarang menjadi istrinya Ardi. Untuk mengetahui berapa lama penyakit yang di derita Almarhumah. Belum lama kurang lebih satu bulan lalu, setelah kepergian putrinya. Saat itu mendiang sakit-sakitan dan yang paling sering di rasakan adalah kepala. Dan saya minta mendiang untuk datang dan periksa serakaian tes. Namun di tolak, sehingga di saat kami pergi ke suatu tempat mendiang pingsan. Saat itu saya tanpa ada persetujuan dari siapa pun melakukan tes ke seluruhan. Sambil menunggu hasil pemeriksaan medis, mendiang meminta untuk di rahasiakan sampai ia bisa menemukan Asifa. Saya rasa cukup di sini faham ya."Penjelasan dokter Miranti berakhir.


Kini konferensi pers pun telah selesai dan di tutup. Semua sudah meninggal kediaman keluarga Dinata.


Asifa dan kedua orang tuanya pamit akan pulang ke Jogja.


"Ayah saya pamit ya, takut ketinggalan pesawat."Ujar Asifa.


"Apa kalian akan langsung pulang ke Jogja?"tanya pak Arya.


"Kenapa kalian buru-buru sekali, bagaimana jika opa ingin bertemu sayang?"tanya pak Surya.


"Opa bisa datang dengan Antonio atau Irgi." Jawab Asifa.


Saat pak Surya masih duduk di kursi roda. Sebab baru keluar dari rumah sakit tadi pagi. Saat menantunya meninggal dunia pak Surya tetap di rumah sakit di jaga oleh pengawal pribadi. Yang di tugaskan untuk menjaganya selama tidak ada keluarga.


Asifa tersenyum lalu mengangguk menanggapi ucapan opanya.


"Jika masih ada umur, nanti kalau berkunjung ke toko kue. Kami juga aka1n singgah ke sini pak."Ucap pak Herman pada pak Surya.


"Iya ya benar, kita tidak tahu kapan giliran kita."Ucap pak Surya, dengan senyum mengembang.

__ADS_1


Di sambut dengan senyum pula oleh pak Herman dan yang lainnya.


"Sayang ayah baru ingat kalau ada titipan dari almarhumah ibu. Sebentar ayah ambil dulu, Irgi bisa bantu saya."Lalu beranjak dari duduknya dan berjalan menuju kamarnya.


"Baik tuan besar."Irgi mengikuti pak Arya ke kamar.


"Maaf pa, kalau boleh tahu pesawat lending jam berapa?"tanya Ardi.


"Jam 19:30, ya memang sekarang masih jam 16:45. Kamu tahu sendiri, Jakarta tidak pernah tidak macet."Jawab pak Herman.


"Biar nanti di antar Antonio, Irgi dan Rendra."Ujar Ardi.


"Benar itu yang di katakan Ardi, bila perlu sampai rumah di antara mereka agar aman. Jangan pakai masker dan kaca para menghindari orang pemburu berita. Biar bagaimanapun Asifa dan kamu masih jadi sorotan media sosial."Timpal pak Herman.


Asifa langsung menoleh ke suara roda koper yang di tarik oleh Irgi. Dan pak Surya berjalan di belakangnya dengan map coklat dengan tali merah.


Kemudian duduk di sebelah Asifa, lalu menyodorkan map tersebut dan koper pada Asifa.


"Saya ini ternyata sudah ibu siapkan di kamar. sebelum pergi ke Jogja menemui mu, itu masih tertempel tulisan di sana."Ujar pak Arya , dan menyerahkan map tersebut di tangan Asifa.


Ya di koper tersebut tertempel kertas HVS A4 yang bertuliskan ''untuk putriku Asifa'' sangat jelas.


Di map tersebut juga sama "untuk putriku Asifa" dan ada tanda tangani bu Gina.

__ADS_1


Asifa yang mendapatkan peninggalan ibu angkatnya itu. Menoleh pada kedua orang tuanya, minta pendapat.


*****Bersambung....


__ADS_2