
"Iya juga ya, Asifa lupa kalau kak Taufiq bisa nyetir. Tapi Asifa tidak enak kalau mau nyuruh kak Taufiq." Kata Asifa.
"Tuan, Nyonya."Panggil Andik dan Irgi dari belakang.
"Eh kak Andik, kak Irgi. Jangan lagi panggil dengan embel-embel itu lagi. Kakak bisa panggil nama Asifa saja, karena rasa nya aneh."Kata Asifa, dari dulu ia sering protes jika di panggil nyonya.
"Saya juga tidak usah pakai embel-embel tuan, geli rasanya telinga saya. Kalau tidak salah kalian sepantaran kan sama saya. lebih baik panggil nama saja, akan lebih nyaman."Timpal Fahmi.
"Baiklah, kalau begitu saya panggil nama sebagai sahabat, pada Fah-mi dan Asi-fa. Kalau saya berhenti dari pekerjaan saya jadi pengawal keluarga Dinata. Apa boleh saya bekerja pada Asifa atau Fahmi mungkin?"tanya Andik.
Asifa langsung menatap keduanya, mantan pengawal nya dulu. Memperhatikan tatapan mata memohon pada keduanya.
"Bisa kakak jelaskan alasan mengapa kakak berhenti dari rumah keluarga Dinata. Yang sudah lama jadi tempat mencari rezeki kakak kan?"tanya Asifa, yang ingin tahu apa alasan.
"Sesungguhnya kami nyaman menjadi pengawal mu Dek. Kakak bekerja selama ini karena kamu. Kakak seperti bersama keluarga kakak, tapi saat kamu pergi dari keluarga Dinata. Kakak merasa ada yang hilang, dan tidak nyaman lagi. Boleh ya kami kerja dengan mu?" Andik memohon pada Asifa.
"Iya Asifa, kami tau jika kami tidak akan mendapatkan gaji besar saat kerja dengan mu. Tapi rasa nyaman bekerja itu yang paling penting buat kami. Kalau kakak tidak di rumah tidak apa-apa, di toko kue AZ ZAHRA pun dengan senang hati. Nanti kami akan cari rumah di perumahan ini juga. Biar kita tetanggaan, dan jika di perlukan sewaktu-waktu bisa lebih mudah." Timpal Irgi.
Mendengar jawaban keduanya membuat dada Fahmi sesak, ada rasa cemburu ketika mereka mengatakan nyaman saat bersama Asifa. Dan merasa kehilangan saat Asifa pergi dari rumah keluarga Dinata. Di tambah lagi mendengar panggilan Andik pada Asifa berubah menjadi 'dek' seperti panggilan dirinya pada Asifa. Tapi dirinya tidak rela kehilangan perempuan yang akan ia nikahi ini.
__ADS_1
"Maksudnya nyaman seperti apakah yang kalian maksud?"tanya Fahmi dengan nada tegas, dan tatapan curiga.
Andik dan Irgi tersenyum saat melihat api cemburu di mata Fahmi. Kemudian Andik mengambil dompet di saku celananya. Langsung membuka dan mengambil gambar foto keluarga. Yang sudah sepuluh tahun pergi untuk selama-lamanya. Dan ia berikan kepada Fahmi, agar tidak ada kesalahpahaman di antara mereka.
Fahmi kaget saat melihat gambar foto keluarga tersebut. Tampak seorang perempuan cantik yang begitu mirip dengan perempuan cantik yang ada di depannya ini. Bedanya yang di dalam foto itu memiliki tahi lalat kecil di pelipis nya. Kini ia tahu Andik sangat menyayangi Asifa seperti adiknya sendiri. Tapi ia masih ragu, jika Andik hanya mengganggap Asifa adik saja. Hal itu perlu bukti, jika Andik tidak punya perasaan pada calon istrinya.
"Kamu tenang saja bro, saya sudah punya istri dan anak. Asifa juga tahu, dan saya tidak punya perasaan pada Asifa. Selain rasa sayang ku pada seorang adik perempuan."Jawab Andik pada Fahmi yang masih belum percaya padanya.
"Iya mas, Asifa dulu juga datang ke acara pernikahan dan resepsi pernikahan nya kak Andik."Timpal Asifa dengan senyum lembut pada calon suaminya.
Fahmi melihat senyuman lembut yang di berikan calon istrinya. Seketika merasa lega, lalu di kembalikan foto tersebut pada pemiliknya.
Membuat yang di tatapnya salah tingkah, dan menunduk untuk menyembunyikan rasa malunya. Apa lagi rona kemerahan di wajah ayunya dari ketiga laki-laki yang menatapnya.
"Saya juga tidak bisa menikahi Asifa bro, bagaimana bisa saya bermesraan dengan adik saya sendiri. Tapi kalau kamu membuatnya sakit hati dan bahkan depresi seperti kemarin. Jangan salahkan saya kalau Asifa, saya bawa pergi dan tidak akan bisa di ketahui oleh siapa pun. Meski pun kamu minta bantuan dari Antonio apa lagi tuan besar."Ancam Andik pada Fahmi.
Andik tidak akan membiarkan hal seperti kemarin terjadi lagi. Kalau kemarin pak Arya tidak mau mengikuti kemauan pak Herman. Dia yang akan bertindak, dengan berbicara lebih dulu dengan pak Herman. Untuk membawa Asifa pergi, yang tidak akan ada yang bisa menemukan. Termasuk Antonio dan tuan besar sekali pun.
"Mana mungkin saya menyakiti perempuan. Kalau sampai saya yang perempuan, harusnya saya tidak di selingkuhi dengan mantan. Lagian saya tidak mau kehilangan untuk yang kedua kalinya. Dan saya tidak akan membiarkan kamu membawa perempuan yang sudah mengisi hati saya yang sempat kosong."Ucapnya Fahmi, sambil tersenyum lembut pada calon istrinya.
__ADS_1
Asifa mendengar ucapan Fahmi, tidak berani menoleh atau menatapnya. Wajahnya bersemu kemerahan, di sebut sebagai pengisi kekosongan hati Fahmi. Merasa tersanjung dan berbunga-bunga akan ungkapan Fahmi. Kini tidak ada lagi keraguan di hatinya akan ketulusan Fahmi padanya.
"Dek kalau mau senyum itu jangan di tahan. Kan jadi merah tu pipinya, membuat mas jadi gemes. Astaghfirullah .... "Ucap Fahmi yang sejak tadi tidak berpaling dari Asifa pun, akhirnya memalingkan wajahnya. Karena tidak ingin lepas kendali untuk menyentuh pipi rona Asifa.
Asifa bukannya tersenyum manis pada Fahmi, malah pergi masuk rumah. Karena ia tahu, jika dirinya sudah menjadi penyebab goyahnya iman Fahmi. Dan tidak ingin ada dosa yang lebih besar lagi maka Asifa memilih untuk menjauhi Fahmi dan yang lain.
"Sayang kamu kenapa?"tanya pak Herman saat melihat putrinya masuk dengan wajah memerah bak tomat.
Asifa tidak menjawab namu langsung masuk ke kamarnya. Karena saat ini semua semua mata tertuju pada dirinya. Membuatnya semakin malu, tidak ada pilihan yang tepat selain masuk ke kamarnya.
Sementara yang lain yang masih di dalam ruangan keluarga. Senyum bahagia menyertai mereka, sebab melihat Asifa bisa tersenyum bahagia kembali. Setelah lebih dari sebulan Asifa tampak diam tanpa ekspresi.
Kemudian mata mereka menatap ke tiga laki-laki yang mengikuti Asifa masuk. Namun ke tiganya ikut duduk di ruang keluarga. Termasuk Andik dan Irgi, yang ikut duduk di antara mereka. Hal itu membuat keluarga Dinata menatapnya dengan bingung.
"Apa ada yang kalian sampaikan?"tanya pak Arya, yang menatap keduanya.
Andik menoleh pada Irgi, Irgi pun sama. Kemudian Irgi memberi kode pada Andik, apa pun keputusan nya nanti ia akan ikut.
*****Bersambung......
__ADS_1